“Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa api”
-Rendra dalam sajaknya berjudul Kangen
Nabsky pasti pernah mengalami momen rindu. Satu momen biru di mana kalian merindukan orang atau keadaan atau bahkan tempat.
Rendra, sastrawan kenamaan di Indonesia, menggambarkan dirinya ketika dilanda rindu dengan apiknya. “Itulah berarti, aku tungku tanpa api.” Tanpa hangatnya api, tanpa bara, dan ‘merasa’ tiada berguna.
Nabs, seperti halnya cinta, perihal rindu, kita semua sama. Apa yang membuat kita rindu? Jarak. Dan apa yang membuat kita berjarak? Karena kita ‘merasa’ pernah begitu dekat. Begitu akrab. Tak asing.
Dan semua perasaan itu tidak lagi kita rasakan saat ini. Itu mengapa rindu itu muncul dan menjalar melumpuhkan tubuh kita. Aku tungku tanpa api.
Tapi bagaimana mengobati kerinduan? Nabsky, bahkan ketika saya menuliskan ini, saya tidak tahu jawabannya. Tapi saya bisa membagi pengalaman menghadapi kerinduan pada kalian semua.
Jika rindu itu tentang jarak, tentang keadaan ‘tak tatap’, tentang ketidakmampuan temu, maka itu perkara fisik semata. Bukankah yang hakiki tak mejuwud dalam fisik yang sementara?
Jika begitu, masukilah ruang imaji atau bentuk ruang imajimu sendiri. Kalian bisa meng’hadir’kan diri di dalam ruang yang segalanya bisa menjadi mungkin, termasuk menghadirkan ‘dia’, entah itu manusia, suasana, atau bahkan tempat.
Selanjutnya adalah menerapkan ajaran-ajaran stoicism. Kita tidak bisa mengendalikan hal-hal di luar kita, Nabs. Soal temu yang tidak bisa diupayakan, soal suasana yang tak bisa dihadirkan kembali, soal ruang yang tak bisa dikunjungi kembali…kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu.
Hal yang bisa kita lakukan adalah mengubah penerimaan kita akan hal itu. Jika selama ini kalian memaknai rindu sebagai hal yang menyakitkan, kenapa tidak kita ubah pikiran itu menjadi menyenangkan?
Menikmati gelora cinta lewat kecamuk rindu. Beruntunglah kalian yang masih memiliki rasa ‘ingin’ lewat rindu. Setidaknya itu bukti bahwa kita masih memiliki kehidupan untuk dipertahankan dan cinta untuk dipelihara.
Beberapa orang bahkan tidak merasakan apa-apa. Lebih sepi dari tungku-tungku tanpa api. Lebih dingin karena ketiadaan panas di kehidupan mereka. Kita patut mensyukuri itu semua, Nabs.
Bahwa akhir pekan sudah di depan mata, malam minggu juga akan segera tiba. Tapi itu bagi yang LDR saja sih, Nabs. Hehe
Apalagi yang harus dilakukan untuk menghadapi rindu supaya tidak begitu menyakitkan? Rindu itu tataran perasaan, ranahnya emosi, maka salurkan. Jika kalian merasa suka membuat puisi, maka buatlah puisi yang menggambarkan kerinduan kalian. Banyak penyair melakukannya.
Jika kalian suka melukis, maka lukiskah raut muka seseorang, atau suasana, atau tempat yang kalian rindukan di atas kanvas, kertas gambar, bahkan lembaran hvs sekalipun. Jika kalian suka memasak, maka memasaklah.
Apapun, selama itu mampu meredakan sakitnya rindu dan tak merugikanmu atau orang lain, lakukan.
Jika semua jalan di atas tak berhasil, setidaknya tuliskan, karena tulisan ini juga merupakan kegelisahan dari rindu yang tak menemui ujung. Membagi tak akan mengobati, tapi setidaknya mengurangi kekesalan dan kekecewaan yang disebabkan olehnya.
Nah, Nabs, seperti yang sudah-sudah, kita semua sama di hadapan rindu. Selamat bermalam Sabtu.








