Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kritik Dalam Lirik, Melbi Tetap Asik Bermusik

Chusnul Chotimmah by Chusnul Chotimmah
20/11/2025
in JURNAKULTURA
Kritik Dalam Lirik, Melbi Tetap Asik Bermusik

Majelis Lidah Berduri

“Tak kah semestinya ada yang berubah pada arah?”

Dua tahun terakhir, aku mulai sering mendengarkan satu band lokal yang konon kata adalah band gaib, Majelis Lidah Berduri (yang dulunya adalah Melancholic Bitch).

Julukan itu barangkali karena band ini punya kebiasaan hilang dan tiba-tiba muncul. Konsernya di beberapa kota sering digelar dadakan. Poster pemberitahuan dan tiket dijual secara dadakan dan terbatas, sehingga konsernya terasa intim, tapi juga sekaligus magis.

Tahun lalu, ketika album Hujan Orang Mati (HOM) dikeluarkan, aku merasa janggal dengan musiknya. Rasanya ada yang berbeda dengan Melbi (nama panggung Majelis Lidah Berduri) yang lekat dengan ‘melankolis’.

Sesuai nama awalnya ‘Melancholic Bitch’. Mengenal Melbi dari ‘Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa‘, lalu disuguhi deretan lagu dalam Hujan Orang Mati tentu adalah perpindahan ritme yang menurutku cukup signifikan.

Dalam bayanganku, yang melekat dari Melbi adalah kritiknya dalam lirik yang dibungkus dengan musik melankolis, sebagaimana ketika bercerita tentang kencan idealis yang menghasilkan anak-anak revolusi yang mati dengan kemewahan.

Mendengarkan musik Melbi seperti membaca puisi: kata berserakan di lantai yang harus dipungkut dan dirangkai sendiri untuk bisa dipahami dengan tafsir pribadi. Tentu saja kadang pendengar tak paham apa yang hendak disampaikan, ketika tak mengenal latar belakang penulisnya.

Bagiku, Melbi selalu punya cara membungkus kritik sosial dengan cara-cara yang puitis, yang melankolis. Maka itu, aku bersetia dengan NKKBS Bagian Pertama sebagai bentuk penyangkalan bahwa ada yang berubah dari musik si Melbi di dalbumnya yang baru (HOM).

Memang perubahannya bukan hal yang esensial, tapi ini menyangkut keterikatan emosional. Preferensi personal soal bagaimana ide-ide di kepala yang kita lekatkan pada sesuatu, yang membentuk kekhasannya, yang membuatnya begitu familiar, begitu dekat, begitu akrab bahkan ketika musiknya hanya terdengar dari kejauhan, “Oh, itu lagunya Melbi!” Karena di bawah alam sadarku, hal yang kukenali adalah “Melbi itu ya melankolis. Namanya saja Melancholic Bitch.” Ketika orang mendengar ritme dan liriknya, mereka akan berkata, “you’re so melancholic, Bitch!”

Rupanya setahun berlalu, pendapatku berbeda tentang Hujan Orang Mati. Perubahan memang tak bisa disangkal. Hal yang kurasakan adalah musik Melbi di album barunya lebih enerjik. Itu betul dan kentara. Tentu ini bikin kita nggak bisa dengerin sambil bengong di depan pintu saat sore hari atau sambil melamun ketika hujan turun.

Musik ini lebih cocok untuk menjadi teman ketika lari atau beraktivitas lainnya dan itu yang sering kulakukan. HOM menjadi akrab dengan telingaku saat aku lari atau jalan kaki.

Setelah mendengar albumnya secara penuh, kurasa, Melbi masih sama, rupanya. Masih menyelipkan kritik di dalam lirik. Masih dengan pesan yang membuka mata kita tentang masalah-masalah sosial yang seringkali dianggap normal dan wajar: sindiran untuk aktifis yang putar haluan setelah berubah ekonominya; reminder untuk orang-orang yang dibunuh secara brutal dan dipertontonkan di hadapan massal; dogma agama yang membuat kita cacat dalam berpikir sehat; dan hal-hal lainnya. Begitu pula dengan album HOM.

“Tak kah semestinya ada yang berubah pada arah?”

Potongan lirik di atas adalah ajakan serius untuk kita merenungkan sesaat tentang apa-apa saja yang telah dan sedang terjadi. Nasib naas yang dialami oleh kawan kita di beberapa daerah. Perampasan tanah yang menghilangkan rumah, menghilangkan mata pencaharian, bahkan nyawa.

Konflik agraria yang berkepanjangan dan negara seolah menutup mata dari persoalan yang serius. Album HOM seperti rangkaian cerita untuk mengatakan ini semua.

“Serapuh larik yang kau tak bisa tuntaskan
Kami kemarau yang terus
Digerus dan dirampas mata airnya…”

Barangkali bukan kita, tetapi saudara atau rekan kita. Tapi, ketika nasib malang itu bisa terjadi pada mereka, bukankah selalu ada kemungkinan itu bisa juga terjadi pada kita? di suatu hari dan di suatu saat nanti, saat satu per satu kejahatan, ketidakadilan, penindasan dibiarkan dan diwajarkan.

“Kami adalah ahli waris yang sah
Dari dunia yang pecah
Kami adalah ahli waris yang sah dari dunia yang
hampir meledak
Mencari cari pintu keluar
Pelan pelan kami akan menjadi sepenuhnya gelagat…”

Memang benar. Kita dipaksa untuk menerima rangkaian kebrutalan sebagai sebuah takdir, layaknya anak yang menjadi ahli waris untuk semua hutang dan kekayaan orang tua. Tapi, bukan berarti itu tak bisa diubah, kan? Maka itu, kita yang harus memulai untuk bertanya pada diri sendiri (dahulu).

“Revolusi apa yang sedang kau siapkan pagi ini?”

Kupikir, ini adalah ajakan yang serius untuk keadaan yang genting. Keadaan yang darurat. Kritik ini adalah upaya penyelamatan dengan menularkan kewaspadaan; dengan menularkan kesadaran; dengan gugatan pada mereka yang berwenang menyelesaikan.

Ini adalah album paling optimis dari Melbi yang menuntut harapan untuk perubahan. Kita memang tidak bisa terus diam, bukan? Harus ada jalan keluar dan itulah yang sedang kita gugat bersama dengan demo, dengan tulisan, dengan lagu, dengan puisi, dengan seni dan dengan apapun yang bisa dilakukan dan ditularkan. Negara ini sedang tidak baik-baik saja.

Tags: Kritik dalam LirikMajelis Lidah BerduriOpini Musik
Previous Post

Tanam Beringin di Sendang, Sebuah Upaya Pemuliaan Sumber Air

Next Post

Kenapa Nanyang Technological University kian Maju?

BERITA MENARIK LAINNYA

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro
JURNAKULTURA

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Anetos: Menjahit Kualitas, Memperkuat Identitas
JURNAKULTURA

Anetos: Menjahit Kualitas, Memperkuat Identitas

06/01/2026
‎Rahasia Huruf D dalam Semesta One Piece 
JURNAKULTURA

‎Rahasia Huruf D dalam Semesta One Piece 

27/12/2025

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: