“So, So you think you can tell, heaven from hell, blue skies from pain.”
Mendengar kembali lagu Wish You Were Here menyentil sedikit ingatan di masa lalu, yaitu rasa penasaran tentang bagaimana proses penciptaan liriknya.
Sebagai orang yang kebetulan baru menikmati lagu-lagu Pink Floyd, tentu saja saya tak punya banyak pengetahuan tentang masing-masing personilnya atau rekam jejak mereka. Untuk itu saya lebih banyak mendengar liriknya, dan menerka-nerka makna di baliknya.
“Can you tell a greenfield from cold steel rail?”
Saya ingat, tengah tahun lalu saya mendengar lagu itu, kali pertama, dari seorang laki-laki yang kala itu dekat. Entah apa maksudnya mengirimkan lagu itu, yang dia mainkan dengan gitar dan nyanyikan dengan suaranya sendiri.
Saya menerka-nerka maksudnya dengan menafsirkan lagu itu.
Apa dia merindukan saya? Apa dia ingin mengatakan suatu hal yang tak terkatakan? Apa dia kesusahan untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan? Atau bagaimana? Tapi lagu itu kemudian membuat saya teringat ketidakmampuan saya, dan mungkin beberapa orang lain, dalam berkomunikasi, yang membuat segala sesuatu menjadi lebih rumit.
How I wish, how I wish you were here.
We’re just two lost souls swimming in a fish bowl, year after year,
Running over the same old ground.What have we found? The same old fears.
Di bagian menjelang akhir lagu, kita menemukan kata ‘same old fears’. Barangkali ini menjadi diagnosa dari kebanyakan orang yang mengalami kesulitan untuk mengkomunikasikan perasaannya, pemikirannya, dan yang membuat mereka terus meragukan banyak hal, baik yang terjadi padanya atau pada orang lain yang berkaitan tentangnya, sehingga mereka selalu membutuhkan validasi, yaitu ‘fear’, rasa takut.
Kesulitan orang-orang dalam mengkomunikasikan apa yang menjadi maksudnya banyak timbul dari rasa takut dalam diri mereka yang tidak dapat diatasi dengan baik.
Dalam bukunya berjudul The Assault of Reason, Al Gore, Politisi Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa, “fear is the most powerful enemy to reason”. Ketakutan adalah musuh bebuyutan bagi akal, nalar. Itu mengapa bagi mereka yang takut, keraguan menjadi teman karib yang seringkali menyesatkan.
Ragu tentang pendapat yang dia kemukakan di muka umum, membuatnya diam. Ragu akan emosi yang dirasakannya membuatnya diam, atau lebih parah membuatnya secara tak sadar mengcounter perasaannya sendiri. Ragu seringkali membawa kita pada jalan buntu atau tindakan tak tepat.
Di dalam lagu di atas, maka dapat kita jumpai lirik, “we’re just two lost souls swimming in the fish bowl”. Ketakutan dan keragu-raguan dalam diri seseorang tidak membawanya kemana-mana, mereka hanya berenang dalam mangkuk kecil sembari panik akan dunia luar.
Seperti mengintip dari lubang dalam tempurung. Kita tak pernah kemana-mana, tak juga melakukan apa-apa, selain memenuhi pikiran sendiri dengan kecemasan.
Rasa takut perlu dimiliki manusia untuk mewaspadai adanya bahaya yang mengancam, tapi dalam porsi besar, ia justru mematikan nalar. Sebagai contoh, baru-baru saja kita melihat di dalam banyak berita nasional kasus seorang ibu berusaha membunuh 3 anaknya.
Satu meninggal, dua lainnya selamat karena lari. Apa yang dia katakan?
Ia takut anak-anaknya akan sengsara jika terus hidup. Rasa takutnya beralasan. Ia mengalami kekerasan, baik selama menikah dan sebelumnya. Tapi, apa tindakannya benar? Tidak juga dapat dibenarkan.
Rasa takut, sebagaimana pepohonan, memiliki akar. Sebuah awal yang membuatnya tumbuh subur dalam diri seseorang dan merusak mental atau pikirannya. Itu bisa saja didapat dari luka masa lalu yang dialaminya sendiri, atau kejadian-kejadian yang disaksikannya saban hari, atau dari banyak cerita yangterus didengarnya dari waktu ke waktu.
Hal-hal yang tidak disadari itu, sedikit demi sedikit tumbuh subur, mengakar, meracuni pikiran, membentuk perilaku, dan menjadi kebiasaan yang amat susah dihilangkan, kecuali akar-akarnya dipotong.
Hal yang menjadi masalah adalah kita hanya menyadari permukaan: sebuah pohon dari daunnya yang layu atau lebar, dari batang yang besar atau kecil. Sangat sering kita melupakan bahwa di akarlah semuanya tumbuh. Apa yang tampak pada daun dan dahan adalah implikasi semata.
Maka, tidak bisa kita hanya mengatakan bahwa ‘kalau memang tidak siap punya anak, ya jangan menikah dulu’. Apakah menikah adalah privilese yang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang kaya saja? Mencari akar yang harus disembuhkan atau dipotong toh tidak sesederhana memotong keseluruhan.








