Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan

Redaksi by Redaksi
09/01/2026
in Redaksi
‎Identitas Kultural dalam Pembangunan Taman Perbatasan

Identitas Kultural Bojonegoro

‎Rencana Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk bangun 5 taman perbatasan, sepatutnya prioritaskan keluhuran masa silam sebagai pondasi identitas kultural. 
‎
‎Upaya Pemkab Bojonegoro menata kota dengan tetap memperhatikan sisi ekologis, tentu patut diapresiasi. Pemkab berencana bangun 5 taman perbatasan yang berfungsi sebagai wajah baru, sekaligus ruang terbuka hijau (RTH) di titik-titik strategis. Lokasi taman ini, berada di daerah berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga.

‎Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono menyampaikan, pembangunan taman perbatasan ini merupakan upaya membangun  jati diri dan identitas luhur kawasan. Pembangunan lima taman perbatasan ini berkait dengan menambah luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menjaga keseimbangan ekosistem seperti penanaman pohon, dan mempercantik pintu masuk (gate) kabupaten agar lebih ikonik dan representatif.
‎
‎”Taman-taman ini adalah simbol kebanggaan kita bersama, sekaligus bukti bahwa pembangunan di Bojonegoro dilakukan secara merata hingga ke pelosok perbatasan,” ujar Setyo Wahono.
‎
‎Dengan kehadiran 5 taman perbatasan ini, Bojonegoro diharapkan tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil migas, tapi juga kabupaten yang peduli terhadap lingkungan dan identitas luhur kawasan. Adapun 5 Taman Perbatasan Bojonegoro tersebut adalah; Gondang – Nganjuk, Margomulyo – Ngawi, Kedungadem – Lamongan, Baureno – Babat, dan Padangan – Cepu.

‎Identitas Kultural

‎Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun),  dalam sebuah forum, secara tegas mengatakan, Bojonegoro adalah wilayah berperadaban tua. Bahkan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri pun, kata Cak Nun, Bojonegoro sudah dikenal sebagai kawasan berperadaban tinggi yang didukung sumber daya alam (SDA) mumpuni meliputi sungai Bengawan, perbukitan Kapur Kendeng, pohon jati, hingga minyak bumi.
‎
‎Ucapan Cak Nun tentu terbukti secara ilmiah. Raffles dalam Map of Java (1817) menyebut kawasan Bojonegoro sebagai bagian penting dari The Ruins of Medang Kamulan. Bojonegoro dicatat dalam Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) sebagai bukti kejayaan peradaban Perahu Bengawan. Prasasti Maribong (1246 M), wilayah ini ditasbihkan sebagai Bhinnasrantaloka — tanah penyatu Jawa.

‎Kebesaran Bojonegoro bukan sekadar dongeng. Namun fakta yang tergurat abadi pada keberadaan sumber daya alamnya. Karena itu, sudah sepatutnya Pemkab Bojonegoro berani berkreasi dalam memunculkan kebesaran tersebut,  melalui berbagai simbol yang mudah dipahami generasi hari ini.
‎
‎Pembuatan taman perbatasan tak boleh diniati sekadar membangun gapura. Tapi momen untuk menunjukan nilai-nilai luhur masa silam. Dalam hal ini, kebesaran peradaban Perahu Bengawan. Sehingga, Bojonegoro tak hanya dikenal dalam hal dampak banjirnya saja. Tapi juga keahlian masyarakatnya dalam mengelola dan beradaptasi dengan alam. Khususnya sungai Bengawan.
‎
‎Selain memiliki kebesaran di ranah sungai Bengawan, Bojonegoro juga tercatat memiliki berkah alam berupa perbukitan kapur Kendeng yang maha luas. Di hamparan bukit kapur inilah, terdapat pohon jati dan minyak bumi, dua entitas endemik Bojonegoro yang punya dampak besar hingga hari ini.

