Witness menjadi satu di antara sejumlah prasasti sejarah kejayaan musik dan event bermusik di Bojonegoro. Selayaknya prasasti, ada kalanya studio musik cukup dikenang sebagai bukti kejayaan masa lalu.
Dia berpenampilan santai. Memakai kaus hitam. Menggunakan sarung. Dan bercerita banyak tentang dunia studio musik Bojonegoro — dari masa kejayaan hingga era keruntuhannya.
Meski usianya sudah tak muda lagi, semangatnya masih terlihat berapi-api. Orang di depan kami adalah M. Arif Gunawan, sosok di balik studio musik legendaris Bojonegoro, Witness.
Pria 50 tahun yang kini menjadi staf pengajar seni dan budaya di sebuah SMA swasta tersebut, bercerita banyak tentang studio musik di Bojonegoro. Mulai dari geliat, perkembangan, hingga keruntuhannya.
“Semua ada masanya, tak ada yang abadi. Termasuk studio musik,” kata Arif pelan.
Bapak dua anak itu bercerita, sebelum membuka studio musik, dia menghabiskan masa muda untuk kuliah di UIN Jogja selama setahun. Lalu, dilanjut kuliah ke Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Bahkan, dia juga sempat bekerja di Banjarmasin dan Jakarta sebelum memutuskan membuka studio di tempat kelahirannya, Bojonegoro. Arif mengistilahkan laku itu sebagai proses mencari modal.
“Buka usaha studio musik itu pas balik Bojonegoro pada awal 2000, setelah punya modal,” kata alumni SMPN 1 dan SMAN 1 Bojonegoro tersebut.
Anak ke- 4 dari 7 bersaudara itu bercerita, pertama kali membuka studio musik Witness, pada awal 2000, bertempat di Klangon. Lalu, empat tahun kemudian, pada 2004, pindah ke Jetak, di pinggir radio Bass FM.
Terkait penamaan Witness, tak ada alasan khusus. Selain mudah diucap dan enak didengar, Witness berarti saksi. Itu tak lepas dari latar belakang Arif sebagai Sarjana Hukum yang akrab dengan istilah saksi. Tapi, bisa jadi, Witness memang saksi sebuah kejayaan.
“Sebelum benar-benar hilang, sempat mindah Witness ke Mojokampung pada 2014 lalu,” ucapnya.
Nabs, Witness menjadi satu di antara studio musik legendaris di Bojonegoro. Namanya adalah simbol eksistensi band-band-an pada pertengahan 2000. Selain menjadi tempat berlatih, ia juga kerap dan getol membikin event musik.
Menurut Arif, pada 2000 hingga 2010, studio musik di Bojonegoro cukup banyak. Jumlahnya puluhan. Namun, yang pamornya cukup tenar ada beberapa. Di antaranya; Flash, Intro, dan GC Sawah Kali. Beberapa di antaranya berganti nama sebelum menghilang.
Arif yang pernah menjabat ketua Forum Komunikasi Studio Musik Bojonegoro (FKSMB) tersebut, pernah mendata jumlah studio musik di dalam Kota Bojonegoro. Jumlahnya mencengangkan. Sebanyak 25 studio musik hanya di dalam kota.
“Ada 25 di dalam kota saja. Itu belum termasuk di Padangan yang studio musiknya sudah ada sejak lama,” ucap bapak dua anak tersebut.
Arif bercerita, dulu, studio musik sangat interes terhadap kegiatan bermusik. Selain itu, sering nekat bikin-bikin event. Selain Witness, ada Flash dan Alegro yang sangat getol membikin event-event musik di Bojonegoro. Bahkan, Arif mengingat, tiap dua Minggu sekali, ada event musik di Kota Bojonegoro.
Pada awal hingga pertengahan 2000, spirit bermusik sangat bagus. Hampir dua Minggu sekali, Pojok DPRD dan Panggung Malowopati selalu ramai acara-acara musik. Fenomena itu berhenti sekitar era 2010 ke atas.
Pria yang pernah menjabat ketua komite musik Dewan Kesenian Bojonegoro (DKB) itu menyatakan, dibanding saat ini, animo bermusik di awal 2000 jauh lebih terasa ramai.
Terkait perubahan kondisi tersebut, Arif mengatakan jika banyak varian penyebabnya. Dulu, untuk dikenal dalam hal bermusik, harus total menjadi praktisi. Sehingga, banyak event besar digelar.
Kalau saat ini, seiring banyaknya komunitas dan perkembangan media sosial, untuk membranding diri tak perlu upaya berlebih. Cukup punya skill standard dan bergabung di komunitas, niscaya bisa memperoleh popularitas.
Fenomena minimnya event musik, kata Arif, punya masalah yang berbeda. Dulu, banyak sekali event organizer (EO) asli Bojonegoro. Saat ini, kalau mau mengamati, sangat jarang. Bahkan tidak ada.
Ketiadaan EO asli Bojonegoro, menurutnya, juga punya alasan. Selain animo yang mulai menurun sejak lama. EO juga takut rugi. Di lain sisi, perijinan sangat sulit dan mahal. Ini masih diperparah dengan kapitalisasi EO besar yang menyasar pangsa pasar kecil daerah.
Apakah geliat event musik bisa dikembalikan serupa tahun-tahun awal 2000? Arif tak tahu dan tak bisa memastikan. Sebab, baginya, semua ada masanya dan tak ada yang abadi.
Romantisme kenangan masa lalu yang selalu dia ingat adalah semangat anak muda dan pelajar dalam berlatih musik. Bahkan, ada anak muda yang latihan nge-band sehabis subuh. Baginya, itu kenangan teramat manis dan indah.
Dia ingat, di studio musik yang dia kelola, Witness, sehari minimal menampung anak-anak latihan hingga sepuluh band. Itu pun, harus antre booking dulu. Itu tak hanya terjadi di studio musiknya saja. Tapi juga studio-studio lainnya.
“Zaman itu, Bojonegoro punya band lokal populer seperti Tongseng dan Kepiting Rebus,” ucapnya sambil tersenyum.
Arif tak menampik jika tiap zaman punya masanya sendiri. Di Bojonegoro, studio musik boleh jadi menjadi khazanah kebudayaan kontemporer di masa lalu. Namun kini, zaman sudah berubah. Serupa makna kontemporer yang selalu berubah-ubah.
Nabs, Witness menjadi satu di antara sejumlah prasasti sejarah kejayaan musik dan event bermusik di Bojonegoro. Selayaknya prasasti, ada kalanya studio musik cukup dikenang sebagai bukti kejayaan masa lalu.








