Rasa kecewa serupa alkohol dalam tubuh. Ia mempertebal keberanian dan memperkuat tekad, namun menimbun karat dan memicu keropos yang merusak diri sendiri.
/1
Di usia SMP, andai saya mau menghitung, jumlah kegagalan yang saya alami melebihi jumlah usia saya. Dari kegagalan kecil hingga besar; gagal meyakinkan orang lain hingga gagal menjadi siswa yang rajin.
Gagal jadi pemain bola profesional, gagal melanjutkan belajar di tempat pilihan, hingga gagal menyatakan cinta meski sudah berhari-hari –secara rutin– melakukan latihan.
Sama sepertimu. Saya juga benci kegagalan. Di usia itu, saya akan malas bangun pagi jika sehari sebelumnya, ada kegagalan yang sempat saya alami. Barangkali saya takut ditemui kegagalan lagi.
/2
Saya mengenal kecewa sejak saya punya banyak cita-cita. Di usia SMA, kekecewaan seringkali menemui saya. Saat sedang produktif memproduksi cita-cita, misalnya, tiba-tiba realita datang bersama rasa kecewa.
Saya merasa, rajin menanam harapan membuat saya produktif ngunduh kekecewaan. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya dan berharap pangkal kecewa. Adagium itu sempat saya rasakan.
Sama sepertimu. Saya juga benci dengan kekecewaan. Di usia itu, saya akan malas tidur malam hari jika hari itu, ada rasa kecewa yang sempat saya alami. Mungkin saya takut mimpi ketemu makhluk gaib bernama kekecewaan.
/3
Saya sering mengalami jatuh. Hingga di sekujur kaki saya, banyak sekali bekas luka. Saat main bola atau saat memanjat dinding sekolah untuk membolos, misalnya, kadang menyisakan luka di bagian tangan atau kaki saya.
Tapi saking seringnya saya jatuh dan terluka, luka-luka itu seperti tak terasa. Semacam tak ada waktu untuk merasakannya. Tahu-tahu ada memar kelabu di lutut saya. Anehnya, dari luka-luka itu, tak ada yang memicu trauma.
Di usia itu pula, saya baru tahu jika jatuh tak hanya perkara fisik. Tapi juga mental. Jatuh cinta bertepuk sebelah tangan atau jatuh cinta sendirian atau cinta yang dikhianati adalah contoh di antaranya. Dan sialnya, luka jenis itu yang membikin saya mengenal trauma.
Bagi saya, terpukul secara fisik bisa sembuh dalam waktu cepat. Tapi saat digorok pengkhianatan dan ditekling ketidaksetiaan, memar lukanya mengendap lama hingga memicu infeksi. Ini sempat mengubah perangai saya akan hidup.
Saya sempat trauma dengan perjanjian. Takut dengan kesepakatan. Menghindari jatuh cinta dan benci menaruh rasa percaya pada orang lain. Untuk menutupi itu semua, saya malas ke sekolah.
Kalaupun berangkat ke sekolah, harus ada keributan yang saya bikin. Saya sering berantem dan berbuat ulah, bukan karena saya punya bakat berbuat jahat. Tapi demi menutupi rasa trauma akan sakit hati dan kecewa.
Mereka yang kecewa punya keberanian 15 kali lipat dibanding mereka yang tak sedang kecewa. Sebab rasa kecewa serupa alkohol dalam tubuh. Ia mempertebal keberanian dan memperkuat tekad, namun menimbun karat dan memicu keropos yang merusak bagian dalam.
/4
Saya menyadari bahwa masalah utama bukan pada orang lain. Tapi pada diri saya sendiri. Saya yang berharap, saya yang kecewa. Dan saat kecewa mendera, kenapa saya malah telaten merawatnya? Harusnya saya lepas.
Iya, saya tak mau membiarkan tubuh saya keropos hanya karena memelihara rasa kecewa. Saya melepasnya. Saya merelakan segalanya. Dan saya— berupaya mati-matian— untuk memaafkan semuanya.
Saya menyadari satu hal penting bahwa kegagalan dan kekecewaan dan luka yang memicu trauma, memang harus sempat dirasakan oleh manusia. Namun tak boleh dipelihara.
Kegagalan dan kekecewaan dan luka yang memicu trauma memang tak menyenangkan. Serupa cat tembok, ia mengubah warna perangai manusia. Yang sebelumya periang jadi pemurung. Yang sebelumnya pendiam jadi sering mencari perkara.
/5
Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya. Dan berharap pangkal kecewa. Tapi, benarkah berharap pangkal kecewa? Kecewa memang lahir dari harapan. Lebih tepatnya, harapan yang prematur dan tidak matang.
Kecewa lahir dari harapan yang tidak matang. Harapan yang matang, konon, tidak akan melahirkan rasa kecewa. Sebab, ia menerima apapun hasil dari yang diharapkan. Terlepas sesuai maupun tak sesuai dengan kenyataan.
/6
Selama masih manusia, saya kira, tak ada yang ingin terluka. Apalagi kecewa. Saya percaya jika semua orang ingin baik-baik saja. Tak ingin melukai dan tak ingin dilukai. Jika di tengah perjalanan ada yang terluka, tentu itu sebuah kecelakaan.
Bukankah kecelakaan adalah enigma yang sulit diterka?
Gagal maupun kecewa, semacam obat penyembuh lara. Ia terasa pahit. Tapi menyembuhkan. Itu alasan kenapa obat dari dokter sering terasa pahit. Sebab, tanpa mengenal pahitnya gagal dan kecewa, kebijaksanaan kita terhadap hidup juga sulit menjadi dewasa.








