Matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang susah dan menakutkan. Padahal, banyak hal positif yang bisa diambil jika belajar matematika dengan cara yang tepat dan menyenangkan.
Dalang nyentrik Indonesia, Sudjiwo Tedjo berbicara tentang matematika. Sebuah mata pelajaran horor bagi siswa siswi bangku sekolah. Itu saat dia menjadi pembicara dalam sebuah seminar. Tepatnya pada 9 Oktober 2011 di Bandung.
Yang menarik, Presiden Jancuker itu seolah merobohkan stigma. Khususnya terhadap matematika. Dia mengungkapkan bahwa selama ini matematika diajarkan dengan cara yang salah.
“Problemnya, begitu kita dengar matematika, kita selalu kebayang itung-itungan. Padahal matematika bukan buat itu. Matematika tentang konsistensi logika kita,”
Misalnya melihat sebuah kemacetan. Seolah semrawut, tapi ternyata ada polanya. Tentu dengan logika berpikir secara matematis. Dengan begitu, akan muncul konsep himpunan untuk penyelesaian masalah.
“Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terpola. Itulah kemampuan matematika yang harus ditanamkan,” kata seniman tersebut.
Menurut Sudjiwo Tedjo, matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum. Buktinya, banyak orang Indonesia nilai matematikanya rendah. Terdapat pula yang nilainya bagus, tapi ketika lulus masih bingung bekerja. Matematika yang salah diajarkan, membuat stigma bahwa itu hanyalah hitung-hitungan.
Konsep yang salah tersebut menyebabkan manusia dinilai pada deret angka. Toh, mereka hanya butuh nilai bagus untuk mendapat pekerjaan. Maksudnya, itu belum menjawab permasalahan yang dihadapi. Padahal, kemampuan penyelesaian masalah (problem solving) sangat dibutuhkan. Baik diri sendiri maupun perusahaan.
Adanya Nadiem Makarim di Kabinet Indonesia Maju bisa dibilang angin segar. Khususnya bagi dunia pendidikan lima tahun mendatang. Sesuai dengan jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ini karena pengalaman Nadiem yang sukses membangun perusahaan start up.
Perusahaan ojek online tersebut merupakan produk matematis. Hasil kemampuan berpikir yang orientasinya problem solving. Bagaimana tidak, perusahaan ojek online yang dia tinggalkan tersebut telah sukses.
Ojek online tersebut digandrungi masyarakat. Itu karena Nadiem berhasil memberikan solusi kepada masyarakat. Tentu terkait masalah kemacetan ibu kota dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Buktinya, start up tersebut berkembang ke beberapa wilayah. Fitur dan layanan semakin banyak.
Problem solving soft skill tersebut harus ditularkan. Bahkan, harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Tentu sejak usia dini atau sekolah dasar. Diharapkan, para siswa mampu memahami dan mengatasi masalah. Baik yang dihadapi maupun yang terjadi pada lingkungan. Bukan sekadar mampu menjawab soal di lembar jawaban.
Nadiem Makarim terpanggil Presiden RI, Joko Widodo sehari pasca pelantikan. Nadiem pun masuk ke dalam jajaran Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi periode 2019-2024. Dia pun berpangkat sebagai Menteri Pendidkan dan Kebudayaan RI. Semenjak pelantikan, Nadiem pun menjadi menteri Kabinet Indonesia Maju termuda.
“Mari kita berpikir matematik. Matematika tidak sebagai itung-itungan. Matematika sebagai bahasa karena itu mempengaruhi logika,” pungkas Sudjiwo Tedjo menutup waktunya sebagai pemateri seminar.
Soft skill ini tentu harus dilatih dengan baik sejak dini. Sehingga, permasalahan di masa mendatang lebih diantisipasi. Tidak seperti saat ini. Banyak orang bingung mencari pekerjaan setelah lulus sekolah. Belum lagi beban kehidupan yang butuh solusi cepat untuk diatasi.








