Tentang kebiasaan, amygdala, kaizen dan betapa niat baik rentan akan kegagalan.
Seandainya kebiasaan-kebiasaan buruk dapat dilombakan, tanpa ragu saya akan mengusulkan prestasi yang selama ini saya miliki: takut untuk berubah. Kebiasaan itu sedemikian melekat pada diri, hingga dengan itu saya cukup optimistis akan mendapatkan peringkat satu dan sebuah piala yang besar.
Seringkali, saya merasa kondisi itu biasa saja. Toh, setiap tahun saya membuat resolusi menggebu dan menuliskannya di kertas atau catatan.
Biasanya daftar urutan pertama rencana tersebut kerap saya isi dengan target yang terdengar begitu memukau. Misal saja, khatam membaca 100 buku selama satu tahun, berkelana ke seluruh kota/kabupaten di Jawa Timur sepanjang tahun 2019, atau membeli laptop spesifikasi gaming di bulan Oktober.
Namun, dengan cita-cita yang amat “besar” itu, justru seringkali otak dalam kepala membunyikan nasehat untuk saya: “Ah apa kamu bisa? 100 buku itu tak sedikit, berkelana ke seluruh kota itu butuh biaya dan waktu yang besar, dan beli laptop sedemikian mahal itu apa uangmu cukup? Coba pikir ulang!”.
Akhirnya beragam alasan lalu hinggap, dan coba tebak: ya, tentu saja saya gagal, menyesal, dan tak lupa mengutuki diri sendiri.
Pelan-pelan siklus itu terus berulang. Kadang-kadang itu mengganggu dan mengakibatkan pandangan saya sempit. Seolah, setiap apapun yang hendak direncakan akan selalu berbanding lurus dengan istilah “kegagalan”.
Dalam kanal Youtubenya, dr. Jiemi Ardian, psikiater yang sehari-hari bertugas di RS. Siloam Hospitals Bogor menyebut kondisi itu adalah hal yang biasa dialami oleh siapa saja. Penyebabnya adalah organ alami yang ada di otak kita. Ia bernama amygdala.
Kata dr. Jiemi, amygdala berperan seperti sensor alami yang tak segan akan membunyikan alarm waspada manakala ada hal yang dirasa baru atau asing dari kelaziman sehari-hari. Dan alarm itu menyebabkan manusia melahirkan tiga respon: freeze (terdiam), fight (melawan), dan flight (berlari).
Namun ilmuwan lain ada yang berpendapat jika respon tersebut cukup terbagi menjadi dua saja, yaitu fight dan freeze.
Respon itulah yang menjadi pemicu mengapa kita kerap gagal dalam mengubah kebiasaan. Contoh umumnya adalah jika kita membuat rencana baru dan terkesan “besar”. Seperti akan rutin berolah raga di pagi hari, misalnya.
Nah, karena hari-hari sebelumya kita tak pernah berolah raga, sensor amygdala dalam kepala kita berbunyi dan meneriakkan nasehat: apa tidak berat? Olah raga itu membuat tubuh capai, toh merebahkan diri di kasur juga tak terlalu buruk.
Imbas dari kata pikiran itu, kita lantas berpikir ulang dan meresponnya dalam freeze (diam). Itulah yang akhirnya menjadikan kita tak bisa bergerak untuk membuat kebiasaan baru.
Melawan dengan kaizen
Masih menurut dr. Jiemi, alternatif terbaik yang bisa dilakukan dengan kondisi demikian adalah kaizen. Yaitu sebuah mekanisme membuat perubahan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Permisalan konkretnya yaitu alih-alih kita bilang akan berolah raga tiap pagi hari, coba meniatkan dengan “berlari lebih cepat selama 10 detik setelah bangun tidur”. Dengan cara itu, otak kita akan menganggap aktivitas itu sebagai sesuatu yang remeh dan tak membahayakan.
“Ah, cuma kaya gitu, cemen, pasti bisa banget lah!” demikian kata pikiran di kepala. Tepat sekali. Justru, itulah gagasan yang memang diupayakan oleh metode kaizen.
Dengan menantang otak untuk melakukan perubahan sepele, kita bisa melakukan action perubahan secara langsung. Sebab, hal itu tidak membunyikan sensor amygdala, dan itu menjadikan kita tentram untuk bergerak.
Jika itu terjadi, lantas tugas selanjutnya adalah dengan menjadikan perubahan kecil itu dapat dilakukan terus menerus. Lalu pada saatnya ketika kita telah menganggap hal itu sebagai tindakan yang biasa, kita bisa menambah sedikit beban pada rencana tersebut. Seperti berlari lebih cepat selama 20 detik.
**
Kebiasaan-kebiasaan buruk, sekali waktu memang perlu dilawan. Sebab ia rentan menghancurkan macam-macam niat baik dan membuatnya jatuh ke jurang kegagalan. Kita, tentu saja tak mau itu terjadi. Dan satu cara terbaik yang baru saja kita pelajari bersama adalah: mari mencobanya.








