Kiai Nurmadin Kedungpring atau Kiai Kedungpring merupakan leluhur para penyebar Islam di Lamongan dan Tuban. Termasuk keturunannya adalah para masyayikh Ponpes Langitan.
Kiai Nurmaddin Kedungpring ulama yang menurunkan sejumlah aulia. Banyak keturunan Kiai Nurmaddin yang di kemudian hari jadi sosok besar penyebar Islam di wilayah masing-masing. Di antara yang mudah dikenali dan besar pengaruhnya adalah KH Abdul Hadi Zahid Langitan, KH Ahmad Marzuqi Zahid Langitan, dan KH Abdullah Faqih Langitan.
Ketiga nama ulama tersebut, masih terhubung secara darah dengan Syekh Nurmaddin, mengingat ketiganya berasal dari Kedungpring, Lamongan. Secara genealogis, ketiga masyayikh Langitan itu masih terhitung cicit (keturunan ketiga) dari Kiai Nurmadin Kedungpring.
Tulisan ini bagian dari riset ilmiah Keluarga Besar Bani Jojogan. Riset dan penelitian sudah dimulai di wilayah Padangan Bojonegoro. Kini mulai diperlebar dan dikembangkan di wilayah Lamongan. Riset ilmiah ini bertujuan untuk menauladani sisi baik para pendahulu.
Bani Jojogan masyhur Keluarga Besar yang memiliki ikatan emosional kuat. Terutama dalam hal perlawanan pada Belanda dan persebaran islam. Ini bukan sekadar dongeng hiperbolis. Tapi terbukti secara empiris berdasar data yang memang benar-benar tertulis.

Surat di atas ditulis KH Zaini bin Yasin (cicit Mbah Syihabuddin Padangan) untuk KH Abdul Hadi Zahid (cicit Kiai Nurmadin Kedungpring). Mengabarkan bahwa adiknya yang bernama KH Muhammad Hadi (menantu KH Ahmad Basyir Petak), telah wafat. Beliau minta agar di Ponpes Langitan diadakan sholat ghaib. Banyak naskah dan data empiris tentang Bani Jojogan, terawat dan tersimpan rapi di Maktabah Padangan, sebagai keluarga tua Bani Jojogan.
Semua nama ulama di atas, tergabung dalam ikatan Keluarga Besar Bani Jojogan. Baik dari poros Kedungpring maupun poros Padangan. Karena itu, pada awal dekade 1900 M, terdapat sebuah pertemuan besar bernama Muktamar Jojogan yang berada di puncak Bukit Nglirip Jojogan.
Artikel ini bersifat konstruktif. Sehingga perlu kiranya pembaca yang mempunyai data tambahan atau koreksi, dengan senang hati kami akan menerimanya. Karena sifat tulisan ini masih perlu banyak koreksi dan tambahan data. Mengingat jauhnya interval masa hidup beliau dengan kita saat ini.
Siapa Kiai Nurmadin?
Nama Kiai Nurmadin memang tak setenar keturunannya. Tak banyak yang mengetahui sosoknya. Namanya seakan tertutup di balik nama besar para keturunanya. Namun, data ilmiah dari Padangan dan Kedungpring mampu menunjukan betapa besar peran dan pengaruhnya bagi persebaran islam.
Kiai Nurmadin hidup sekitar abad 18-19 (1700 akhir hingga 1800-an). Beliau berdakwah secara berpindah pindah. Daerah awal yang ia jadikan lahan dakwah adalah Desa Kauman, Baureno, Bojonegoro. Lalu, ia juga tercatat pernah berdakwah di Kauman, Kedungpring, Lamongan. Ini alasan beliau dikenal dengan Kiai Kedungpring.
Belum diketahui berapa lama ia berdakwah di Kedungpring maupun di Baureno. Yang jelas, ia punya kontribusi besar di kedua daerah tersebut. Khususnya terkait pengajaran agama Islam di sana.
Kiai Nurmaddin dikenal sebagai ulama yang tak hanya mempunyai kemampuan intelektual dan spiritual belaka. Ia juga dikenal sebagai ulama sakti. Untuk menggambarkan keramatnya, jika beliau menghendaki, burung yang lewat di atas kepalanya bisa mati seketika.
Hal ini bisa dimafhumi, mengingat era 1800-an dengan kondisi masyarakat yang masih akrab dengan hal-hal klenik, kemampuan-kemampuan seperti itu merupakan senjata dakwah yang banyak dipakai oleh ulama pada zaman itu.
Kebesaran Kiai Nurmadin sebagai sosok pendakwah Islam pun banyak didengar oleh santri-santri di zaman itu. Banyak sekali santri yang berbondong-bondong ikut mengaji dan menambah pengetahuannya di hadapan Kiai Nurmadin. Bahkan tidak sedikit santrinya yang ia jadikan menantu.
Sebut saja Kiai Hasan Razi Kedungpring yang menikah dengan putrinya (Nyai Kasminah binti Nurmaddin. Dari menantu Kiai Hasan Razi inilah, kelak menurunkan para masyayikh Langitan Tuban.
Selain itu juga Kiai Syamsuddin Betet yang memperistri Nyai Mursinah binti Nurmaddin. Kiai Syamsuddin Betet dikenal sebagai Wali Keramat yang cukup dikenal di wilayah Padangan dan sekitarnya. Dari Kiai Syamsuddin Betet bersama istri dari Padangan, kelak menurunkan banyak para masyayikh di Bojonegoro.
Nasab Kiai Nurmadin
Nasab Kiai Nurmaddin tercatat di sejumlah sumber empiris. Terutama manuskrip keluarga Kedungpring dan manuskrip keluarga besar Bani Jojogan. Di manuskrip keluarga Kedungpring, tercatat nama ayahnya saja. Sementara di manuskrip yang jauh lebih tua, yaitu keluarga besar Bani Jojogan, tercatat nama ibunya ke atas.
Dari garis ayah, Kiai Nurmaddin adalah putra dari Penghulu Musytari Baureno. Tak ada catatan nasab ke atasnya lagi. Sementara dari garis ibu, Kiai Nurmaddin bersambung nasab dengan Syekh Abdul Jabbar. Urutannya: Kiai Nurmadin bin Nyai Sariyah binti Kiai Abdullah bin Kiai Abdul Jalil bin Syekh Abdul Jabbar Nglirip.
Terkait sang ayah, belum diketahui siapa sosok bernama Penghulu Musytari Bureno ini. Namun, kalau dilihat dari nama dan jabatan di dalam namanya. Sosok Penghulu Musytari bisa dipastikan adalah seorang pendakwah Agama Islam.
Keluarga Kiai Nurmaddin
Istri Kiai Nurmadin bernama Nyai Fathimah. Keduanya mempunyai 6 putra dan putri. Kesemua putra dan putrinya, kelak menjadi ulama penyebar islam (aulia) di Bojonegoro dan Tuban pada abad 19-20 M. Berikut nama putra dan putri beliau secara lengkap.
1. Nyai Muthmainnah diperistri Kiai Zahid Kandangrejo
2. Kiai Ma’ruf Berek Bojonegoro
3. Nyai Mursinah diperistri Kiai Syamsuddin Betet Padangan
4. Nyai Thoyibah Kalen
5. Nyai Thohiroh diperistri Kiai Zahid Baureno
6. Nyai Kasminah diperistri Kiai Hasan Razi, Kedungpring
Dari keturunan-keturunan Kiai Nurmadin ini, lahir banyak sekali tokoh yang secara ideologis perjuangan secara konsisten meneruskan apa yang telah diperjuangkan Kiai Nurmadin.
Dari putri pertama Kiai Nurmadin yang bernama Nyai Muthmainnah + Kiai Zahid Kandangrejo. Lahir sosok bernama Kiai Alwi yang merintis pesantren di Kauman, Kedungpring. Pesantren-pesantren di sekitar kedungpring.
Dari putra yang bernama Kiai Ma’ruf Berek Bojonegoro, lahir sosok Kiai Rowi yang kemudian ikut membantu pesantren Kiai Alwi di Kedungpring.
Dari putri Nyai Kasminah + Kiai Hasan Razi, lahir cicit dari Kiai Nurmadin KH Abdul Hadi Zahid (Pengasuh PP. Langitan ke-4), KH Ahmad Marzuqi Zahid (Pengasuh PP Langitan ke-5), dan KH. Abdullah Faqih (Pengasuh PP. Langitan ke-5). Ketiganya merupakan cicit dan buyut dari Kiai Nurmadin.
Kemudian KH. Abdul Rouf (Wakil Bupati Lamongan, Pengasuh PP. Miftahul Qulub Lamongan), KH. Muchsin, KH Ridwan (Pengasuh PP. Hidayatul Akbar, Kedungpring), KH. Sun’an Djunaidi (Pengasuh PP. Al-Husna, Kedungpring). Dan masih banyak lagi sebenarnya sosok-sosok penting keturunannya yang meneruskan peruangan Kiai Nurmadin.
Tidak semua nama akan cukup dituliskan dalam risalah singkat ini. Akan tetapi sedikit nama di atas adalah gambaran kecil dimana rintisan perjuangan dakwah yang dulu dibangun masih terus dirawat oleh keturunannya.
Sanad Keilmuan Kiai Nurmadin
Sebagai sosok ulama yang kelak menjadi titik simpul para ulama. Tak banyak informasi yang bisa dihimpun terkait sanad keilmuan dan historiografi perjalanan intelektualnya. Nama yang pasti memberi pengaruh dalam hidupnya adalah sosok ayahnya sendiri, Pengulu Musytari. Selain itu tidak banyak data yang bisa menghimpun perjalanan intelektualnya.
Peninggalan Kiai Nurmaddin
Posisi intelektual Kiai Nurmaddin bisa dibuktikan dengan ditemukannya manuskrip yang menyebut nama Kiai Nurmadin di dalamnya. Manuskrip ini merupakan bukti sahih bahwa sosok Kiai Nurmadin merupakan sosok historis yang nyata dan mempunyai kontribusi penting bagi penyebaran Agama Islam.
Manuskrip yang dimaksud, merupakan koleksi Kiai Syamsuddin Betet (w. 1890 M) yang merupakan menantu dari Kiai Nurmaddin. Manuskrip tersebut berupa mushaf Qur’an tulisan tangan Kiai Nurmaddin. Sebuah pemberian Kiai Nurmaddin Kedungpring untuk Kiai Syamsuddin Betet.

Sebagai santri dan menantu, Kiai Syamsuddin terpaksa harus berpisah dengan Nyai Mursinah binti Nurmaddin karena sebuah alasan ideologis. Karena itu, Syekh Nurmaddin memberikan sebuah kenang-kenangan untuk menantunya tersebut.
Sebagai informasi, Kiai Syamsuddin Betet mempunyai dua istri. Istri pertama bernama Nyai Mursinah binti Nurmaddin (putri Syekh Nurmaddin Kedungpring). Istri kedua bernama Nyai Wajiroh binti Syihabuddin (putri dari Syekh Syihabuddin Padangan).
Kiai Syamsuddin Betet adalah ulama yang diambil mantu dua ulama besar. Mertua pertama Syekh Nurmaddin Kedungpring (leluhur para masyayikh Lamongan dan Tuban). Mertua kedua Syekh Syihabuddin Padangan (leluhur para masyayikh Bojonegoro dan Tuban).
Dalam perpisahan dengan Syekh Nurmaddin, Kiai Syamsuddin diberi kenang-kenangan berupa mushaf Qur’an. Mushaf berupa tulisan tangan itu, ditulis dengan kertas Eropa yang cukup tebal. Di mana, di halaman muka terdapat identitas begitu jelas menyebut “Ingkang Gadah Bagus Jali kasebut Kiai Nurmaddin Kauman”.
Manuskrip tersebut, sekali lagi, membuktikan bahwa sosok Kiai Nurmaddin memang merupakan ulama yang mempunyai peran dan kontribusi penting bagi perkembangan Islam. Khususnya di wilayah Kauman, Kedungpring, Lamongan.
Makam Kiai Nurmaddin Kedungpring
Kiai Nurmaddin memang berdakwah di Kauman, Kedungpring, Lamongan. Namun, di akhir hayatnya, Kiai Nurmaddin kembali ke kampung kelahirannya di Desa Kauman, Baureno, Bojonegoro, hingga wafat. Tidak diketahui secara spesifik tahun meninggal Kiai Nurmadin. Namun jika melihat periodisasi masa hidupnya, Kiai Nurmadin diperkirakan wafat pada 1800 M. Makam Kiai Nurmaddin Kedungpring bisa dijumpai di Makam Migit, Dusun Kebon, Desa Kauman, Kecamatan Baureno, Bojonegoro.








