Idealisme masa perjaka ternyata utopia semata. Idealisme yang sekadar membius orang-orang yang tak punya beban hidup keluarga.
Awal tahun ini, sebelum ada pandemi, temanku dari Jakarta datang ke Bojonegoro. Temanku ini mendapat tugas dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang energi. Kami berteman sekelas sejak kelas dua SMA di Yogya tahun 2002 dan berlanjut di prodi dan kampus yang sama, selepas SMA.
“Wah aku gak menyangka di Bojonegoro ada hotel bintang yang benar-benar berbintang,” kata temanku dengan tertawa. Sialan. “Eh, di Bojonegoro ada ojek online gak, sih?” katanya kemudian. Sialan kedua. “ADA,” jawabku.
Sejak SMA, waktu kami kenalan, temanku tidak tahu, Bojonegoro itu sebelah mananya Selandia Baru. Tidak hanya temanku ini, sebagian besar temanku juga baru tahu ada daerah bernama Bojonegoro setelah berkenalan denganku.
Seperti tren kiwari, setiap ada kesempatan bertemu teman lama, agenda meet-up selalu menjadi agenda unggulan di sela-sela pekerjaan. “Eh, besok kita meet-up ya, sekalian kita ajak Si Adam,” ajak temanku.
Si Adam ini teman seprodi kami. “Oke,” jawabku. “Aku juga belum pernah ketemu Si Adam, biasanya cuma saling mensyen dan banter di Twitter Liverpool vs MU. Kalau MU kalah, aku dicariin Si Adam karena sembunyi di goa.”
Sebagai sesama laki-laki yang telah berkeluarga dan memiliki anak, obrolan utama ya tentu seputar keluarga, pendidikan anak, dan yang paling menarik soal hubungan menikah jarak jauh.
Kedua temanku ini kebetulan pernah terpisah jarak dengan anak dan istrinya dikarenakan pekerjaan. Pekerjaan di perusahaan minyak, menjadi sebab Si Adam ini tinggal di Bojonegoro. Pada awalnya dia terpisah jarak dengan keluarganya yang di Jakarta.
“Awalnya kan mikirnya di Jakarta pendidikan dan kesehatan lebih bagus fasilitas dan kualitasnya. Namun kalau lama-lama ya gimana ya jauh dengan anak istri. Jadinya sekarang sekeluarga tinggal di Bojonegoro. Anak sulung sekolah di Bojonegoro.”
Temanku satunya juga sama. Sempat ditempatkan di sebuah kota di Sumatera, sebelum pindah ke Jakarta, dia beberapa tahun terpisah dengan anak istri. Hanya saat liburan bisa berkumpul dengan keluarga. “Ya sabar menjalani sambil menunggu kalau ada kesempatan mengajukan pindah kantor. Alhamdulillah sekarang bisa berkumpul keluarga.”
Cerita-cerita temanku ini mengingatkanku pada apa yang ditulis A.A Navis dalam cerpen Jodoh. “Dan idealisme masa perjaka ternyata suatu utopia semata, yaitu idealisme yang membius orang-orang yang tidak punya beban hidup keluarga,” katanya.
“Idealisme seorang laki-laki yang telah menjadi suami dan menjadi seorang ayah, ialah idealisme yang abadi,” lanjut A.A. Navis, “yakni bagaimana caranya membahagiakan istri dan anak-anak.”
Pekerjaan dan keluarga adalah bagian yang menjadi ciri laki-laki. Memperoleh pekerjaan dan memiliki predikat bekerja, apa pun jenis pekerjaannya, adalah kebanggaan bagi laki-laki. Pada ujungnya, hasil pekerjaan itu diperuntukkan untuk keluarga, anak dan istri. Pekerjaan dan keluarga menjadi tak terpisahkan.
Aku teringat, dulu saat berkenalan dengan calon istri, ada satu hal yang kuutarakan: jika jadi menikah, mau atau tidak tinggal di Bojonegoro? Untungnya mau dan jadi menikah. “Aku juga baru tahu ada daerah bernama Bojonegoro. Kalau Tuban aku tahu,” kata istriku setelah beberapa bulan menikah. Sialan ketiga.








