Sepertinya saya harus benar-benar mengakui dan menyatakan seterang-terangnya melalui catatan ini bahwa bagi saya, menulis bukan sekadar mengisi waktu luang. Bukan hanya cara lebih produktif, kreatif, dan inovatif. Lebih dari itu, menulis telah melekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Semacam kebutuhan yang mesti segera dipenuhi.
Ibarat kebutuhan manusia akan oksigen, makan, dan minum. Gairah hidup saya menyala-nyala ketika sedang tenggalam dalam proses kreatif. Dan selama ini, genre tulisan yang saya minati adalah non-fiksi seperti halnya opini dan esai populer.
Bukan tanpa alasan saya begitu getol dan menggebu-gebu ketika menuliskan sebuah opini. Salah satunya yaitu karena saya berkehendak agar tulisan-tulisan itu dibaca orang melalui media massa; cetak maupun online.
Melalui tulisan opini, saya bisa merespon berbagai isu dan masalah aktual yang sedang menjadi perbincangan khalayak ramai. Melalui tulisan opini, saya bisa ikut serta memberikan sumbangsih pemikiran dan sekaligus solusi mengenai masalah yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Selain itu lewat tulisan opini, saya juga bisa mengontrol jalannya pemerintahan..
Sebab, media massa, hemat saya menjadi salah satu pilar penyangga demokrasi kita. Tanpa adanya pers yang sehat dan nalar publik yang kritis, demokrasi kita bisa mengalami fase kemunduran, atau bahkan kehancuran. Maka dari itu, saya berpandangan bahwa dengan menulis opini di media massa, saya bisa juga ikut mencerahkan dan membangun bangsa dan negara.
Setidaknya menjaga nurani bangsa agar tetap sehat, bersih, dan waras. Apalagi kerap kita saksikan sendiri, sebagian pejabat publik kita memiliki kecenderungan untuk berperilaku korup dan menyalahgunakan wewenanganya.
Sebab itulah, setiap elemen masyarakat sebenarnya bisa melontarkan kritikan pedas kepada pejabat negara, entah itu yang ada di lingkup legislatif, eksekutif, atau yudikatif yang terbukti tidak amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Kesadaran tersebut bisa dibangun lewatu gagasan yang disebarluaskan. Pun demikian dengan peradaban sebuah bangsa dan negara bisa dibangun dan ditumbuhkembagkan melaui tulisan-tulisan yang bernas dan mencerdaskan. Sekali lagi, tulisan-tulisan yang memang “bergizi”.
Sebab, di era sekarang, setiap dari kita bisa dengan mudahnya membaca beragam tulisan dari berbagai media yang kadang kredibilitasnya patut dipertanyakan. Begitu juga dengan isi tulisannya yang tak jarang isinya hanya hoaks dan fitnah yang tujuannya menjatuhkan marwah seseorang atau instansi tetentu.
Bahkan di beragam platform media sosial (medsos) pun kita bisa dengan gampangnya membaca tulisan-tulisan sampah. Tulisan provokatif yang bernada kebencian. Lagi-lagi, tulisan semacam itu sangat tendensius dan potensial menciptakan kegaduhan dan kerusuhan di tengah masyarakat.
Hal itulah yang juga menjadi salah satu alasan saya sampai saat ini masih aktif menulis opini. Yakni untuk mengisi media massa dan jagad maya dengan tulisan-tulisan yang betul-betul bernas, bermutu, mendidik, dan mencerahkan.
Intinya, melalui opini yang saya tulikan di media massa, saya ingin berpartisipasi menangkal tulisan-tulisan hoaks. Saya pribadi bertekad dan berkomitmen untuk senantiasa menjaga dan merawat keutuhan bangsa dan negara ini lewat tulisan.
Apalagi saat ini ancaman yang datang dari dalam dan luar begitu masif dan kompleks. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antar-elemen, khususnya kaum intelektual dan cendekiawan untuk menarasikan gagasan-gagasan yang konstruktif dan edukatif. Bukan sebaliknya,menadi intelektual yang menelutkan tuliskan-tulisan yang menimbulkan kecurigaan, kebencian, dan perpecahan.
Sebab, sudah semestinya seorang penulis itu menjadi pemersatu bangsa. Menjadi pelita yang selalu menerangi jejak langkah perjalanan bangsa ini. Maka dari itu, setiap penulis tidak boleh menggadaikan ataupun menukarkan idealismenya dengan kepentingan sesaaat.
Fokusnya hanya pada bagaimana menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Bermanfaat maksudnya bisa membuat masyarakat lebih tahu dan paham mengenai sebuah persoalan yang sedang diperbincangkan.
Syukur-syukur dalam tulisannya dicantumkan juga solusi dan rekomandasi untuk mengentaskan persoalan yang sedang diangkat.
Dari beberapa paparan di atas, mungkin benang merahnya sudah bisa ditarik. Artinya, saya menulis opini di media massa karena ingin keberadaan saya membawa arti dan kebermanfaatan bagi orang lain.
Setidaknya, bagi mereka yang kebetulan sedang menikmati tulisan-tulisan saya. Berapa pun yang membaca tulisan saya, tidak menjadi persoalan. Bahkan, semisal tidak ada yang membaca, bukan menjadi masalah serius bagi saya. Karena itu sudah di luar kendali saya.
Saya tidak memaksa siapa pun di dunia ini untuk membaca karya-karya saya. Tugas saya hanya menulis dan terus menulis. Namun, kalau boleh jujur, dalam hati kecil saya terbesit sebuah harapan yaitu agar orang-orang yang membaca tulisan saya bisa merasakan manfaatnya.
Karena saya yakin betul, salah satu kekuatan tulisan itu yaitu bisa mengubah pola pikir, mentalitas, sudut pandang, persepsi, dan bahkan perilaku seseorang. Sebab itulah, membangun karakter bangsa sebenarnya bisa dimulai dari tulisan.
Keyakinan saya begitu bulat bahwa peradaban emas itu bisa kita usahakan lewat karya-karya yang berkualitas. Karya-karya yang mampu memperkaya wawasan, memperdalam ilmu, memberikan insight baru, menyadarkan, dan bahkan mampu menggugah spirit nasionalisme dan patriotisme pembaca.
Sekali lagi, tulisan bukan sekadar deretan aksara. Namun juga bisa menjadi “mesiu” yang memiliki daya ledak luar biasa. Mampu membangkitkan jiwa-jiwa yang sudah lama terlelap dalam tidur panjangnya. Lewat tulisan, jiwa dan raga bisa tergerak menjadi aktor-aktor perubahan yang berdedikasi tinggi untuk Ibu Pertiwi.
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi








