Tradisionalis Kontemporer, begitu prinsip yang dijunjung tinggi Madrasah Alternatif Guratjaga, sebuah sekolah kehidupan yang amat sederhana.
Madrasah Guratjaga tentu tak serupa madrasah pada umumnya. Jika selama ini madrasah identik bangunan sekolah, Madrasah Alternatif Guratjaga hanya kelas belajar.
Madrasah Guratjaga bukan bangunan fisik, melainkan bangunan psikis berupa kemauan untuk terus belajar. Ini sesuai akar kata madrasah, dari bahasa Arab: darasa, yang artinya belajar.
“Darasa, nderesa, nderes. Urip sing penting nderes (membaca).” Begitu kata Mas Rizky, salah seorang fasilitator belajar di Madrasah Alternatif Guratjaga.
Sejak diresmikan sebagai ruang belajar pada Januari 2021 lalu, Madrasah Alternatif Guratjaga terus konsisten menggelar acara rutin Kamisan hingga saat ini. Jumlah pesertanya pun selalu konsisten, tak pernah lebih dari 5 orang. Wqwq ~
Memang sejak awal didirikan, Madrasah Guratjaga tak memedulikan jumlah peserta. Banyak disyukuri, sedikit ditinggal ngopi ya tetep dilakoni. Sebab kita sedang belajar, tidak sedang berkampanye.
Meski terkesan santuy dan nonformal, proses belajar di Guratjaga sangat sistematis terjadwal. Misal, sebelum belajar di mulai, kami membaca Fatihah dan Surat Yasin bersama. Ini alasan kenapa kelas Guratjaga dilaksanakan tiap hari Kamis.
Pembacaan Fatihah dan Surat Yasin, adalah bukti penting sekaligus pengingat bahwa kami seorang tradisionalis yang selalu memegang tradisi positif orang-orang terdahulu.
Setelah pembacaan Surat Yasin, agenda berikutnya adalah sema’an karya. Di mana, para peserta belajar harus mengumpulkan karya tulis berupa opini pribadi yang telah disiapkan dari rumah masing-masing, untuk kemudian disimak bersama-sama.
Proses sema’an karya ini sangat menegangkan. Sebab, karya kami disimak dengan seksama. Tiap kata, kalimat, bahkan peletakan titik-koma, dianalisis. Tujuannya, agar kami belajar peka pada perihal kecil.
Di Guratjaga, menulis opini pribadi ibarat makanan sehari-hari. Sebelum berangkat ke kelas Guratjaga, kami wajib membawa bekal berupa opini. Terserah, opini apa saja boleh dibawa, asal dalam bentuk tulisan. Sehingga bisa disimak dan “dihakimi secara ilmiah” bersama-sama.
Kenapa opini? Guratjaga memaknai opini sebagai “paradigma” hidup. Dan semua orang punya sudut pandang (paradigma) atas respon terhadap apa yang dia lihat dan rasakan.
Kenapa harus ditulis? Menulis adalah salah satu (untuk tak mengatakan satu-satunya) cara berparadigma secara orisinil, ilmiah dan bertanggung jawab.
Selain itu, menulis juga mengurangi potensi perdebatan yang tidak jelas. Sebab, “paradigma” tidak langsung mbrosot ke mulut, tapi ditertibkan untuk lewat saraf tangan dan jari-jemari terlebih dahulu.
Hal ini terbukti mengurangi kecepatan “paradigma”, agar tak nyrocos keluar di saat yang tidak tepat. Sebab, ia dipikir dan dianalisa terlebih dahulu.
Ohya, secara umum, Guratjaga bukan kelas menulis, tapi kelas berpikir dan belajar. Kenapa harus membawa tulisan? Ini sebagai bukti konkret bahwa apa yang kita akan sampaikan, sudah dibaca dan ditulis terlebih dahulu.
Ya, di Guratjaga, para peserta belajar dilatih untuk tidak ndobos ngalor-ngidul tanpa kejelasan.
Nah, setelah pembacaan Surat Yasin dan sema’an karya para peserta, kita baru masuk kelas. Karena bersifat kelas, proses pembelajaran dan diskusi di Madrasah Guratjaga sangat multitema.
Kadang kita belajar tentang sains, politik, filsafat, psikologi, antropologi sosial, pembacaan manaqib figur tertentu, hingga giat vokasional seperti desain dan riset. Tema ini sesuai kesepakatan dan sesuai fasilitator yang siap didatangkan.
Pembelajaran tentang sains, filsafat, politik, psikologi, antropologi sosial hingga giat vokasi, adalah bukti bahwa se-tradisionalis apapun, kami tetap menjalani hidup secara kontemporer dan berwawasan kiwari (hari ini).
Para pendiri Guratjaga menjadikan Tradisionalis Kontemporer sebagai pondasi. Agar kita yang hidup hari ini, menjaga perihal positif para moyang terdahulu. Dan di saat yang sama, tetap bisa hidup secara hari ini.
Pada pertemuan yang entah ke berapa kali ini (7/5/2021), Guratjaga membahas ihwal ulama-ulama penulis yang karya mereka abadi. Ini bagian dari kelas Manaqib Figur.
Kelas ini bertujuan untuk mengenal dan menumbuhkan rasa cinta pada mereka yang punya peran besar bagi ilmu pengetahuan, tapi masih jarang yang membahasnya.
Meski Guratjaga belum banyak orang, tapi sangat menjunjung tinggi istiqomahitas para peserta belajar. Sikap istiqomah dan rasa gembira saat belajar inilah, pilar yang jadi landasan Guratjaga didirikan.
Nabs, manusia hakikatnya makhluk pembelajar. Di dunia ini kita dilahirkan untuk menuntut ilmu. Sebab, ilmulah yang akan menuntun kita saat sudah tua, bukan si dia yang marah-marah saat chat-nya tak segera kau balas. ~
Kelas Guratjaga tak terasa sudah larut malam. Bunyi ‘teng’ 12 kali, mengakhiri kelas Guratjaga kali ini. Sebab, semua harus istirahat, untuk melanjutkan kewajiban yang dijalani.