Keberadaan bukit kapur Kendeng ini cukup monumental bagi Bojonegoro. Sebab, puncak Pegunungan Kendeng Jawa, berada di wilayah Bojonegoro. Yakni Puncak Pugawat Pandan, satu-satunya Gunung Berapi yang berada di jalur lintasan perbukitan Kendeng Jawa.
‎
‎Rencana pembangunan taman perbatasan, adalah momentum penting untuk kembali menunjukan identitas luhur Bojonegoro sebagai tempat strategis di Pulau Jawa. Khususnya sebagai kawasan yang memiliki jejak peradaban Bengawan dan puncak Kendeng Pugawat Pandan — dua hal yang selama ini seperti dipisahkan dari Bojonegoro. Dan ini adalah momen untuk kembali memunculkannya.
‎
‎1. Perbatasan Gondang-Nganjuk

Kecamatan Gondang Kabupaten Bojonegoro, merupakan perbatasan di sisi selatan Kabupaten Bojonegoro. Secara geografis, Kecamatan Gondang berada di dalam ekosistem pegunungan kapur Kendeng. Lokasinya berada tak jauh dari Pugawat Pandan —- puncak tertinggi Pegunungan Kendeng Jawa. Pembuatan taman perbatasan di Kecamatan Gondang, sudah sepatutnya mengakomodir identitas kultural dari kawasan itu. Khususnya Pugawat Pandan beserta sejumlah kearifan lokal setempat.
‎
‎2. Perbatasan Margomulyo-Ngawi

Margomulyo merupakan kecamatan berada di sisi barat daya Bojonegoro. Berbatasan langsung dengan Ngawi. Kawasan Margomulyo ini, masyhur sebagai lokasi pohon jati. Pada 1810 M, pelancong Belanda bernama Pieter Engelhard mencatat kawasan Margomulyo ini sebagai tanah yang dipenuhi pohon jati raksasa. Pembuatan taman di Kecamatan Margomulyo, sudah sepatutnya mengakomodir identitas kultural dari kawasan itu. Khususnya Pohon Jati Alam beserta sejumlah kearifan lokal setempat.
‎
‎3. Perbatasan Kedungadem-Lamongan

Kecamatan Kedungadem berada di sisi timur selatan Bojonegoro. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan. Kawasan ini identik penghasil Bawang Merah. Di kawasan ini juga terdapat lokasi bernama Kesongo, yang masyhur akan peradaban kunonya. Pembuatan taman di Kecamatan Kedungadem, sudah sepatutnya mengakomodir identitas kultural beserta sejumlah kearifan lokal berada di sana.

4. Perbatasan Baureno-Babat

Kecamatan Baureno berada di sisi timur utara Kabupaten Bojonegoro. Kecamatan Baureno cukup banyak sisa bangunan peradaban kolonial. Kawasan identik bukit kapur Kendeng ini, dikenal sebagai wilayah penghasil tembakau. Pembuatan taman di Kecamatan Baureno, sudah sepatutnya mengakomodir identitas kultural beserta sejumlah kearifan lokal berada di sana.

‎5. Perbatasan Padangan-Cepu

Kecamatan Padangan berada di sisi barat Bojonegoro. Tempat ini tak hanya menjadi batas kabupaten, tapi juga batas provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Padangan identik kota perahu dan literatur kuno. Di tempat ini, cukup banyak ditemukan kitab-kitab kuno. Pembuatan taman di Kecamatan Padangan, sudah sepatutnya mengakomodir identitas kultural beserta sejumlah kearifan lokal berada di sana.

Pembangunan taman perbatasan menjadi momen penting untuk menunjukan identitas luhur sebuah kawasan. Karena itu, Rencana Pemkab Bojonegoro bangun 5 taman perbatasan, sepatutnya prioritaskan kearifan lokal dan keluhuran masa silam sebagai pondasi identitas kultural.
‎

Tags: Identitas BojonegoroMakin Tahu IndonesiaPembuatan Taman Perbatasan
Previous Post

Hari Terakhir Sang Pembawa Damai: al Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Next Post

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

BERITA MENARIK LAINNYA

Ekuilibrium Jurnaba dan Wekasan 2025
Redaksi

Ekuilibrium Jurnaba dan Wekasan 2025

31/12/2025
Ringin Catur, Konsep Ekologis Kuno di Kota Bojonegoro
Redaksi

Ringin Catur, Konsep Ekologis Kuno di Kota Bojonegoro

29/12/2025
‎Kalam Iklim: Memahami Napas Bumi
Redaksi

‎Kalam Iklim: Memahami Napas Bumi

21/12/2025

Anyar Nabs

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
Fermentasi Keadilan

Fermentasi Keadilan

10/01/2026
Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

09/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: