Hari demi hari berlalu. Serasa dalam imaji, saat ini terdampar di daratan yang terbentang di antara Gunung Salak dan Pangrango. Apakah ini merupakan garis Tuhan yang tertulis karena ketidaksengajaan?
Apa kabar, Nabs? Semoga senantiasa bahagia dalam suka maupun duka. Penjelajahan dari beberapa kota nampaknya harus tersudahi sementara.
Dari Kabupaten yang konon sebagai lumbung pangan dan energi ‘Bojonegoro’, Kota Pahlawan ‘Surabaya’, Kota Kembang ‘Bandung’, Kota tempat bersemayam jasad Pangeran Diponegoro ‘Makassar’, Kuala Lumpur, Raman, Pattani, dan lain-lain.
Pengembaraan berhenti sejenak dalam tempo yang tidak singkat di sebuah kawah Candradimuka yang berada di Bogor Selatan.
Beragam macam manusia, bahasa, logat bicara, dan gaya orang saat menikmati hujan sudah terpatri dalam pikiran.
Beberapa manusia datang, silih berganti pergi. Hanya orang-orang tertentu yang setia menemani hingga ajal menghampiri.
Pasca nama bapak terabadikan di batu nisan. Saat mengingat waktu itu, malam itu serasa tertimpa pohon kamboja di kuburan.
Asa, angan, dan beragam memorabilia/kenangan terbang berhamburan. Kepala tertunduk layu di pangkuan paman.
Tak terasa, celana jeans yang dikenakan paman basah oleh derai air mata kesedihan.
Tragedi tersebut telah berlalu. Sesak dada meninggalkan Ibu sebatang kara di sebuah rumah kecil yang tembok dan sudut ruangannya penuh memorabilia.
Kalimat “setiap kesulitan pasti ada jalan” menjadi kenyataan. Hitam dan putih juga senantiasa menjadi pengindah kenyataan.
Jika sebelum menginjakkan kaki di Bogor Selatan, merasakan dan menikmati cahaya matahari terbit seperti hari raya idul fitri atau lebaran.
Dalam dua belas bulan, hanya sekitar 2-3 kali mampu merasakan dan menikmati cahaya matahari.
Namun ketika di Bogor Selatan, lebih banyak merasakan dan menikmati cahaya matahari. Dan bergulat bersama hangatnya sinar Sang Surya.
Ketika hari keberangkatan ke Bogor Selatan tiba. Ragam memorabilia yang hinggap di kepala, tiba-tiba hidup dengan sendirinya.
Langkah kaki berkelana menuju sebuah tempat di antara dua lembah. Kisah demi kisah telah tertulis.
Yang membuat hati berdebar bahagia, panik tiada dua, dan memendam rindu menjadi satu. Menjadi pengindah hari-hari.
Tempat tujuan tidak asing di telinga. Pada masa pasca nirleka terdapat prasasti yang menggambarkan peradaban.
Salah satu di antaranya prasasti Batu Tulis. Pada masa gempuran kolonialisme, “Buitenzorg” namanya. Saat bendera merah dan putih berkibar di tanah Ibu Pertiwi, “Bogor” namanya.
Dimana tempat kaki berpijak, di situlah serpihan mosaik tersusun. Bogor bagaikan serpihan mosaik.
Sebelum pandemi melanda, tubuh ini pernah dibelai angin Kota Hujan yang berhembus pasca tengah malam. Ditemani bangku kota, daun-daun yang berguguran, dan lampu jalan. Beberapa nama objek dan desa di Bogor, terhapal di luar kepala.
Hal tersebut berlangsung dalam tempo yang tidak lama. Berpisah sejenak dengan Bogor. Namun tiga tahun pasca pandemi, bisa menikmati goyangan daun cemara di Bogor Selatan.
Tidak pernah terbesit dalam sanubari dan kepala untuk berlabuh ke kota hujan atau Bogor lagi, apalagi di bagian selatan dengan nuansa yang berbeda.
Bogor Selatan, hingga sekarang masih menjadi labuhan. Menyaksikan Gunung Salak dan Pangrango dari kejauhan. Mengamati dedaunan kuning yang gugur dari pohon beringin. Alunan suara azan yang menggema di cakrawala Bogor Selatan. Dan alunan derai cemara yang menjadi saksi anak-anak manusia.
Di sebuah tempat dengan toponimi yang terbentuk dari kata “sungai” dan “beringin”, hasta dan pena mengabadikan kisah.
Ini salah satu di antara beberapa kisah, “Ketika Hujan Membasuh Rembulan di Bogor Selatan.”








