Mengetahui pernah menye-menye di sebuah episode hidup adalah satu contoh betapa menghiburnya jejak riwayat digital.
Jangan sekali-kali melupakan jejak digital atau jangan sekali-kali meninggalkan jejak digital. Dua kalimat itu, sepintas mirip dengan kalimat: jangan mengambil apa-apa selain gambar. Sejenis kalimat sakral yang kerap terabaikan.
Jejak riwayat digital pada akhirnya menjadi bangunan masa lalu sekaligus kuburan di masa depan. Kepadanya, kita bisa menziarahi melankoli dan kelucuan masa lalu, dan sesekali melahirkan keterkejutan di masa depan.
Jasmetal (jangan sekali-kali meninggalkan jejak digital) merupakan kalimat komentar yang ditulis aktivis literasi asal Bandung, Bilven Sandalista saat membongkar kebohongan dan kebodohan salah satu buzzerp politik yang mencoba menebar narasi dan framing buruk terhadap seorang aktivis.
Sang buzzerp politik mengejek seorang aktivis yang juga teman Bilven dengan narasi pro Nazi hanya karena sang aktivis tersebut berpose menggunakan salam Nazi. Meski akhirnya sang aktivis mengkonfirmasi pose tersebut, pertikaian kadung tersulut.
Si Buzzerp politik jadi tampak bodoh dan geblek dan cengoh dan kelihatan cerobohnya kala Bilven mampu membuktikan bahwa si Buzzerp politik itu justru punya lebih banyak koleksi foto berpose Nazi melalui postingan-postingannya di masa lalu ~
Saat masalah itu ramai di Twitter, saya langsung ingat betapa jejak digital memang amat remeh. Tapi ia menjadi tidak remeh karena bisa menjadi senjata makan tuan, kala terjadi ketidak-konsistenan ucapan antara masa lalu dan masa depan.
Setiap orang yang lahir pasca orde baru, saya kira, pasti punya jejak riwayat digital. Terlepas bagaimanapun bentuknya. Setidaknya, informasi tentangnya mudah dicari di internet. Meski tak semua, mayoritas pasti ada.
Karena itu, saat seseorang berupaya menjahati orang lain dengan sebuah narasi kejahatan tertentu, sesungguhnya, jejak riwayat digital berpotensi menjadi senjata makan tuan yang tak sempat disadari oleh si penjahat tersebut. Hmm
Jejak riwayat digital, sebenarnya mengajarkan pada kita agar tak gegabah berbuat atau berkata-kata atau berkomentar tentang sesuatu. Mengingat, barangkali, kita pernah mengatakan sesuatu yang sebaliknya, di episode hidup yang pernah kita lalui.
Menjadikan jejak riwayat digital sebagai hiburan
Secara personal, saya menjadikan jejak riwayat digital sebagai ruang hiburan. Terutama menghibur diri saya sendiri. Saat sedang senggang dan tak melakukan aktivitas penting, saya sering menziarahi masa lalu dengan netralitas perasaan tanpa muatan apa-apa.
Melihat komentar-komentar saya 10 tahun lalu. Melihat bentuk tulisan saya 10 tahun lalu. Atau melihat aktivitas digital 10 tahun lalu, bagi saya, menjadi sesuatu yang cukup lucu dan menghibur. Itu alasan kenapa saya tak pernah mengedit tulisan-tulisan lama saya di blog, meski saya tahu banyak kesalahan penulisan di dalamnya.
Dengan menziarahi riwayat jejak digital personal, saya melihat banyak perubahan dalam hidup dan cara berpikir saya selama ini. Dari sana saya berpikir jika hidup memang selalu mengalami pergeseran-pergeseran yang, kadang luput dari kesadaran.
Hanya dengan menziarahi jejak riwayat digital, saya bisa tahu bahwa saya pernah mengalami episode hari-hari dan bulan-bulan di mana saya selalu berada di depan laptop dan buku-buku.
Sekaligus menjadi anti sosial dan apatis terhadap apapun di dunia ini, hanya demi mementingkan diri sendiri. Kini, saat saya mengingatnya, saya bisa tertawa-tawa sendiri.
Hanya dengan menziarahi jejak riwayat digital, saya juga tahu bahwa saya pernah menjadi seorang Blogtrovert menye-menye yang berkomunikasi dan menjalin hubungan asmara monyet pertemanan hanya melalui blog belaka.
Mengenal, memprediksi dan berimajinasi tentang seorang perempuan dan sebuah hubungan utopis tanpa pernah sekalipun bertemu. Lalu mewek sejadi-jadinya kala mengetahui apa yang saya asumsikan tak sesuai kenyataan. Kini, saat mengingatnya, saya bisa tertawa-tawa sendiri.
Andai kita mau memahami jejak riwayat digital nyel sebagai hiburan, tentu banyak hal mengejutkan yang dapat kita ambil pelajaran. Mengetahui pernah menye-menye di sebuah episode hidup adalah satu contoh betapa menghiburnya jejak riwayat digital.
Sayangnya, hidup tak hanya mengajak kita untuk menikmati hiburan belaka. Jejak riwayat digital yang seharusnya menghibur, menjadi tak menghibur sama sekali kala ia menjadi properti penting perselisihan antar umat manusia.








