Ketersinggungan adalah perkara wajar, asal dibaca secara bil-ilmi. Agar ia bisa jadi pahit kopi, yang kau puja dalam letih maupun kecewa.
Menjadi seorang terpelajar seperti Gie dengan intelektual yang tak mengkhianati intelektualnya, memang pilihan berat. Seberat memilih dirinya atau dirimu di saat bersamaan, Deq.
Gie sempat kecewa dengan teman temannya yang mengkritik dan mengutuk Soekarno yang diduga melenceng, namun pada akhirnya mereka sendiri yang berpihak demi keuntungan, lupa akan visi misi ke-intelektualanya.
Gie juga mengatakan “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”. Kaum terpelajar tetap bisa memegang dan mengeruk keintelektualanya, menjadi seorang yang tak lupa dengan eksistensinya sebagai mahasiswa.
Intelektual yang tak dimanfaatkan orang lain, Oleh sebab itu ia memilih untuk menjadi seorang yang merdeka tanpa dimanfaatkan siapapun, tak seperti siklus seorang agent of change yang mengkritik lalu mencari keuntungan, seolah menjual mulut.
Hal itu juga berkesinambungan seperti yang dikatakan Pram, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam tindakan”.
Mulailah adil dari rumahmu, ketika kau beranjak pergi menikmati kopi, apakah piring piring kotor di dapur sudah kau cuci? Atau kau sudah membantu ibumu hari ini?
Benar kata Tan, “Idealisme adalah suatu kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda”, idealisme yang lahir dari ruang dialektika dalam proses intelektualnya harus mampu menjadi suatu hal yang adil dan mampu menjadi manusia normal dan merdeka seperti kata Gie.
Jika kau telah memilih untuk mengikuti arus, pola fikir yang telah dicuci membuatmu semakin terbawa arus, kau hanya akan kebingungan untuk memilih jalan, kau hanya akan merasa rendah karena terseret dan secara langsung dimanfaatkan. (Kaum kebingungan di persimpangan jalan).
Sebenarnya kita telah merdeka menjadi diri sendiri, tapi mereka yang mengikuti arus menilai kita sebagai manusia yang terbatasi, ada yang tak sadar jika mereka dimanfaatkan, omonganya sungguh mengkhianati pemikirannya
Beberapa kaum terpelajar dengan dinamika yang sehat telah sadar, membuat dirinya terikat dalam suatu ikatan, menjual omonganya demi rantai senioritas adalah suatu yang yang mengkhianati dirinya sendiri.
Mereka yang menjadi apatis juga begitu, seolah melepas eksistensinya sebagai seorang mahasiswa yang membawa perubahan, mereka yang mengikuti arus juga menilainya sebagai manusia yang tak peka dengan sosial, padahal mereka hanya mencari keuntungan, mereka yang apatis hanya memilih membisu, mereka yang merdeka akan menemui filosofi kehidupanya dengan kaki tangannya sendiri
Jangan berharap mendapatkan apa yang kau inginkan jika membatasi kebebasan sendiri, tak seharusnya mengikuti arus untuk mengikuti apa itu hidup dan segala dinamikanya, carilah jalan sendiri.
Selamat malam, semoga kau menjadi seorang yang merdeka, tak apatis dan tak mengikuti arus.
Ketersinggungan adalah suatu hal yang wajar tapi kepercayaan harus ditanamkan sejak dini, ibarat kopi yang selalu kau puja dalam letih dan kecewa, ia selalu terdefinisikan yang berbeda bagi sejuta penikmatnya.
Kita berharap kemerdekaan bagi setiap insan, suatu kedaulatan negara bagi bangsanya, tapi bagian kecil bangsa itu sendiri memilih untuk membatasi dirinya sendiri, mengapa harus menjual kemewahan dirimu sendiri bagi keuntungan orang-orang di atasmu?








