Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Koboy Kampus dan Beban Mahasiswa Semester Akhir

Yudi Kuswanto by Yudi Kuswanto
27/11/2020
in Cecurhatan
Koboy Kampus dan Beban Mahasiswa Semester Akhir

Film Koboy Kampus memberi inspirasi betapa jadi oposisi itu nggak melulu melakukan demonstrasi. 

Seolah ada magnet tersendiri ketika ‘ayah’ sapaan akrab generasi muda untuk seorang novelis yang tenar akibat trilogi Dilan-nya, yakni Pidi Baiq, bahwa sepenggal kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah karya film.

Tentu siapa yang tidak ingin mengetahui lika-liku hidupnya, apalagi usai Dilan dalam versi buku dan filmnya meledak. Bukan hanya Pidi Baiq saja yang mampu menggerakan orang-orang untuk sedia menonton Koboy Kampus.

Jason Ranti yang memerankan sosok ayah Pidi kala masih menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung kian memikat siapa saja untuk bergegas melihat karya dari Tubagus Deddy yang dalam pengakuanya, katanya, butuh waktu hingga enam tahun untuk melakukan riset terhadap grup musik The Panas Dalam Bank.

Saya rasa untuk kedua orang ini: Jason Ranti dan Pidi Baiq mempunyai berbagai kesamaan; pertama, dalam karya musik bagi orang awam lirik-liriknya tergolong absurd padahal itulah sarkasme yang digunakan oleh keduanya untuk menanggapi kondisi sekitarnya.

Kedua, sama-sama Imam Besar, Jason Ranti sebagai Imam Besar Gerombolan Woyo serta Pidi Baiq pun juga Imam Besar The Panas Dalam, bedanya hanya terletak pada Imam yang lebih senior dan junior dalam hal ini tentu saja Pidi Baiq adalah imam yang lebih senior, maka tak mengherankan jika Jason Ranti sendiko dhawuh terhadap ayah Pidi, kala beliau memilih Jason Ranti untuk memerankan dirinya.

Dalam film tersebut dikisahkan jika Pidi merupakan mahasiswa yang apolitis terhadap situasi perpolitikan Indonesia di zaman rezim Soeharto dulu, tapi ia juga nampak kecewa meski tanpa diikuti gerak militan sebagai mahasiswa, yakni agen of change.

Bersama empat kawannya, lantas membuat gerakan budaya tanding dengan mendirikan negara fiktif bernama The Panas Dalam, jika diulas penamaannya; namanya merupakan bentuk akronim a-The-is, Pa-ganisme, Nas-rani, Hindi bu-Da serta is-Lam.

Secara makna filosofis Pidi mengatakan dalam negara tersebut boleh berbeda keyakinan namun tetap satu tujuan yang sama.

Pada kenyataanya, setelah menonton film Koboy Kampus, secara pribadi saya juga tersulut untuk membuat budaya tandingan dengan cara atau pola yang sama yaitu membentuk negara fiktif untuk menyikapi negara yang masih terdapat banyak ketimpangan.

Dari ini semua, seolah membuat saya pribadi sebagai mahasiswa akhir tereduksi impian awal ketika masih unyu-unyu menjadi mahasiswa.
Yang dulunya ingin lulus tepat waktu, cumlaude, dan banyak prestasi ditorehkan, sekarang malah tak menginginkan lagi.

Pikiran cekak nan dangkal yang menjadi dasarnya, ada pada ketika saya lulus tepat waktu mau kerja apa, ya masa’ kerja ntar malah jadi budak para pemilik modal, masa’ tidak lebih baik tetap menyuburkan gagasan idealisme yang mengubah tatanan masyaakat dari bawah, syukur-syukur bisa mempengaruhi yang diatas, dalam artian tetap memperteguh sikap oposisi kepada pemerintah.

Sikap oposisi jangan dulu dimaknai sebagai gerakan yang hanya turun ke jalan lalu merusak fasilitas publik, bisa berarti sikap oposisi kaitanya pada terus merawat akal dengan cara melakukan diskusi.

Nantinya ini juga akan bermuatan positif pula terkait budaya ngopi kalian yang hanya datang-duduk-diam-diaman memiringkan gawai.

Lantas darimana saya menjumpai kebimbangan untuk terus bergerak dan nantinya akan berpengaruh pada lama waktu studi? Tanpa perlu ditanya ini sudah terjawab jika membaca tulisan ini tanpa skip, yakni film Koboy Kampus itu sendiri.

Bedanya, mereka bersikap politis dengan apolitis-nya, saya tanpa ada rasa jumawa bersikap politis dengan menghidupakan ruang diskusi di kalangan mahasiswa.

 

 

Tags: Jason RantiKoboy KampusPidi Baiq
Previous Post

Safari Anti Korupsi di Pulau Garam Madura

Next Post

Kenapa Banyak Akhi-akhi Menolak Feminisme?

BERITA MENARIK LAINNYA

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”
Cecurhatan

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

21/09/2026
Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat
Cecurhatan

Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

20/09/2026
Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab
Cecurhatan

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

15/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

Prabowo, Pakar, dan Kritik Pemerintah: Belajar dari Buku “Matinya Kepakaran”

21/09/2026
Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

Wanareksa: Pejuang Ekologis, Penjaga Rimba Jawa Utara

21/09/2026
Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

Reformasi yang Berhenti di Meja Rapat

20/09/2026
Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro

Briefing Akbar KIBO 12: Sambutan Awal Menjelang Hari Inspirasi 2026 di Bojonegoro

19/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: