Berbeda dengan Megengan pada umumnya, Mapak Poso di Bojonegoro identik kerjabakti bebersih musala dan pemakaman dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Mapak Poso merupakan tradisi masyarakat Bojonegoro dalam menyambut kedatangan bulan puasa. Dalam cakupan budaya Jawa yang lebih luas, tradisi ini dikenal dengan Megengan— ritual menyambut Ramadhan yang dilaksanakan di berbagai wilayah, khususnya di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Namun, Mapak Poso di Bojonegoro memiliki kekhasan sendiri. Ia bukan semata perjamuan ambeng atau kenduri bersama, melainkan lebih identik gerak kolektif warga dalam membersihkan langgar, mushala, serta area pemakaman. Tradisi ini memperlihatkan bahwa menyongsong bulan suci bukan hanya soal ritual doa, tetapi juga tindakan sosial yang berakar pada semangat gotong royong.
Ariful Lukman, salah seorang pemuda dari Purwosari Bojonegoro menyebut, tradisi Mapak Poso menjadi kegiatan rutin menjelang bulan puasa. Biasanya warga sekitar melakukan kerjabakti bersih-bersih musala bersama. Selain itu, juga bersih-bersih pemakaman desa. Hal ini dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.
“Di kawasan Padangan, Purwosari, Kalitidu biasanya dilakukan pada Jumat terakhir bulan Sya’ban” ucap Arif
Menurutnya, pada Jumat akhir bulan Sya’ban, sejumlah pemakaman di kawasan tersebut cukup ramai. Bagi masyarakat sekitar, kondisi ini biasa dijadikan pertanda bahwa bulan Ramadhan akan segera datang. Bagi masyarakat di kawasan tersebut, bulan puasa tidak hanya disambut dengan ritual doa. Tapi juga kerjasama dan keguyuban.

Secara harfiah, Mapak Poso berarti “menjemput puasa”, sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa Ramadhan dipandang sebagai tamu agung yang harus disambut dengan kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Karena itu, Mapak Poso menjadi penanda budaya tahunan: momen kolektif yang mengumumkan bahwa bulan suci telah dekat.
Umumnya Megengan di Jawa Timur dan Jawa Tengah, tradisi menyambut Ramadhan biasanya diwujudkan melalui doa bersama, tahlilan, ziarah kubur, serta sedekah makanan dalam bentuk ambengan. Mapak Poso berada dalam lanskap tradisi yang sama, tetapi menonjolkan dimensi kerjabakti kolektif sebagai ekspresi utama.
Mapak Poso merupakan sebuah tradisi yang tidak hanya menautkan warga dengan nilai-nilai religius, tetapi juga mempererat ikatan sosial melalui kerja kolektif. Dalam Mapak Poso, tersimpan pesan bahwa Ramadhan disambut bukan hanya dengan doa, tapi juga dengan merawat kebersihan, kebersamaan, dan penghormatan pada yang telah mendahului.







