Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Lwaram: dari Jipang hingga Jejak Negeri Kuno Medang Kamulan

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
08/12/2023
in Headline, Manuskrip
Lwaram: dari Jipang hingga Jejak Negeri Kuno Medang Kamulan

Ilustrasi: Imperium Timur dan Barat Sungai penghubung Blora - Bojonegoro

Ngloram, Jipang, Padangan, Merbong, dan wilayah di batas Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan serpihan jejak negeri Medang Kamulan. Sebuah imperium kuno sebelum era Majapahit. 

Buku berjudul Lwaram Dalam Lipatan Masa (2023) karya Totok Supriyanto cukup menyita perhatian saya selama seminggu ini. Buku setebal 151 halaman tersebut, dikirim langsung oleh penulisnya kepada saya. Tentu ini sebuah kehormatan bagi saya. Terlebih, ia juga meminta saya untuk memberi masukan dan membuat resensi ringkas tentang isinya.

Di tengah belantara rerimbunan artefak sejarah Kota Blora, sejak lama nama Totok Supriyanto menarik perhatian saya. Ia satu di antara — untuk tak mengatakan satu-satunya — pemerhati sejarah Blora yang mampu menyajikan ulasan logis di tengah badai mitos yang teramat kronis. Keberadaannya sangat langka.

Dalam buku karyanya ini, Totok menyebut bahwa Lwaram (nama kuno dari Ngloram), merupakan simpul penting sekaligus stasiun penghubung kerajaan-kerajaan kuno. Termasuk menjadi pusat peradaban Pulau Jawa, bahkan ratusan tahun jauh sebelum nama Majapahit lahir ke dunia.

 

Buku tentang Lwaram dan jejak nyata Medang Kamulan

Menurut saya, hipotesa Totok sangat penting. Bahkan secara personal, saya mendukung hipotesa itu. Pemahaman ilmiah semacam ini penting untuk diketahui. Sehingga pola pikir kesejarahan kita tidak berhenti pada sebuah masa yang sesungguhnya hanya bagian kecil dari rentetan peristiwa besar di sekitarnya.

Diakui atau tidak, saat kita berbicara tentang Ngloram (Jipang), sejarah seolah berhenti pada menara gading zaman Kesultanan Demak. Padahal, ratusan tahun sebelumnya, Jipang sendiri sudah lahir sebagai bagian penting dari peristiwa pembentuk peradaban Pulau Jawa.

“Antara pantai utara Jawa dengan istana Kesultanan Jawa, dari Grobogan menuju Lamongan, terdapat kawasan hutan purba, membentang sepanjang hutan kapur Kendeng Tengah dan Utara. Di dalam hutan inilah, asal-usul peradaban Jawa dimulai” — begitu Totok Supriyanto membuka bab I buku berjudul Lwaram Dalam Lipatan Masa (2023) ini.

Memulai sejarah Ngloram (Jipang) dari keberadaan Kesultanan Demak (Arya Jipang) tentu sebuah pembonsaian sejarah. Melalui bukunya ini, Totok ingin menunjukan bahwa dinamika sejarah Jipang sudah bermula ratusan tahun sebelum Arya Jipang lahir ke dunia. Dan pemahaman ini, menurut saya, sangat penting sehingga kerangka berpikir kita tidak terbonsai oleh momentum.

Dalam bukunya, Totok menyebut Ngloram (Jipang) sudah ada bahkan 500 tahun sebelum Kesultanan Demak lahir ke dunia. Jika ditarik garis kronik, Ngloram sudah ada sejak Era Medang Kamulan (abad 10 M), Kerajaan Kahuripan (abad 11-12 M), Kerajaan Singasari (abad 13 M), Kerajaan Majapahit (abad 14 M), hingga era Kesultanan-kesultanan Islam (abad 15 M).

Benar jika Ngloram sudah ada ratusan tahun sebelum zaman Kesultanan Demak (Arya Jipang). Prasasti Pucangan Sansekerta (1037 M) menyebut bahwa Ngloram adalah tempat asal dari seorang pemimpin bernama Haji Wurawari (Aji Wurawari) yang hidup pada masa Raja Dharmawangsa Teguh berkuasa di Pulau Jawa. Raja Dharmawangsa Teguh adalah raja terakhir Kerajaan Medang yang berkuasa pada (991 -1016 M).

Data ini juga diperkuat keberadaan Prasasti Canggu (Majapahit, 1358 M) dan Prasasti Maribong (Singasari, 1264 M). Perlu diketahui, lokasi dalam Prasasti Maribong kini jadi wilayah Dusun Merbo (Padangan) dan Dusun Merbong (Ngraho). Dua tempat ini berada di sisi timur bantaran sungai tak jauh dari lokasi Ngloram (Jipang).

Informasi dari Prasasti Maribong (1264 M) menunjukan secara sahih bahwa Imperium Jipang berada di sisi barat dan timur sungai. Wilayahnya tak dibatasi dikotomi Bengawan Solo. Terbukti, penelitian arkeologis UGM pada 2011 menyebut bahwa Tebon Padangan, yang notabene berada di sisi timur Bengawan Solo, justru menjadi pusat reruntuhan candi.

Hal ini juga jadi penguat ketika Gus Dur dalam buku berjudul The Passing Over (1998) menyebut bahwa Jipang Padangan (Cepu-Bojonegoro) menjadi lokasi dakwah Syekh Jumadil Kubro, sebelum ia berdakwah di Mojokerto (pusat Majapahit). Artinya, sisi timur dan barat Sungai Bengawan Solo adalah satu imperium besar yang sudah ramai jauh sebelum kedatangan Islam.

 

Ilustrasi: Jipang Padangan, Jembatan Peradaban

Bahkan hingga periode 1800 M, manuskrip ditulis Syekh Abdurrohman Klotok juga kerap menyebut nama “Biladi Jipang Padangan” sebagai nisbat penulisan kitab. Istilah “Biladi”, tentu identik sebuah imperium. Dalam arti lain, sisi barat dan timur sungai Bengawan Solo adalah satu kesatuan tlatah yang punya peran besar dalam penentuan gerak laju sejarah, dari zaman ke zaman.

Gerak Sentrifugal Penulisan Sejarah

Menurut saya, Totok menulis buku Lwaram Dalam Lipatan Masa (2023) ini menggunakan gerak sentrifugal, sebuah gerak yang menjauhi pusat putaran. Ia membahas Ngloram dengan memaparkan keluasan data-fakta yang berada jauh dari pusat pembahasan, baru kemudian ia bawa menuju pusat pembahasan itu sendiri, yaitu Lwaram (Ngloram).

Sejauh pengamatan saya, penulisan sejarah di wilayah Blora dan sekitarnya selalu menggunakan konsep gerak sentripetal, pembahasan hanya melingkar dan berpusat pada inti objek. Maka tak heran jika muncul lingkaran-lingkaran semu berupa mitos di dalamnya. Sebab, sentripetal selalu menghasilkan lingkaran semu. Dalam buku ini, Totok berusaha keluar dari konsep klise tersebut.

Dalam penulisan buku ini, Totok juga berupaya mengakses sumber-sumber primer prasasti. Ini sangat otentik dan menarik. Sebab, perkara yang semula dikenal sebagai legenda, sesungguhnya adalah peristiwa-peristiwa yang pernah ada. Prasasti Pucangan Sanskerta (1037 M), Prasasti Maribong (1264 M), hingga Prasasti Canggu (1358 M), adalah bukti sahih tentang besarnya peradaban di wilayah Lwaram dan sekitarnya, jauh sebelum era Kesultanan Demak bermula.

Buku Lwaram Dalam Lipatan Masa (2023),  terdiri dari 15 bab yang menerangkan Ngloram (Jipang) dari sudut pandang yang memutar dan tidak biasa. Di antara bab-bab nya adalah; Medang Kamulan, Garuda Wisnu Kencana, Dialektika Sastra Jawa dan Islam, Jayabaya, Kapal-kapal Jati, Jembatan Peradaban, dan lain-lain.

Pembahasan dalam tulisan ini, hanya bagian kecil dari isi keseluruhan buku. Ingin rasanya saya membahas semua hasil pembacaan saya terhadap buku tersebut dalam tulisan ini. Tapi tentu saja itu kurang etis.

Bagaimanapun, para pembaca harus membaca sendiri buku berjudul Lwaram Dalam Lipatan Masa (2023) ini. Sebab, setahu saya, ini buku sejarah pertama yang membahas Ngloram (Jipang) dari sumber prasasti. Ditulis secara logis, bijak, dan penuh cakrawala referensi.

Tags: LwaramMakin Tahu IndonesiaResensi Buku
Previous Post

Sebuah Requime untuk Masa Lalu

Next Post

5 Film yang Sukses Mendaur Ulang Kenangan

BERITA MENARIK LAINNYA

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan
Manuskrip

Azimat Rantai Bumi Kasepuhan

21/10/2025
Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)
Manuskrip

Al-Masalik Wal Mamalik, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (3)

24/10/2024
Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)
Manuskrip

Rihlah Al-Sirafi, Catatan Pengembara Arab tentang Negeri Zabaj Al Jawi (2)

17/10/2024

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: