Kabupaten Bantul bukan hanya dikenal akan keindahan pantai dan panorama alam. Di sana terdapat wisata religi, yaitu makam (petilasan) Syekh Maulana Maghribi. Nama ini memiliki sejarah dalam penyebaran Islam di sekitar Pantai Parangkusumo sekaligus sang penurun raja-raja Jawa.
Makam (petilasan) Syekh Maulana Maghribi terletak di Bukit Sentono, tepatnya di Jalan Parangtritis, Kretek, Kabupaten Bantul. Syekh Maulana Maghribi merupakan tokoh berasal dari Maroko. Ia penyebar Islam di Pulau Jawa yang konon datang pada tahun 1404 M.
Beliau tidak menetap di satu tempat, tetapi berdakwah keliling hingga ke pelosok- pelosok daerah. Kapan wafat dan lokasi makam belum diketahui secara jelas. Sebab, informasi hanya bersunber dari kisah masyarakat.
Untuk diketahui, dilansir dari situs Kementerian Kebudayaan, makam dengan nama yang sama (Syekh Maulana Maghribi) juga berada di Cirebon dan Klaten. Sehingga, sampai saat ini, belum diketahui apakah yang berada di Parangtritis Bantul termasuk makam atau hanya petilasan.
Untuk diketahui, makam dan petilasan itu berbeda. Makam adalah tempat disemayamkannya jenazah tokoh. Sementara petilasa adalah tempat yang pernah dikunjungi sang tokoh.
Keberadaan makam seorang tokoh, harus dibuktikan secara ilmiah melalui inkripsi nisan atau manuskrip dan tulisan. Sementara keberadaan petilasan, biasanya bersumber dari sebuah cerita. Itu pun masih belum tentu benar nama tokohnya.

Untuk memasuki petilasan sang ulama, pengunjung harus berjalan meniti puluhan anak tangga dengan pemandangan kiri-kanan masih hutan. Di beberapa titik terdapat pengemis yang duduk sambil menanti belas kasihan para pengunjung. Semakin naik, akan terlihat jelas pemandangan laut selatan dan suara deburan ombak. Pasalnya, makam ini tidak jauh dari Pantai Parangkusomo.
Makam Syekh Maulana Maghribi berada di sebuah cungkup. Di depannya ada sebuah pendopo besar yang digunakan para pengunjung untuk beristirahat, tetapi ketika ramai akan dijadikan tempat berdoa. Di dalam cungkup terlihat nisan berukuran besar yang ditutup kain putih kekuningan. Begitu masuk area cungkup akan tercium aroma bunga dan kemenyan yang dibakar oleh abdi dalem di cerobong kecil depan cungkup.
Dari Lisan ke Lisan
Dalam sebuah cerita, Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis dikisahkan bertemu dengan Joko Dandung dan Joko Jantrung. Keduanya adalah putra dari Raja Majapahit, Brawijaya V. Mereka kemudian ikut menyebarkan Islam sehingga dikenal sebagai Syekh Bela-Belu dan Syekh Damiaking. Kedua makam mereka juga terletak tidak jauh dari makam Syekh Maulana Maghribi.
Tidak hanya itu, cerita Syekh Maulana Maghribi juga dikaitkan dengan tokoh Begawan Selahening, pendeta Hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan sisa batu candi dan yoni di sekitar lokasi makam. Menurut cerita rakyat, kedatangannya sempat ditolak oleh Penembahan Selahening.
Lalu, Syekh Maulana Maghribi dan Panembahan Salahening saling beradu kekuatan dengan petak umpet dan memancing di laut.
Syekh Maulana Maghribi berhasil memenangkan pertarungan dengan mendapatkan ikan terlebih dahulu. Akhirnya, Panembahan Selahening mengakui kesaktiannya dan memberikan izin untuk menyebarkan agama Islam di daerah Bantul.
Saat ini, bangunan makam Syekh Maulana Maghribi dikelola oleh Keraton Yogyakarta dan dijaga oleh abdi dalem keraton yang sama-sama menjaga makam Syekh Bela-Belu dan Cepuri Parangkusumo.
Makam Syekh Maulana Maghribi saat ini dimanfaatkan masyarakat untuk wisata religi yang memberikan gambaran mengenai tradisi berziarah masyarakat Jawa, serta dijadikan sebagai objek penelitian arkeologi, antropologi, geologi, dan sejarah.
Keberadaan makam Syekh Maulana Maghribi tidak hanya sekedar objek wisata religi. Makam ini memberikan pengetahuan tentang penyebaran agama Islam di wilayah Bantul dan sekitarnya. Selain itu, makam ini juga menjadi konsepsi kesakralan tempat tinggi dalam tradisi Jawa.
Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga.








