Kasepuhan Padangan merupakan otoritas kultural bertumpu perjuangan ideologis dari zaman ke zaman. Sebuah ideologi yang ditanam Sidi Jamaluddin Husain pada abad 14 M silam.
Sebagai kawasan pembatas provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Padangan sejak lama dikenal sebagai wilayah yang tak ramah pada penjajah. Syaikhina Maimoen Zubair (1928 – 2019) menjulukinya Tanah Para Wali. Sementara KH Wahab Hasbullah (1888 – 1971), menyebut tempat ini sebagai poros pergerakan Islam.
Penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga, dalam Handboek der Land en Volkenkunde (1850), menyebut Padangan sebagai Kota Tua yang strategis. Eysinga tentu punya alasan. Berabad-abad sebelumnya, Padangan masyhur sebagai Kasepuhan yang menjadi simpul perlintasan gagasan dari zaman ke zaman.
Informasi mengenai Kasepuhan Padangan, mungkin akan hilang dari peradaban, andai catatan Sidi Abdurrohman Klotok tak ditemukan. Untungnya, catatan bertarikh 1820 M itu masih ditemukan. Ia menulis informasi mengenai rantai ideologis-genealogis Kasepuhan Padangan.
Selain produktif menulis banyak kitab, Sidi Abdurrohman Klotok ulama yang sangat takdhim pada para leluhur. Sehingga sering menulis riwayat para leluhurnya. Nama leluhur paling sering ia tulis, adalah Sidi Sabil ing Padangan, Sidi Sambu ing Lasem, dan Sidi Jabbar ing Jojogan Singgahan.
Sidi Abdurrohman Klotok, secara genealogis, adalah keturunan ke-4 dari Sidi Jabbar (Mbah Jabbar Jojogan) sekaligus keturunan ke-5 dari Sidi Sabil Padangan (Mbah Sabil Padangan). Tak heran jika dalam sejumlah catatannya, ia menulis kedua leluhurnya tersebut dengan penuh rasa takdhim.
Kasepuhan Padangan
Padangan disebut kasepuhan karena menjadi tempat persemayaman para sesepuh keturunan Sidi Jamaluddin Husain (Sidi Jamaluddin Kubro), leluhur para Sidi Padangan yang membuka dan membangun peradaban Islam di wilayah tersebut. Tempat di mana ajaran Sidi Jamaluddin dirawat dan dikembangkan dari zaman ke zaman.

Pada abad 14 M, Sidi Jamaluddin Husain membangun pangkalan dakwah di Gunung Jali Padangan, sebuah perbukitan di dekat lintasan sungai Bengawan. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam berbagai ceramah publiknya, kerap bercerita mengenai tauladan Sidi Jamaluddin di perbatasan Jatim dan Jateng tersebut.
Dalam buku The Passing Over (1998), Gus Dur bahkan menulis, keberadaan Sidi Jamaluddin Husain di perbatasan Blora dan Bojonegoro tersebut, bukan sekadar memperkenalkan syariat. Namun juga sikap moderat (toleran) dalam memperlakukan sumber alam. Sikap ini, menjadi “ideologi” yang terus diugemi lintas generasi.
Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817), menyebut Gunung Jali sebagai titik dakwah Sidi Jamaluddin Husain (Syekh Jumadil Kubro). Dalam bukunya itu, Raffles mendeskripsikan Sidi Jamaluddin Husain sebagai: “a devotee who had established himself on Gunung Jali” (hal:127).
Maka bukan kebetulan jika Manuskrip Padangan (1820 M), catatan yang ditulis Sidi Abdurrohman Klotok, menyebut wilayah dakwah Sidi Jamaluddin Husain ini sebagai FiddariNur (kota cahaya). Sebuah penegasan semiotik atas ajaran ideologis Sidi Jamaluddin Husain yang terus dirawat di kawasan itu.
Gunung Jali bukan wilayah administratif, melainkan bentang alam berupa savana hutan maha luas dan perbukitan yang dilintasi aliran Sungai Bengawan. Kawasan Gunung Jali, kini menjadi ruang simpul: pengait tiga kecamatan, penghubung dua kabupaten, dan pengikat dua provinsi.

Jejak peradaban Gunung Jali Padangan, tak hanya disebut literatur. Namun diperkuat prasasti dan bukti arkeologi. Fakta ini menunjukkan, jauh sebelum kedatangan Islam, kawasan ini menjadi pusat aktivitas manusia, ruang hidup yang memiliki nilai strategis sebagai tumbuhnya tradisi, pengetahuan, dan peradaban yang mapan.
Kawasan Gunung Jali secara beruntun disinggung dalam Prasasti Pucangan (1041 M) yang dirilis Raja Airlangga pada abad 11 M, Prasasti Maribong (1246 M) yang dirilis Raja Wisnuwardhana pada abad 13 M, dan Prasasti Naditira Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk pada abad 14 M. Ketiga prasasti itu menyebut perbatasan Blora dan Bojonegoro sebagai penghubung pesisir dan pedalaman Jawa.
Riset arkeologi dilakukan Museum 13 Bojonegoro dan Tim UGM pada 2011, menemukan banyak subjek masa silam di kawasan itu. Baik fosil prasejarah maupun artefak kuno. Para arkeolog menyatakan, kawasan Gunung Jali tak hanya dipenuhi fosil purba. Namun serpihan arca (Hindu-Budha) dan asesoris berinskripsi Arab (Islam).
Ideologi yang Berkelanjutan
Di Gunung Jali, Sidi Jamaluddin Husain tak hanya memperkenalkan syariat ubudiyah. Namun juga membangun peradaban muamalah. Ajaran mengenai sikap wasathiyah pada makhluk Allah, terus diugemi para penerusnya menjadi bermacam kaidah ekosufistik.
Bersikap baik pada manusia dan alam, menjadi sistem nilai yang terus dirawat para penerus Sidi Jamaluddin Husain di masa-masa berikutnya. Ideologi ini jadi tradisi yang tak hanya menekankan sikap harmoni, tapi juga menegaskan sikap anti penindasan.
Memasuki abad ke-15 M, kawasan Gunung Jali dipandegani Sidi Usman Khaji (Sunan Ngudung). Ayah Sunan Kudus ini, menjadikan ajaran Sidi Jamaluddin sebagai landasan membangun pusat ekonomi. Lantas pada abad ke-16 M, Sidi Abdulhalim Benawa (putra Sultan Hadiwijaya) melanjutkannya sebagai pondasi peradaban perahu: pusat ekonomi dan keilmuan berbasis sungai.

Kasepuhan Padangan menjadi otoritas kultural yang memelihara ajaran ideologis itu dari zaman ke zaman. Sebuah ideologi tak terlembagakan, tapi menyublim dalam kehidupan: norma yang tak tampak di permukaan, tapi hidup di dalam laku, tradisi, dan cara pandang kolektif dalam memandang dan memuliakan sumber alam.
Kemudian pada abad 17 M, Kasepuhan Padangan jadi titik pertemuan Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Jojogan dalam membangun ekosistem pendidikan Islam. Tiga dzuriyah Sidi Jamaluddin Husain itu, mereplikasi ekosistem Gunung Jali, melalui keberadaan pesantren Menak Anggrung.
Pada masa ini, ajaran-ajaran Sidi Jamaluddin mengenai sikap moderat terhadap alam, dikembangkan menjadi bermacam kaidah yang mudah dipahami masyarakat. Kaidah Bajul Destoroto, Bledhug Geni, hingga Uyah Uluhiyyah menjadi ageman ekosufistik yang mengajak masyarakat untuk hidup selaras dengan alam.

“Kiai Sabil putrane sekawan sedaya. Engkang pembajeng Kiai Saban ing negara Padangan. Nuli Nyai Sambu ana ing Kauman negara Lasem. Nuli Nyai Jabbar ing Jojogan negara Tuban. Nuli Bagus Abdurrokhim ing Sendang Kaliwuluh Pedusunan Sambeng”.
Artinya: Kiai Sabil memiliki empat keturunan. Yang pertama Kiai Saban di Padangan. Kemudian Nyai Sambu di Kauman Lasem. Kemudian Nyai Jabbar di Jojogan Tuban. Kemudian Bagus Abdurokhim di Sendang Kaliwuluh Sambeng (Kasiman).
Mbah Sabil Padangan adalah paman dari Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Singgahan. Untuk memperkuat jaringan ideologis, Mbah Sabil Padangan menjadikan dua keponakannya itu sebagai menantu. Ikatan keluarga ini, kelak melahirkan rantai genealogi yang semebyar ke berbagai daerah.
Jaringan Kasepuhan Padangan semebyar di kawasan utara Pulau Jawa. Terutama Bojonegoro, Blora, Tuban, Rembang, Gresik, dan Nganjuk. Membentuk jejaring kultural yang terhubung garis keturunan, tradisi, dan otoritas spiritual yang terus berkelanjutan lintas zaman.

Mayoritas jaringan keluarga ini, ngugemi ajaran Sidi Jamaluddin Husain melalui pendirian pesantren di masing-masing wilayah. Lebih dari sekadar institusi pendidikan agama, namun jadi ruang pembentukan nilai yang menekankan sikap egaliter, serta penolakan pada struktur feodal yang menindas.
Di tangan mereka, ideologi wasathiyah, egalitarianisme, dan sikap anti-feodal yang ditanam Sidi Jamaluddin Husain itu, tidak hanya dipertahankan, tapi diproyeksikan sebagai kekuatan kultural yang adaptif terhadap dinamika perubahan zaman, sehingga tetap relevan dan berpengaruh pada masa-masa berikutnya.
Sikap yang telah mendarah-daging dan berakar dalam, menjadikan jaringan keluarga ini tak hanya berperan dalam dakwah keagamaan Islam, tetapi juga kerap menjadi embrio lahirnya berbagai perlawanan kultural terhadap praktik-praktik penindasan yang datang bersama arus kolonialisme.
Kronik Peristiwa
Kasepuhan Padangan sebagai otoritas kultural yang melestarikan ideologi Sidi Jamaluddin Husain, tentu punya kontribusi besar dalam menghadapi kolonialisme. Sebab, mental kolonial tidak sejalan dengan ideologi para Sidi Padangan. Khususnya mekanisme dalam mengelola sumber alam.
Maka sebuah keniscayaan ketika Kasepuhan Padangan, kelak dikenal sebagai tempat kaum pejuang. Faktanya, dalam sejumlah peristiwa besar, Kasepuhan Padangan kerap menjadi lokus yang muncul sebagai simpul dan pusat konsolidasi geopolitik, dari zaman ke zaman.
1. Memangsa Londo Jowo
Pada paruh pertama abad 17 M, tepatnya pada dekade 1640 M, Kasepuhan Padangan menjadi tempat konsolidasi antara Sidi Sabil Padangan, Sidi Sambu Lasem, dan Sidi Jabbar Jojogan dalam membangun keseimbangan atas dominasi Sunan Amangkurat I Mataram. Sebab, kemesraan VOC dan Amangkurat Mataram, telah memicu berbagai kerusakan dan kekejaman.
Para Sidi Padangan duko (marah) dan nyabdo (berfatwa), bahwa apapun berbau Amangkurat Mataram akan “tengggelam” ditelan lumpur, jika berani melintasi Padangan. Semiotika ini mengandung makna yang amat dalam. Bahwa apapun berbau Londo Jowo, akan menghadapi infiltrasi total, perlawanan kultural, bahkan konfrontasi senyap yang melenyapkan.
2. Perjuangan Trunojoyo
Pada paruh kedua abad 17 M, tepatnya pada 1676 M, sebanyak 50 ribu pasukan Mataram yang dipimpin Pangeran Puger (Amangkurat II), melintasi sungai menuju Timur Tuban, untuk menangkap Trunojoyo. Dalam perang berpusat di sisi timur Tuban itu, sebanyak 50 ribu pasukan Mataram yang dipimpin Amangkurat II kocar-kacir dan secara tragis, digulung oleh hanya 9 ribu pasukan gabungan Trunojoyo.
Pada masa ini, Padangan terdapat dua figur ulama yang memiliki pengaruh cukup besar dalam konteks geopolitik dan sosial. Keduanya adalah Sidi Saban Padangan dan Sidi Abdurrokhim Kaliwuluh Sambeng — dua putra Sidi Sabil Padangan, penerus mekanisme ideologis para pendahulunya.
Sunan Amangkurat II lupa. Sungai mereka lintasi adalah Padangan, tempat di mana kutukan para Sidi Padangan masih diberlakukan. Melintasi sungai Padangan, berarti memicu konfrontasi senyap namun melenyapkan. Ini alasan 50 ribu pasukan Amangkurat II sudah tidak utuh, saat sampai di wilayah Tuban. Sehingga pasukan Trunojoyo dengan mudah melumpuhkan.
3. Perjuangan Giyanti
Pada masa Perjuangan Giyanti (1755 M), Kiai Wirosentiko atau Raden Ronggo I (Bupati Madiun), Kiai Tjarangsoko atau Raden Malangnegoro I (Bupati Padangan), dan Raden Notowijoyo I (Bupati Panolan), merupakan tiga tokoh dari Kesultanan Jogjakarta, yang kerap bertabaruk di Padangan, berkonsolidasi dalam membangun stabilitas Mancanegara Wetan.
Padangan, pada periode ini, terdapat sejumlah tokoh penting seperti Sidi Kamaluddin Oro-oro Bogo, Sidi Abdurrahman Saban, dan Sidi Imamuddin yang merupakan para penerus Pesantren Menak Anggrung Padangan. Mereka bukan hanya dikenal sebagai ahli agama, tapi juga figur yang memiliki ketajaman intuitif dalam membaca arah zaman.
4. Perjuangan Alas Jati
Pada perjuangan Alas Jati (1810 M), Raden Prawirodirjo Madiun (Raden Ronggo III), Raden Sumonegoro Padangan (Raden Malangnegoro III), dan Raden Notowijoyo Panolan III — cucu dari para pejuang Giyanti — memimpin perlawanan terhadap monopoli hutan jati yang dilakukan Daendels dan Londo Jowo. Seperti para leluhurnya, tiga tokoh ini juga berkonsolidasi di Padangan.
Pada periode Alas Jati ini, Padangan terdapat sejumlah figur ulama memiliki pengaruh besar. Mereka adalah Sidi Nursaddin Kuncen dan Sidi Syahiddin Oro-oro Bogo. Dua figur ulama tarekat berpengaruh besar, dengan basis utama di kawasan hutan. Mayoritas santrinya adalah para blandong hutan jati.
Raden Ronggo adalah ayah Sentot Ali Basya, Raden Sumonegoro Padangan adalah ayah mertua Kiai Modjo, dan Raden Notowijoyo Panolan adalah ayah mertua dari Pangeran Diponegoro. Bukan kebetulan jika para pejuang ini, punya hubungan emosional yang amat dekat dengan Kasepuhan Padangan.
5. Perjuangan Perang Jawa
Pada masa Perang Jawa (1825-1830 M), Padangan jadi pusat tabaruk bagi rombongan Kiai Modjo, Diponegoro, Sentot Ali Basya, dan Sosrodilogo, yang merupakan tokoh utama dalam Perang Jawa. Di Padangan, mereka membentuk divisi pasukan bernama Malangnegoro, untuk bertabaruk dengan pejuang pada masa sebelumnya.
Pada masa ini, banyak tokoh-tokoh dari Kesultanan Jogjakarta, termasuk rombongan Diponegoro, yang melakukan tarbiyah tarekat di Pesantren Betet dan Pesantren Klotok. Sidi Syihabuddin Betet, dan Sidi Abdurrohman Klotok menjadi figur yang kerap disowani rombongan tersebut.
Pada masa ini, Sidi Munada Robayan yang merupakan bagian dari rombongan Pasukan Diponegoro, kelak juga membangun peradaban tarekat di kawasan Robayan, Kuncen, Padangan. Keberadaan basis tarekat ini, kelak melengkapi berbagai sisi juang masyarakat Padangan.
Rombongan Pasukan Diponegoro cukup dekat dengan Padangan. Dua istri Pangeran Diponegoro bernama RA Retnakusuma dan RA Retnaningsih berasal dari wilayah ini. Adik kandung Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Totokromo, berkeluarga dan wafat di Padangan.
6. Perjuangan Cultuurstelsel
Pasca Perang Jawa usai, perjuangan belum selesai. Kebijakan kolonial mengenai perbudakan Cultuurstelsel (1830-1870), direspon secara tegas kaum tarekat Padangan. Meski terkesan sporadis, mereka membangun resistensi untuk mengganggu stabilitas kolonial.
Pada masa Cultursteel ini, terdapat sejumlah ulama tarekat yang punya peran penting dalam mengganggu stabilitas kolonial. Di antaranya Sidi Syamsuddin Betet, Sidi Ahmad Munada Robayan, dan Sidi Syahid Kembangan yang menjadikan peguron (pesantren) tempat mereka mengajar, sebagai ruang godok para pejuang.
Bukan sekadar reaksi spontan atas tekanan Cultuurstelsel, melainkan manifestasi kesadaran ideologis yang berakar kuat. Kondisi ini memunculkan gangguan masif terhadap dominasi kolonial. Sebab, pesantren menjadi simpul konsolidasi, tempat nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan keberpihakan pada akar rumput terus dirawat dan diwariskan.
7. Perjuangan Sarekat Islam
Pada masa perjuangan Sarekat Islam (SI), Padangan berperan penting sebagai pusat konsolidasi simpatisan SI. Sampai pada 1916 M, SI Bojonegoro masih berpusat di Padangan. Sidi Hasyim Padangan (Kiai Hasyim Jalakan), Sidi Abdul Hadi Munada (Kiai Dulhadi Robayan), dan Sidi Muntaha Syamsuddin (Mbah Ho Padangan), dikenal sebagai ulama ahli geopolitik yang menjadi guru spiritual SI Bojonegoro.
Para simpatisan SI Padangan ini, berperan besar hingga masa perjuangan Surabaya November 1945. Pada masa ini, Padangan jadi melting pot Laskar Hizbullah Bojonegoro. Mbah Ho Padangan merupakan Pembina Laskar Hizbullah Bojonegoro. Riwayat konsensus mengatakan, senjata Laskar Hizbullah Bojonegoro tak boleh dibawa ke medan pertempuran, sebelum disepuh di Padangan.
8. Perjuangan Nahdlatul Ulama
Padangan punya peran sentral dalam masa berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada awal pendirian NU (1926), KH Wahab Hazbullah sering bertabaruk ke Padangan, menemui Sidi Hasyim Padangan (Kiai Hasyim Jalakan), dalam rangka membangun hubungan strategis dan penguatan organisasi di tengah tekanan imperialisme Belanda.
Sidi Hasyim Padangan dikenal memiliki pemahaman geopolitik internasional. Memiliki jaringan di Singapura, Mesir, hingga India. Selain itu, ia juga dikenal ulama penulis memiliki tradisi literatur cukup kuat. Pasowanan KH Wahab Hasbullah pada Sidi Hasyim Padangan, bukan hanya untuk memperluas jaringan NU. Tapi juga memperkuat pondasi NU dengan tradisi literatur dan keilmuan Islam.
Sumber rujukan:
Manuskrip Padangan (1820), The History of Java (1817), Handboek der Land en Volkenkunde (1850), Tarikh Aulia (1959), Hikayat Padangan, Serat Walisana, Sejarah Kabupaten Bojonegoro (1988), The Passing Over (1998).








