Ketauladanan Tokoh Bangsa menjadi urgent untuk dimunculkan, sebagai upaya menerangi petheng-dhedhetnya Indonesia. Romo Mangun Wijaya, adalah satu di antara Tokoh Bangsa itu.
Malam sudah cukup pekat ketika Pak Toto Rahardjo, figur yang masyhur sebagai Pendidik Kerakyatan itu, mengirimi saya sebuah konten membahas tauladan kebangsaan dari Romo Mangun Wijaya. Pak Toto meminta saya mengamati dan menulis poin-poin penting pada konten itu, agar lebih mudah dipahami.
Konten berisi acara peluncuran buku “YB Mangunwijaya, Demi Manusia dan Bangsa” itu dilaksanakan di Auditorium Kampus III Universitas Atma Jaya Yogyakarta (10/2/2025). Kegiatan peluncuran buku kumpulan esai ini, dihadiri sejumlah intelektual. Di antara hadirin adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Al Makin.
Dalam penjelasannya, Prof. Al Makin menyatakan, para penulis dalam buku tersebut telah banyak menyinggung, bahkan mengulang-ulang kesan kekaguman, inspirasi, dan dedikasi, atas keberanian Romo Mangun dalam berpikir dan bertindak. Saat ini, kata Al Makin, adalah waktu yang tepat untuk menghargai gagasan.
Buku berisi kesan-kesan atas ketokohan Romo Mangun Wijaya (1929 – 1999) tersebut, menurut Al Makin, adalah karya penting dalam rangka “memunculkan kembali” ketokohan dan ketauladanan figur Bapak Bangsa. Dan proses pemunculan kembali ini, kata Al Makin, sangat tepat dilakukan saat ini.
Al Makin menyatakan, saat ini, dunia atau Indonesia sedang mengalami krisis. Utamanya krisis politik. Amerika memilih presiden kontroversial, dengan banyak gagasan melawan arus. Dia mencontohkan, Elon Musk yang masuk jajaran pemerintahan, melakukna efisiensi anggaran yang berdampak pada banyak bidang penghidupan.
Di Indonesia, suasana buruk juga terasakan. Bermacam kebijakan menyalahi aturan, tentu sedang dirasakan banyak pihak. Atmosfer demokrasi buruk, suasana politik tidak kondusif, hingga terjadinya korupsi secara terang-terangan, menjadi bukti bahwa Indonesia sedang mengalami krisis ketauladanan. Di sinilah, pengangkatan tokoh (formal maupun non formal) sebagai tauladan jadi penting.
“Mengangkat pemimpin sebagai figur itu urgent” Tegas Al Makin.
Intelektual dan akademisi asal Bojonegoro itu mengatakan, Romo Mangun Wijaya tak hadir sekadar sebagai pemimpin komunitas. Tapi hadir sebagai tokoh umat secara luas. Melalui bermacam pemikiran, gagasan, dan utopia kebangsaannya, Romo Mangun kerap membangun gagasan berbasis tauladan kenegaraan.
Gagasan berbasis tauladan kenegaraan, kata Al Makin, beberapa tahun silam masih kuat dan kerap dimunculkan para tokoh-tokoh bangsa. Di zaman Romo Mangun, muncul nama-nama besar seperti; Mukti Ali hingga Dawam Rahardjo sebagai figur yang sangat getol menyuarakan gagasan. Inilah era keemasan tauladan kebangsaan.
Mayoritas tokoh-tokoh di atas, kata Al Makin, menggagas, menyatakan, bahkan mengkampanyekan secara tegas bahwa Indonesia bukan negara agama. Tapi negara yang menjamin keberadaan masyarakat beragama. Manifesto kebangsaan semacam ini, cukup kuat di era Romo Mangun Wijaya.
Gagasan-gagasan semacam ini, dilanjutkan para tokoh di zaman berikutnya. Kita akan sangat familiar dengan nama-nama seperti Abdurrohman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid (Cak Nur), hingga Buya Syafii Maarif yang secara tegas memiliki keberpihakan pada masyarakat lemah. Keberadaan mereka, sangat penting sebagai tauladan.
Al Makin menyatakan, Indonesia dan dunia secara umum, memang kini sedang mengalami krisis demokrasi. Krisis ini, menjadi kian petheng dhehet (gelap gulita) karena di saat bersamaan, dibarengi hilangnya ketauladanan, matinya gagasan, dan yang lebih parah dari itu semua: terbunuhnya atmosfer intelektual.
Matinya Intelektualitas
Al Makin menegaskan, sikap kebangsaan yang pernah ditunjukan para pendahulu itu, mengalami “pati obor” kehilangan jejak. Selama 10 tahun terakhir, kata Al Makin, sikap-sikap kebangsaan semacam itu sudah sangat langka dan tak ditemui lagi. Yang terjadi, kebesaran Indonesia seperti sengaja diperkecil melalui paradigma sektarian yang sempit.
Menyempitnya paradigma kebangsaan, diperparah dengan kondisi matinya gagasan dan matinya intelektualitas. Al Makin mencontohkan, saat ini masyarakat banyak yang tidak mau membaca. Masyarakat tidak mau mendengar. Menurut Al Makin, inilah era kematian intelektualitas.
Pada tahun 80 hingga 90-an, gagasan dan peran intelektual masih punya peran di publik. Gagasan masih terbaca dan diperbincangkan. Bahkan bermacam dialektika kebangsaan masih bisa hidup melalui sulur-sulur adu argumentasi yang kuat. Namun saat ini, semua itu sudah menjadi fosil peradaban yang bahkan tak pernah ditengok lagi.
Gagasan-gagasan kebijaksanaan tak lagi didengarkan. Pemikiran-pemikiran kebangsaan tak pernah lagi dibaca, alih-alih dibahas. Inilah zaman ketika gagasan-gagasan kebangsaan terbuang di tong sampah peradaban. Tak sempat terdengar. Tak sempat terbaca. Dan tentu, tak sempat dipahami masyarakat.
Saat ini, adu gagasan bertema kebangsaan sudah tidak ada. Tulisan-tulisan sudah tak terbaca. Bahkan sudah amat jarang yang mau menulis gagasan. Mereka seperti tahu, gagasan tidak akan terdengar dan tidak akan terbaca. Sebab, terkubur tradisi medsos yang retorik, instan, dan tak berlandas kajian kebangsaan.
Masyarakat, kata Al Makin, saat ini lebih suka menonton orang berjoget daripada membaca gagasan kebangsaan. Masyarakat lebih suka menghafal slogan daripada memahami kaidah-kaidah kebangsaan. Masyarakat, sekali lagi, lebih mudah merespon perkara instan daripada perihal yang lahir dari permenungan.
Mayoritas tokoh sudah menunjukan sikap-sikap pragmatisme yang instan dan cepat berubah, sesuai kepentingan pribadi-golongan. Tak ada lagi tokoh yang mampu berdiri kokoh dalam menjaga gagasan dan tradisi intelektualitas kebangsaan. Jika ada, jumlahnya tentu sangat sedikit.
Memang masih ada tokoh-tokoh Bapak Bangsa yang idealis dan masih hidup hingga kini. Namun, pemikirannya terkubur. Tulisannya tidak terbaca. Keberadaannya kalah dengan tokoh-tokoh lebih populer yang mengandalkan pragmatisme golongan dan tradisi instan nir orientasi kebangsaan.
Pada titik inilah, kata Al Makin, keberanian mengangkat figur Romo Mangun sebagai salah satu guru bangsa menjadi amat penting. Romo Mangun mengatakan bahwa idealisme kebangsaan adalah nilai mahal yang butuh keberanian. Bukan kebetulan jika keberanian adalah ibu segala kebajikan. Sebab, untuk memunculkan kebajikan, butuh keberanian.
Menurut Al Makin, sikap keberanian inilah yang dicontohkan Romo Mangun. Keberanian untuk tidak selalu sepakat pada orang kuat. Keberanian bahwa pendapatnya tidak diikuti banyak orang. Hal-hal yang butuh keberanian sikap seperti di atas, tampak dari ketokohan figur Romo Mangun.
Di antara tauladan dari Romo Mangun adalah sikap humanis. Peduli pada yang lemah, dan berani kritis pada yang kuat. Sikap ini konsisten, dan tidak takut bersuara. Sebab, ia berpikir secara merdeka, dengan kelana gagasan yang amat luas. Romo Mangun sebagai tokoh gereja katolik mampu berpikir secara merdeka, dan tidak tergantung pada suasana politik.
Indonesia memiliki banyak tokoh bangsa. Memunculkan ketokohan Romo Mangun Wijaya harus menjadi awal dari munculnya ketokohan bapak bangsa-bapak bangsa lainnya. Pemunculan tokoh bangsa ini penting, dalam rangka menjadi suluh penerang bagi petheng-dhedhetnya kondisi Indonesia saat ini.








