Mari bermain tebak-tebakan. Apa hal yang disukai orang-orang kendati sebenarnya begitu menyiksa? Cabai? Tentu saja. Sebab, meski pedasnya bukan main, tetap saja banyak yang mencarinya dan di pasaran harganya kian bersaing.
Barangkali saya akan memberikan dua jempol untuk orang yang menjawab seperti itu. Dan akan mendoakannya agar bisa menikmatinya selagi bisa (kau tahu, beberapa orang yang bermasalah dengan organ pencernaan tidak dapat seleluasa itu dan, untuk itu bersyukurlah atas karunia tersebut).
Tetapi, siapapun yang kadung bersenang hati, saya mohon maaf. Sebab, saya hanya akan menghadiahi empat jempol, seutas senyum, dan sekarung pujian bagi yang menjawab hantu.
Dalam rentetan lebih panjang, orang-orang suka sekali dengan hantu. Mata mereka akan terbelalak lebih luas, atensi orang-orang itu akan lebih peka daripada biasanya, dan ada aura seperti “mendengarkan” manakala satu di antaranya menceritakan kejadian berbau mistis.
Saya belum meneliti secara jauh atas perhatian yang besar itu, misalnya mengapa hantu, meskipun benar-benar menjadi parasite atas sikap berani, tetap digandrungi atas ceritanya.
Dan mengapa pula, semakin mendebarkan kisah-kisah di dalamnya, membuat berbagai pasang mata rela menontonya di bioskop, dan tentu saja membayar untuk tiket masuk gedungnya.
**
Belakangan saya tertegun oleh utas di Twitter dari akun @SimpleM81378523 tertanggal 24 Juni 2019 tentang KKN di Desa Penari. Utas itu begitu ramai dan memperoleh perhatian besar.
Bahkan sampai sore tadi, mampu menghasilkan 3.671 reply, 22.3 ribu retweet, dan 56.2 ribu likes. Sampai-sampai mampu bertengger di jajaran teratas percakapan di Twitter.
Atas dasar penasaran, saya kemudian membacanya. Menyaksikan adegan dari tuturan akun anonim tersebut. Saya merasakan aliran rasa takut setiap membaca deretan hurufnya, yang anehnya lagi, semakin saya ngeri, justru semakin memaksa saya untuk menuntaskannya.
Kisah itu tentang anak-anak kuliah yang menjalani KKN di salah satu kota di Jawa Timur. Mereka harus berurusan dengan mahluk halus, sampai-sampai mengakibatkan dua personelnya meninggal dunia. Penyebabnya, keduanya telah melanggar aturan di desa tersebut.
Itu semakin ngeri-ngeri sedap, ketika mas anonim mengatakan bahwa kejadian itu berdasarkan kisah nyata.
Atas dasar itu, saya berasumsi, mungkin kejadian mistis memang telah melekat di ranah kebudayaan kita. Meski mungkin secara ilmiah, yang entah saya belum mengerti, belum benar-benar diketahui.
**
Mari berlayar ke tahun 2009. Tahun itu menjadi tahun yang mendebarkan buat saya. Saya berada dalam masa-masa menjelang Ujian Nasional tingkat MTs. Dan untuk menunjang kesiapan saya dan teman-teman, pihak sekolah menyediakan les malam Jumat.
Aturan mainnya, kami diminta datang ke sekolah menjelang Magrib. Lalu setelah salat, seorang guru bertugas mengulas pelajaran kami. Bahkan mulai dari yang mendasar sekalipun.
Namun, alih-alih akan fokus pada dunia belajar itu, kami justru menikmati prosesi setelah les berakhir. Saya teringat, kami berkumpul di aula. Salah satu teman kami menyalakan radio di ponsel yang telah terhubung headset.
“Sampai jumpa kembali dalam acara Jimat, Sajian Malam Jumat,” kata penyiar radio dengan suara berat saat membuka acara.
Itu adalah rangkuman orang-orang yang berkonsultasi tentang hal-hal mistis dan kejadian ghaib lainnya. Yang dengan anggukan kepala berkali-kali, harus saya akui telah mampu menggeser kenangan belajar menjelang Unas, menjadi memori cerita-cerita hantu.
Lagi-lagi, hantu telah menjelma seperti lem kayu. Ia melekatkan manusia —dalam konteks tersebut adalah saya— kepada sisi-sisi tak kasat mata. Dan dengan keajaibannya, telah mampu menjadikan saya menuliskannya. Persis di malam Jumat ini.
Itu alasan kata “menghantui” kerap dijadikan istilah saat seseorang tengah jatuh cinta. Wajah si dia selalu menghantuimu. Kenapa tak memakai kata “memalaikati”? Wajah si dia memalaikatimu, misalnya. Mungkin hantu jauh lebih membikin penasaran. Mungkin lho ya.
**
Hantu-hantu memang selalu menarik. Daya ngerinya yang besar, mampu mendorong orang-orang lebih berani. Entah berani berteriak, berani melawan, atau berani menceritakan.
Dan yang sepatutnya menjadi renungan untuk kita semua sebenarnya, mengapa hantu-hantu di dunia nyata tidak mejadikan kita seperti itu? Mengapa dengan pemerkosa, bandit-bandit ber-rompi oranye di kantor KPK, pelaku rasis terhadap sesama manusia, tidak membuat kita juga terpacu untuk berani melakukan sesuatu?
Ah, mungkin, sekali lagi mungkin, kita tengah berada di fase pertama: begitu takut pada hantu. Sebelum bereaksi untuk mengalami fase kedua: melawan. *








