Pagi di SDN Bakung Kanor selalu dimulai dengan langkah kecil para siswa yang memasuki halaman sekolah sambil membawa harapan-harapan mereka. Namun, pada November 2025, ada satu hal yang membuat suasana sekolah itu berbeda. Bukan sekadar hiruk pikuk kegiatan belajar, melainkan hadirnya sebuah inovasi yang lahir dari dalam ruang-ruang sederhana sekolah dasar di tepian Bojonegoro: aplikasi SIMBA, Sistem Informasi SD Negeri Bakung.
Lahirnya SIMBA bukan cerita tentang teknologi semata, tetapi tentang bagaimana sebuah sekolah mencoba menjembatani kebutuhan dan kecemasan yang selama ini dirasakan orang tua, guru, dan siswa dalam proses belajar. Kepala sekolah, Ibu Sutini, S.Pd., masih ingat betul percikan gagasan awalnya. Ia melihat bahwa sekolah butuh sistem yang lebih rapi, transparan, dan dapat diakses kapan saja, oleh siapa saja yang berkepentingan atas pendidikan anak-anak di sana. “Kami ingin seluruh administrasi dan komunikasi lebih efisien dan bisa dipantau dengan mudah. Itu harapan awal kami,” kenangnya.
Dari ide itu, perjalanan SIMBA dimulai. Bukan dengan tim besar atau anggaran raksasa, tetapi dengan semangat kolaborasi yang tumbuh di antara para guru. Di ruang guru yang tidak terlalu luas, beberapa nama berkumpul mengolah ide, salah satunya Bapak Pambudi, S.Pd., yang menjadi inisiator sekaligus penggerak utama. Bersama operator dan bantuan pihak eksternal, mereka menata satu per satu fitur yang kelak akan memudahkan ratusan warga sekolah. Dalam waktu yang relatif singkat, tanpa banyak sorot kamera, SIMBA resmi rampung pada 6 November 2025.
Ketika diluncurkan dua hari kemudian, SIMBA bukan hanya hadir sebagai aplikasi; ia menjadi jendela baru yang mempertemukan guru, siswa, dan orang tua dalam cara yang lebih jujur dan real time. Absensi, nilai, kesehatan siswa, hingga tabungan sekolah kini bisa dilihat kapan saja hanya melalui gawai. Tidak lagi menunggu rapor dibagikan, tidak lagi menebak apakah anak benar-benar masuk sekolah hari itu.
Bagi para guru, SIMBA memberi napas baru dalam rutinitas administrasi yang selama ini memakan waktu. “Absensi, nilai, laporan perkembangan—semuanya kini tersimpan rapi dan bisa diakses kapan saja,” kata Bapak Fa’iz Nur Abdillah, S.Pd., yang terlihat sumringah ketika menceritakan perubahan ini. Fitur rekap nilai otomatis dan komunikasi langsung dengan orang tua menjadi alasan utamanya. “Rasanya bangga melihat inovasi lahir dari sekolah kami sendiri,” tambahnya.
Di sisi lain, perubahan yang paling terasa justru datang dari rumah. Para orang tua kini merasa lebih dekat dengan proses belajar anak. Ibu Vivin, salah satu wali murid, sering membuka SIMBA sepulang bekerja. Dalam beberapa detik saja ia sudah tahu nilai ulangan, kehadiran, hingga catatan penting dari guru. “Saya jadi lebih terlibat. Lebih tahu apa yang terjadi dengan anak saya,” tuturnya.
Dan bagi seorang anak bernama Zahra, SIMBA bukan sekadar aplikasi; ia adalah sumber motivasi baru. “Sekolahku jadi keren. Setelah ulangan, aku dan Mama lihat nilai bareng. Jadi semangat belajar,” katanya dengan mata berbinar.
Namun, setiap inovasi memiliki tantangannya sendiri. Tidak semua guru dan orang tua langsung terbiasa menggunakan teknologi ini. Ibu Sutini menyadari betul bahwa adaptasi adalah proses panjang. Tetapi dari hari ke hari, pelatihan dan pendampingan membuat mereka semakin terbiasa. Meski SIMBA belum meraih penghargaan apa pun, sekolah tetap yakin bahwa aplikasi ini akan membawa dampak besar bagi budaya kerja dan prestasi para siswa.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro turut memberikan dukungan moral, melihat langkah SDN Bakung Kanor sebagai gerak maju digitalisasi pendidikan dasar.Ke depan, harapan sekolah tak berhenti pada SIMBA versi sekarang. Mereka ingin menghadirkan fitur pembelajaran daring, penilaian otomatis yang lebih komprehensif, sampai integrasi dengan Dapodik. Bahkan ada keinginan agar aplikasi ini dapat diunduh langsung dari Play Store dan App Store. “Mimpi kami sederhana: SIMBA tidak hanya bermanfaat bagi kami, tetapi juga menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain,” tutup Ibu Sutini.
Dalam perjalanan SIMBA, SDN Bakung Kanor seakan sedang mengukir babak baru bagi pendidikan dasar: babak ketika teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh, melainkan bagian dari keseharian anak-anak, guru, dan orang tua. Sebuah langkah maju yang lahir dari semangat bersama dan keyakinan bahwa pendidikan yang baik selalu dimulai dari keberanian untuk berubah.
Penulis adalah Pengamat Pendidikan dan Alumni Mahasiswa Prodi PAI Fakultas Tarbiyah UNUGIRI Bojonegoro.








