Hampir segalanya punya warna, lantas bagaimana menamai sisi yang tak disinari oleh cahaya?
Sejak anak-anak, kita dikenalkan dengan ragam warna. Kita diajarkan untuk membedakan warna merah dan warna kuning, atau warna hijau dengan warna biru, dan juga warna-warna lainnya.
Dari situ kita kemudian bisa berpantun, “Roses are red, violets are blue. Don’t be sad, i’ve always love you.” Eaaaaa
Tapi, Nabs, bagaimana dengan hitam dan putih?
Nabsky, hitam dan putih bukanlah warna. Setidaknya sejauh ingatan saya ketika belajar sains dulu, hitam adalah ketiadaan warna, sedang putih adalah perpaduan dari keseluruhan warna yang ada. Wah, apa kemudian kita telah salah selama ini? Tidak juga sih, Nabs.
Hitam mulanya memang bukan warna, Nabs. Hitam, seperti yang sudah saya tuliskan di atas, adalah ketiadaan cahaya, sedang warna sendiri adalah pantulan dari cahaya putih.
Hampir segalanya punya warna, lantas bagaimana menamai sisi yang tak disinari oleh cahaya? Bagaimana menamai kegelapan? Lantas disebutlah ketiadaan cahaya itu sebagai hitam, black, atau apapun itu.
Warna kerap kali dikaitkan dengan kepribadian atau suasana hati, bukan begitu, Nabsky? Penyuka warna biru adalah mereka yang mencintai kebebasan. Mereka yang menyukai keterbukaan, tapi sekaligus berhati mellow.
Atau, mereka yang menyukai warna kuning adalah mereka yang ceria, orang-orang yang penuh dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi. Lantas bagaimana dengan penyuka warna hitam?
Saya pribadi menafsirkan hitam sesuai dengan asal mulanya, ketiadaan atau ketidakhadiran. Pecinta warna hitam, menurut saya, adalah orang-orang yang cukup pemalu.
Ini bisa salah, tapi bisa juga benar. Penyuka warna hitam adalah orang-orang yang tidak ingin mencuri lampu sorot dalam kemegahan panggung.
Mereka, pecinta warna hitam, adalah orang-orang yang tak ingin menampakkan kehadirannya, atau dalam kata lain ingin menjadi invisible, tak terlihat.
Pecinta warna hitam tidak merasa perlu menghadirkan diri di depan banyak orang. Ia menghadirkan diri dengan melakukan fungsinya tanpa mewujud atau perlu diakui. Saya kira pecinta warna hitam telah selesai dengan urusan seperti itu, atau malah justru menghindari.
Kalian boleh tidak setuju, itu urusan kalian, tapi ini pendapatku. Dia dalam dunia fashion, hitam adalah warna aman. Bukankah orang-orang yang memilih jalan aman adalah mereka yang tidak cukup percaya diri untuk mengambil jalan lain dari kebiasaan?
Ketidakinginannya mewujud atau menampakkan diri bisa jadi karena “sudah selesai dengan urusan eksistensi diri” atau memang karena ketidakpercayaan diri seperti yang telah saya tulis (mereka pemalu).
Tapi, Nabs, hitam juga kegelapan. Mereka yang mencintai warna hitam kebanyakan menyimpan hal-hal kelam di dalam dirinya. Sesuatu yang membuatnya menarik diri dari kerumunan, yang membuatnya tidak percaya diri untuk tampil di muka umum.
Meski telah berdamai dengan peristiwa-peristiwa kelam di masa lalu, pecinta warna hitam kebanyakan merasa nyaman berada pada sisi di mana lampu tidak menyorot.
Beberapa menyimpan pertentangan, beberapa terlanjur merasa nyaman.
Bagaimana, Nabs? Setujukah kalian dengan analisis amatiran di atas?
Eh, tapi, jangan salah. Ada juga pecinta warna hitam nan bermental laron dan menor yang selalu haus akan sorot panggung. Sesungguhnya, mereka lebih kuning daripada hitam.








