“Love breaks my bones, and i laugh,” – Charles Bukowski.
Di sebuah cafe di pusat kota, ketika semua meja penuh dan kursi-kursi terisi, itulah kali pertama kulihat gadis berambut pendek, yang kelak mematahkan hati banyak pria. Dia duduk di meja tengah, membaca buku dengan khidmatnya, seolah tak terganggu oleh apa saja yang terjadi di sekitar.
Rambutnya disingkap, disematkan di balik telinga kanan, sedang sisi kiri ia biarkan tergerai, menutupi sebagian wajahnya. Kurasa parasnya biasa saja. Tidak secantik gadis-gadis yang baru keluar dari salon, tapi tak juga kusam. Entah karena riasan sederhana yang membuatnya tampak apa adanya, atau karena kebiasaannya yang tak biasa, yang membuatku tergerak mendatanginya.
“boleh duduk di sini? Aku terlanjur pesan kopi, tapi nggak ada tempat duduk.”
“silahkan,” jawabnya singkat, lalu kembali fokus pada bukunya. Kubaca sepintas, T.S Eliot, sastrawan ternama dunia.
“The Love Song of J. Alfred Prufrock.” Sengaja kusebutkan satu judul puisi paling masyur karangan T.S. Eliot. Kupikir begitu cara berkenalan yang lebih elegan, daripada menanyakan nama atau pekerjaannya. “Aku paling suka puisi Eliot yang itu.”
Kulihat gadis itu menutup bukunya. Dia tersenyum. “Ya, satu yang paling populer, memang. Aku suka The Burial of The Dead, bagian The Waste Land.”
“Ya, satu yang juga paling banyak dibicarakan,” sahutku. Suka siapa lagi, selain Eliot?”
“Emm…i don’t really like Eliot, cuma iseng baca aja sih. I’m more likely Plath and Dickinson’s fans.”
“Waw!”
“Also, Bukowski.”
“Hahaha dewa mabuk ya?”
“Yap. Kamu? Siapa penyair favoritmu?”
Lihat? Percakapan yang dimulai dengan menanyakan nama ataupun pekerjaan memang tak lebih menarik dari menanyakan apa yang sedang ia geluti. Gadis itu menyukai puisi, dan apa yang menjadi kesukaanmu, maka itulah titik terlemahmu. I got her. “That one you have on your hand,” kataku.
“Ah, i see. Mr. Eliot.”
“Yes.”
Malam itu kami lewati dengan perbincangan mengenai sastra dunia dan dunia sastra di Indonesia. Wawasannya luas, tapi ia selalu tampak tak yakin mengutarakan argumennya. Menjelang larut, kuputar otak, memikirkan cara untuk bisa bertemu lagi dengan gadis itu.
“Oh, lupa memperkenalkan diri. Ardi!”
“Jesslyn.”
“Boleh kapan-kapan ngobrolin puisi lagi. Aku lama sekali nggak pernah diskusi.”
“Ah, i see. Boleh. Datang aja ke rumah baca kami… kalau berkenan.” Ucapnya sembari merogoh pulpen dan menuliskan alamat di sobekan kertas. “Nah, di sini kamu bisa datang dan baca buku. Kami kadang bikin diskusi ringan.”
“Oke.”
Laki-laki selalu mengawali fase jatuh cintanya lewat pandangan, lalu diperkuat lewat obrolan. Atau barangkali, itu hanya untuk Sapioseksual sepertiku? Entahlah, tapi aku amat penasaran, sehingga kuputuskan berkunjung keesokan harinya, di jam pulang kerja.
Dua kali aku datang, alamat yang diberikan, rumah baca yang tertempel tulisan “Philo Lib” itu tutup.
Kutanyakan pada warga sekitar, rupanya jam bukanya memang acak, tak menentu. Gadis itu bahkan tidak meninggalkan kontaknya. Sampai saat akan beranjak pergi, seorang laki-laki dengan kacamata tebal berjalan menuju kemari. Kutunggu sampai jarak kami dekat.
“Halo, mau ke Philo?” tanyanya sembari mengeluarkan kunci dan membuka pintunya. Buku-buku bertumpuk di sisi sebelah kiri ruangan, sedang sisi lainnya kosong, diisi oleh tikar dan meja kecil di ujung ruangan. “Sean!” laki-laki itu menyodorkan tangan ke arahku.
“Ardi.”
“Tahu Philo dari mana, Mas? Jesslyn?”
Aku setengah kaget bahwa dia menebak dengan benar. Seketika aku keGRan memikirkan apakah Jesslyn telah menceritakan tentangku pada temannya. “Hahaha, iya, Mas. Kok tahu?”
Laki-laki itu cuma tersenyum kecil. Senyuman yang tak bisa kutebak apa artinya. Ia mempersilahkanku melihat-lihat isi perpustakaan itu. Kami mengobrol sebentar, lalu dia pergi memesan kopi di warung sebelah.
“Jesslyn nggak datang, Mas?”
“Sudah janji mau ketemu di sini?”
“Enggak sih. Cuma tanya saja. Dia kan yang kasih saya alamat ini.”
“Biasanya dia datang larut malam, tapi kadang juga tidak.”
Malam itu kutunggu sampai jam menunjukkan pukul 23.45, tapi Jesslyn tak kunjung datang. Aku bahkan tak bisa menghubunginya karena dia sama sekali tak memberi tahu nomor telponnya.
Laki-laki di depanku mengaku tak punya kontaknya. Gadis macam apa yang tak punya nomor HP? Aku makin penasaran. Suatu hari di minggu pagi, aku melihatnya berjalan menuju kedai kopi di dekat Philo.
Dia masuk sendirian, menenteng tas ransel yang sepertinya cukup berat, lalu duduk di meja dekat jendela. Adegan selanjutnya seperti yang sudah kuduga. Dia menyeduh minuman di cangkir, lalu membuka bukunya.
Kupesan segelas Americano, lalu mengambil duduk di depannya. “Hai!”
Dia melirik sebentar, lalu tersenyum. “Hai!”
“Beberapa waktu lalu aku ke Philo.”
“Heem,” dia mengangguk sekali. “Sean bilang.” Dia menutup bukunya. “Sudah bertemu?”
“Siapa?”
“Buku yang dicari.”
“Ah, itu. Belum,” jawabku. “Ada rekomendasi?”
“Hahaha.” Dia tertawa.
Tunggu, apa yang lucu? Apa aku menanyakan pertanyaan bodoh? Aku ikut tertawa.
“Merkomendasikan buku ya?” ucapnya seperti setengah bertanya. “Aku nggak pernah melakukan itu. People find their own favorite books…in a strange way. Rekomendasi merusak perjumpaan itu.”
“Ah, i see.” Kataku menimpalinya.
Beberapa hari kuhabiskan ngobrol dengannya. Tentu setelah dia berikan akun sosial medianya.
Kami berkomunikasi lewat direct message, dan dia, seperti sudah kuduga, memiliki wawasan yang luas. Dan itu hal paling menarik darinya. Ia tahu banyak soal sastra dan politik. Ia menangkap ketika pembahasan bergeser pada diskusi kritis persoalan sains. Ia banyak tahu, dan kurasa kami jadi semakin dekat lewat obrolan. Ada yang istimewa dari hubungan kami.
Gadis itu merespon hampir setiap ajakan minum kopi dariku. Suatu hari, ia mengajakku datang ke acara diskusi yang diadakan di Philo. Ia sudah ada ketika aku datang. Ia duduk dengan seorang laki-laki di pojok, sambil memainkan gitar. Aku penasaran, apa hubungannya dengan laki-laki itu. Mereka tampak dekat.
Aku mencoba bersikap biasa, tidak berlebihan, tapi tetap saja tak bisa kutahan rasa cemburu. Mereka tertawa, seperti begitu akrab, begitu dekat. Ia bahkan tak memperhatikan ekspresi mukaku yang merah padam.
Lantas kupikirkan ulang, apa yang istimewa dari hubungan kami? Yang barangkali meredam rasa cemburuku. Semakin kupikirkan, semakin aku ragu apakah dia memiliki perasaan yang sama atau hanya mencoba baik padaku.
Beberapa minggu aku tak datang ke Philo atau sengaja menemui Jesslyn di kedai kopi. Kutenangkan pikiranku, kutata perlahan perasaanku yang dibuatnya berantakan kemarin. Kupikir, aku harus memperjelasnya. Entah dengan menanyainya langsung atau mengamati respon yang ia berikan atas tindakan-tindakanku.
Ia tak mencariku. Sama sekali. Ia tak juga menghubungiku.
Di lain kesempatan, pada momen lain diskusi besar yang juga diadakan di Philo, aku sengaja datang. Jesslyn hadir mengenakan kaos berwarna putih dan celana longgar sepanjang 3/8. Ia duduk di pojok ruangan, dengan laki-laki berbeda. Mereka berbincang akrab. Saling mendekatkan telinga saat lawan sedang berbicara, sambil sesekali tertawa.
Saat memperhatikan itu, Sean duduk di sampingku. Menyodorkan sebuah buku. Lebih tepatnya kumpulan puisi. Penulisnya hanya diberi inisial S. Covernya muram, dipenuhi warna abu-abu dan hitam. Sebuah jalan menuju belantara hutan.
“Bukunya Jesslyn. Karya terakhirnya, 3 tahun lalu. Salah satu puisinya menang sayembara dewan kesenian, beberapa lainnya ia buat menyusul.”
Buku itu dibuka dengan kutipan Bukowski, “Love breaks my bones, and i laugh.” 7 puisi panjang patah hati yang tragis.
Undangan Menyusuri Jurang
Sepucuk surat dialamatkan pada kastil tua
di antara belantara hutan berduri luka
ia menerobos masuk mengetuk pintu
putri raja yang tak mengenal cahaya
“Undangan Menyusuri Jurang”
….
Dan sepi makin akrab, kematian lebih dekat
baris luka menuntun kaki menuju jurang
tempat mereka dipertemukan
Kali ini tak ingin menelusur
Mangakhiri nestapa adalah membunuh rasa
dengan melempar diri pada curam jurang
yang meminta tumbal
mengabadikan darah pada keentahan yang di simpan
di kedalaman
Kelak, sebuah mitos dibangun,
tentang hantu cantik yang memanggil
para pengelana datang, melompat ke jurang
Undangan Menyusuri Jurang
S.
Kututup buku itu dengan perasaan iba dan tanya, “luka macam apa yang bersemayam dalam dirinya?”








