Malam itu, Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang sunyi seperti biasanya. Sunyi―bukan berarti tak ada riuh. Diam-diam, dibalik pagar pesantren, di sekitar kolam ikan milik Kiai Chudlori, sedang dirancang sebuah “siasat dekil.” Aktor utamanya: seorang santri bernama Abdurrahman Ad-Dakhil atau yang acapkali dipanggil Gus Dur.
Gus Dur masih remaja saat itu, sekitar 17 tahun. Waktu itu ia sedang mondok di API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang―sebuah pesantren yang diasuh oleh Kiai Chudlori, kiai ternama di Magelang dan sekitarnya. Kiai Chudlori merupakan menantu KH. Dalhar Abdurrahman Watucongol, ulama kharismatik yang makamnya di Gunung Pring diziarahi banyak orang. Gus Dur mondok di Tegalrejo dalam kurun 1956-1958.
Seperti santri yang lain, Gus Dur juga belajar berbagai disiplin ilmu agama seperti fiqh, tafsir, nahwu, sharf, dan hadits. Namun, ada satu hal yang membedakan Gus Dur dengan teman-teman yang lain―rasa ingin tahu yang tinggi serta kenakalan yang dibalut dengan kecerdasan dan sarat akan makna.
Pada suatu malam, Gus Dur mengajak 4 teman sekamarnya melakukan hal di luar kebiasaan; mencuri ikan milik Kiai Khudlori.
“Ayo kita makan ikan malam ini! , ” ajak Gus Dur.
“Ikan dari mana Gus?”
“Kolam Kiai Chudlori”
Teman-temannya terdiam. Mereka tahu, bahwa mencuri di kolam kiai―apapun alasannya―merupakan Pelanggaran yang cukup serius, bisa dikenai takzir oleh pengurus pesantren. Gus Dur berusaha meyakinkan mereka. Dan pada gilirannya teman-temannya percaya. Gus Dur lantas membagi tugas dengan rapi; empat anak masuk ke kolam, menangkap ikan. Sementara ia akan mengawasi apabila sewaktu-waktu Kiai nanti keluar. “Kalau kiai keluar, nanti saya akan memberi aba-aba,” ujar Gus Dur.
Dan, mereka setuju dan patuh dengan ajakan dan strategi Gus Dur. Ketika suasana pesantren sepi, bulan berada diposisi titik nadir sehingga malu untuk bersinar―empat orang santri segera melakukan aksinya. Air kolam beriak pelan-pelan, terbelah oleh tangan empat remaja yang tengah lapar, penuh semangat, dan sedikit menyimpan rasa bersalah.
Tengah-tengah asyik mengambil ikan, apa yang mereka khawatirkan terjadi. Tiba-tiba saja pintu rumah Kiai terbuka. Kiai Chudlori keluar dari rumah. Seperti pada umumnya kiai zaman silam, menjelang tengah malam beliau selalu ke langgar pondok untuk melaksanakan shalat Tahajjud. Kolam ikan adalah jalur yang pasti dilewatinya. Suara berisik bakiak Kiai Chudlori membuat santri-santri itu semakin panik. Tanpa pikir panjang mereka segera meloncat, keluar dari kolam―lari pontang-panting. Alih-alih lari, Gus Dur malah keluar dari persembunyiannya―menuju kolam ikan. Ia memegangi ember yang berisi ikan-ikan hasil curian teman-temannya.
“Loh njenengan to Gus?” sapa Kiai Chudlori ketika sudah dekat. Meski sudah menjadi kiai besar, Kiai Chudlori tetap menaruh hormat terhadap Gus Dur, murid sekaligus salah satu cucu gurunya―Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Semasa muda, Kiai Chudlori pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.
“Inggih kiai,” (Iya Kiai)
“Lanopo dalu-dalu ngeteniki gus?” (Lagi ngapain malam-malam begini Gus)
Dengan wajah polos, lugu, Gus Dur menjawab, “Tadi ada beberapa santri mau mencuri ikan panjenengan. Tapi saya berusaha mencegah. Ini ikan-ikannya sudah saya amankan sebagai barang bukti.”
Diam. Sunyi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari Kiai Chudlori.
Sejurus kemudian Kiai Chudlori berkata, “Kalau begitu ikannya buat kamu saja.”
Mendengar ucapan Kiai Chudlori, wajah Gus Dur seketika berbunga-bunga. Sejurus kemudian ia membawa ember berisi ikan-ikan itu ke tempat teman-temannya.
-0-
Malam itu, di kamar kecil pesantren Tegalrejo, Gus Dur menyantap ikan bersama teman-temannya. Aura kebahagiaan tampak dari gurat-gurat wajah mereka. Di sela-sela kunyahan, terdapat caci maki dan gurauan kecil.
“Gus, kamu bilang kau cegah pencuri, padahal kau sendiri yang merencanakan semuanya!” celetuk salah satu temannya.
Gus Dur tertawa, tanpa rasa bersalah. “Wong awakmu yo melu mangan iwak e. Lagian, iwak e saiki wis halal wong uwis entuk izin soko kiai” (Kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan curian tersebut sudah halal, karena telah mendapat izin dari kiai) jawab Gus Dur dengan enteng. “Bukankah dalam hidup yang paling penting adalah hasil akhirnya yang baik?” lanjut Gus Dur seolah-olah mengutip Machiavelli dengan cara lebih Islami: tujuan memaafkan proses.
-0-
Dus, kisah ini merupakan alegori tentang kuasa, etika, dan sikap welas asih yang membingkai sebuah hukum. Kata Gus Yusuf Chudlori―putra Kiai Chudlori, kisah ini merupakan metafora sederhana dari sebuah proses politik; gaduh dan penuh gejolak dalam proses, tapi tujuannya adalah kemaslahatan. Karena, terkadang―garis antara benar dan salah bisa ditawar dengan niat baik, kecerdasan, dan sedikit humor.
Begitulah dunia Gus Dur muda―dunia yang lebih dekat dengan rasa dan tafsir, bukan sekadar hukum-hukum yang kaku―tidak fleksibel. Meski demikian, cara Gus Dur tersebut tidak perlu untuk ditiru dalam praktiknya. Yang lebih krusial adalah mengambil substansi dan esensinya: berani menghadapi kesalahan, mengambil resiko, dan tahu cara bertanggung jawab. Lebih dari Itu, mampu mengubah situasi dengan cerdas dan hati yang lapang.
Alhasil, seperti ikan curian Gus Dur berikut teman-temannya yang sedemikian rupa menjadi halal, demikian pula dengan hidup. Ia bukan tentang selalu benar dari awal, tapi bagaimana kita mengolah setiap momen―yang mungkin bisa salah dan penuh dengan konflik―menjadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar.
Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada permulaan (QS Ad-Dhuha: 4).
Wallahu a’lam.








