Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Masjid Ibrahimi Palestina, Tragedi Situs Suci Tertua (1)

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
28/03/2026
in Cecurhatan
Masjid Ibrahimi Palestina, Tragedi Situs Suci Tertua (1)

Masjid Ibrahimi Palestina

Masjid Ibrahimi, Hebron Palestina, adalah cermin bagi kita. Bahwa tempat suci dapat menjadi tempat paling profan ketika politik memasukinya. Bahwa iman dapat dipersatukan leluhur yang sama. Namun bisa dipecah belah oleh kepentingan berbeda.

DI SEBELAH SELATAN Jerusalem, sekitar 30 kilometer dari Masjid Al-Aqsha dan selepas menyusuri jalan berliku yang membelah bukit-bukit Yudea yang gersang, tegak sebuah bangunan yang lebih tua dari kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Jerusalem.

Dindingnya terbuat dari batu-batu raksasa—ada yang panjangnya mencapai 7,5 meter dan lebar 1,4 meter—yang disusun dengan ketepatan yang membuat para insinyur modern tercengang. Tingginya 15 meter menjulang tinggi, kokoh menantang gempa, perang, dan waktu yang telah bergulir selama 2000 tahun lebih .

Bangunan itu bukan sekadar masjid. Bangunan itu bukan sekadar sinagog. Bangunan ini adalah Makam Para Leluhur-atau Al-Haram Al-Ibrahimi atau Gua Makhpela-tempat di mana menurut keyakinan tiga agama besar, Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya‘qub, dan istri-istri mereka bersemayam dalam peristirahatan abadi.

Namun, jangan bayangkan suasana hening nan khusyuk seperti di tempat ziarah pada umumnya. Di sini, keheningan adalah barang mewah yang tak pernah dapat dibeli. Sejak pagi buta hingga malam larut, yang terdengar bukan hanya doa. Namun, juga bentakan tentara, derap sepatu lars di lorong batu, dan isak tangis yang ditahan. Juga, bisik-bisik politik yang merambat di setiap celah dinding.

Masjid Ibrahimi, demikian nama masjid yang telah berusia panjang itu, adalah paradoks yang hidup. Ia adalah tempat paling suci sekaligus tempat paling terluka. Ia adalah tempat berdoa sekaligus medan perang.

Kini, mari kita duduk bersila di halaman batunya yang dingin, menyusuri lorong-lorong waktunya, dan mendengarkan cerita yang ingin ia sampaikann: tentang iman, tentang darah, dan tentang batu-batu yang menjadi saksi bisu perputaran zaman.

Di Bawah Tanah Di Mana Para Nabi Tidur

Sebelum ada dinding raksasa, juga sebelum ada kubah dan menara di lingkungan masjid, yang pertama ada di sini hanyalah sebuah gua. Gua itu disebut Makhpela: kata dalam bahasa Ibrani yang berarti “berlapis dua” atau “berpasangan”.

Para rabi Talmud berbeda pendapat tentang maksud nama ini. Ada yang berpendapat, itu adalah dua ruangan yang saling membelakangi. Ada juga yang meyakini, itu adalah dua ruangan yang bertingkat, satu di atas yang lain.

Namun, penafsiran yang paling menarik mengemukakan, Makhpela berarti “kota empat pasangan”. Yaitu, tempat bersemayamnya Adam dan Hawa, Abraham dan Sarah, Ishak dan Ribka, Yakub dan Lea. Sebuah tempat di mana awal kemanusiaan bertemu dengan para pendiri iman.

Menurut riwayat dalam Kitab Kejadian, Abraham membeli gua ini dari Efron orang Het dengan harga empat ratus syikal perak: harga standar untuk transaksi tanah di Kanaan pada abad ke-13 SM, seperti yang juga ditemukan dalam naskah-naskah Ugarit. Di gua inilah Abraham memakamkan istrinya Sarah. Kemudian, ia sendiri menyusul, lalu Ishak, lalu Yakub.

Selama ribuan tahun, gua itu tertutup. Tiada yang berani memasukinya. Hanya para arkeolog di era modern yang berhasil mengirim kamera melalui celah-celah lantai. Mereka melihat tangga batu menurun ke dalam kegelapan, ruangan-ruangan kosong yang pernah dirampok, dan mungkin, tulang-belulang yang diyakini sebagai milik para Nabi.

Namun, bagi penduduk Hebron atau Al-Khalil, gua itu bukan sekadar objek arkeologi. Ia adalah pusat gravitasi spiritual yang menarik jutaan peziarah selama ribuan tahun. Di atas gua inilah, sejarah kemudian dibangun. Lapis demi lapis.

Pada dasawarsa-dasawarsa terakhir sebelum Masehi, seorang raja kejam bernama Herodes Agung berkuasa di Yudea atas restu Kekaisaran Romawi. Ia seorang arsitek gila yang membangun benteng-benteng, istana, dan kota pelabuhan. Namun, satu-satunya strukturnya yang masih utuh sepenuhnya hingga kini bukanlah di Jerusalem. Namun, di Hebron.

Herodes membangun dinding kurungan persegi panjang raksasa di atas Gua Makhpela. Batu-batu yang ia gunakan begitu besar: enam kaki tebalnya, dengan tinggi setidaknya tiga kaki dan panjang mencapai 24 kaki. Sehingga, mustahil diangkat tanpa teknologi modern. Para tukang batu Herodes menyusunnya tanpa semen dan hanya mengandalkan presisi pahatan dan gaya gravitasi.

Anehnya, Herodes tidak memberi atap pada bangunan ini. Mungkin, ia ingin para peziarah memandang langsung ke langit ketika berdoa di tempat suci ini. Mungkin juga, ia kehabisan dana sebelum proyek rampung. Yang pasti, dinding itu berdiri kosong selama berabad-abad: menjadi kandang batu raksasa yang melindungi gua di bawahnya.

Siapa sangka, struktur yang dibangun seorang raja yang dibenci rakyatnya ini justru menjadi cangkang yang akan melindungi tempat suci ini selama dua milenium berikutnya.

Pada tahun 614 M, tentara Kekaisaran Sassania dari Persia menginvasi Palestina. Mereka menghancurkan segala sesuatu yang berbau Bizantium. Termasuk gereja yang telah dibangun di dalam komplek Herodian. Bangunan itu rata dengan tanah. Selama lebih dari dua dasawarsa, komplek ini hanya tinggal reruntuhan.

Dari Masjid Menjadi Medan Perang

Kemudian datanglah tahun 637 M. Pada tahun itu, pasukan kaum Muslim di bawah Umar bin Al-Khaththab memasuki Palestina. Tidak seperti penakluk sebelumnya yang menghancurkan, Umar justru memerintahkan pembangunan kembali. Di atas fondasi Herodian yang kokoh, dibangunlah masjid beratap.

Yang menarik, para penguasa Muslim awal tidak bersikap eksklusif. Mereka mengizinkan pembangunan dua sinagog kecil di dalam komplek yang sama.

Pada masa ini, orang-orang Yahudi dan Kristen masih leluasa berziarah ke makam leluhur mereka tanpa gangguan. Sebuah laporan dari tahun 570 M-sebelum penaklukan Islam-malah mencatat bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen berbagi kepemilikan atas situs ini. Toleransi ini bertahan selama berabad-abad, hingga gelombang perang berikutnya menghantam.

Pada tahun 1099, Pasukan Salib Eropa merebut Jerusalem dan seluruh Palestina. Mereka tiba di Hebron dan menemukan masjid yang indah. Tanpa berpikir panjang, mereka mengusir para imam dan mengubah bangunan itu menjadi gereja dan menamakannya Castle of Saint Abraham.

Selama 88 tahun, tiada azan berkumandang di Hebron. Yang terdengar hanyalah nyanyian Gregorian dan derap sepatu ksatria Eropa. Mereka malah membangun sebuah gereja bergaya Roma di bagian tenggara komplek: bangunan yang hingga kini masih menjadi bagian dari Masjid Ibrahimi.

Namun, kala itu, jauh di Mesir, seorang panglima sedang menyusun kekuatan. Namanya Shalahuddin Al-Ayyubi. Atau yang dikenal Barat sebagai Saladin. Pada tahun 1187, ia berhasil merebut kembali Jerusalem dan seluruh Palestina ke tangan kaum Muslim.

Ketika pasukannya memasuki Hebron, ia melakukan sesuatu yang cerdas: ia tidak menghancurkan Gereja Salib. Namun, ia mengubahnya kembali menjadi masjid dengan menambahkan mihrab di dinding kiblat.

Namun, satu tindakan Shalahuddin Al-Ayyubi yang paling berharga adalah menyelamatkan sebuah mimbar. Mimbar kayu itu awalnya dibuat atas perintah Badr Al-Din Al-Jamali, seorang pangeran Fatimiyah, pada tahun 1092 M: tujuh tahun sebelum Pasukan Salib datang.

Mimbar itu sempat diselamatkan dan disimpan di Asqalan atau Ashkelon. Shalahuddin memindahkannya ke Hebron. Sejak saat itu, mimbar tersebut digunakan untuk khutbah Jumat.

Para ahli menganggapnya sebagai mimbar kayu Islam tertua yang masih digunakan di dunia. Ia adalah benang yang menghubungkan masa Fatimiyah, Ayyubiyah, hingga abad ke-21.

Setelah dinasti yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi berlalu, giliran Kesultanan Mamluk yang berkuasa di Palestina (1250-1517 M). Mereka adalah penggemar berat arsitektur.

Di Hebron, mereka tidak hanya merawat bangunan yang ada. Namun, mereka juga memperluas fasilitas masjid tanpa mengubah fitur aslinya.

Pada masa inilah dua menara Mamluk yang masih berdiri hingga kini dibangun. Masing-masing setinggi sekitar 15 meter dari permukaan bangunan. Seorang pangeran bernama Tankaz Al-Nashiri pada tahun 1332 M melapisi dinding-dinding ruang shalat dengan marmer polikrom: marmer berbagai warna yang dipotong dan disusun membentuk pola-pola indah. Sebelumnya, dibangun pula dikkat al-muballigh-mihrab tempat imam membacakan doa-dari pilar-pilar marmer yang anggun.

Salah satu mahakarya arsitektur dari periode ini adalah Masjid Al-Jawali, dibangun tahun 1320 M atas perintah Pangeran Alam al-Din Sanjar Al-Jawali. Uniknya, masjid ini tidak terlihat dari luar karena bersandar pada dinding timur komplek, dengan tiga sisi lainnya dipahat dari batu cadas. Kubah batunya yang dihiasi ornamen muqarnas masih dapat dikagumi hingga kini.

Selepas era Mamluk, datanglah era Turki Usmani (1517-1917 M). Berbeda dengan para penguasa Mamluk yang suka menambah, para penguasa Turki Usmani justru bersikap sangat hati-hati.

Mereka fokus pada perlindungan bangunan dan menjaga kualitasnya tanpa menambahkan hal-hal baru yang signifikan. Selama 400 tahun, Masjid Ibrahimi hidup dalam ketenangan relatif, menjadi tujuan ziarah utama bagi kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Perang Dunia Pertama mengubah segalanya. Turki Usmani kalah dan Inggris datang sebagai pemenang. Palestina menjadi wilayah mandat Inggris. Untuk pertama kalinya sejak Perang Salib, penguasa non-Muslim kembali menguasai Hebron.

Dampaknya terasa pada kemampuan umat Islam dalam mengelola tempat suci mereka. Dana perawatan menyusut. Wewenang berkurang. Namun, “Dewan Islam Tertinggi” yang dibentuk Inggris tetap berusaha melakukan perbaikan-perbaikan arsitektural.

Tahun 1948, Inggris pergi. Perang Arab-Israel meletus. Ketika debu perang reda, Tepi Barat-termasuk Hebron-berada di bawah kendali Jordania. Selama 19 tahun (1948-1967), Jordania menunjukkan perhatian besar pada Masjid Ibrahimi. Mereka memperluas ruang di sekitarnya, menciptakan area terbuka yang memperindah pemandangan arsitektur, dan melakukan berbagai renovasi.

Bagi penduduk Hebron, masa Jordania adalah masa terakhir di mana mereka dapat beribadah dengan tenang, tanpa rasa takut, tanpa bayang-bayang senjata.

Semua itu berakhir dalam sekejap pada Juni 1967. Perang Enam Hari Juni 1967 pecah. Dalam hitungan jam, tentara Israel berhasil merebut Jerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, Sinai, dan Dataran Tinggi Golan. Hebron jatuh ke tangan pasukan pendudukan Israel.

Untuk pertama kalinya dalam 1.300 tahun-sejak masa pemerintahan Umar-kota para Nabi ini kembali berada di bawah kekuasaan non-Muslim. Namun kali ini berbeda. Ini bukan kekuasaan yang toleran seperti masa Bizantium awal. Namun, merupakan pendudukan militer yang disertai gelombang pendirian dan pembangunan pemukiman Yahudi.

Segera setelah perang usai, sebuah sinagog didirikan di dalam Komplek Masjid Ibrahimi untuk pertama kalinya. Pemukiman Kiryat Arba dibangun di atas bukit yang menghadap Hebron. Jalan-jalan mulai dipisahkan. Pemeriksaan militer mulai diberlakukan.

Bagi jamaah Muslim yang biasa datang dengan tenang, kini setiap kunjungan ke masjid harus melewati pos pemeriksaan. Tentara Israel memeriksa identitas, memeriksa tas, kadang memerintahkan membuka sepatu. Suasana ibadah mulai berbaur dengan suasana penjara.

Bersambung di bagian 2… 

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMasjid Ibrahimi Palestina
Previous Post

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

Next Post

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026
Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi
Cecurhatan

Negara Arab: Perjanjian Dinasti Saudi dan Keluarga Wahabi

05/04/2026

Anyar Nabs

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

Dari Pildacil hingga Olimpiade, Ar-Ridwan Competition 2026 Latih Mental Juara

12/04/2026
Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

Seorang Pemuda di Rembang Jadikan Bibit Mangga sebagai Mahar Pernikahan

12/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: