Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Karena Semua Bagian dari Takdir: Hikmah Humor dan Pencurian (2)

Alfi Saifullah by Alfi Saifullah
22/07/2025
in Cecurhatan
Karena Semua Bagian dari Takdir: Hikmah Humor dan Pencurian (2)

Ilustrasi: Mbah Wahab Hasbullah dan santri

Usai shalat Isya berjamaah, ketika langit telah mencapai gelap yang nyaris sempurna, santri-santri berkumpul di serambi Masjid Jami Bahrul Ulum Tambakberas. Mereka hendak mengikuti pengajian rutin yang diampu oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888 -1971) atau Mbah Wahab, pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang sekaligus salah satu foundhing fathers NU. Malam itu, Mbah Wahab membahas pelajaran Tauhid―tentang qada dan qadar―tentang takdir dan ketetapan Allah.

Para santri menyimak dengan khidmat satu-persatu uraian dan penjelasan Mbah Wahab yang memukau. Namun, di antara sekian banyak santri, ada satu anak yang tak mampu menahan ajakan mata untuk tidur. Di sudut serambi masjid, seorang santri―sebut saja Husen―mulai terkantuk-kantuk. Ia mencoba menahan kedua bola matanya, tapi akhirnya tertidur juga. Hanya beberapa kalimat yang sempat ia ingat dalam pengajian malam itu, “bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita dan apa yang kita lakukan tidak lepas dari takdir Allah.”

Malam kian larut―pengajian itu telah usai. Serambi masjid perlahan mulai sepi. Para santri kembali ke kamar masing-masing. Namun Husen masih rebahan di serambi masjid sembari merenungkan uraian Mbah Wahab yang masih ia ingat. Tanpa terasa, waktu berjalan seperti sapi tua di jalan kampung, sudah menunjukkan tengah malam. Sunyi. Husen tersadar, ketika perutnya mulai keroncongan. Ia baru ingat jika sedari sore tadi ia belum makan. Segera Husen mencari-cari makanan, namun dapur telah kosong.

Di tengah rasa lapar yang mencekik dan tidak bisa diajak kompromi, ingatannya tertuju pada pohon mangga di pekarangan Mbah Wahab. Buahnya sedang ranum, bergelantungan dan menggoda siapapun untuk memetiknya. Timbul niat dalam hatinya untuk mengambil beberapa saja―toh ia sedang lapar, dan mangga itu adalah milik kiainya sendiri. Logikanya berjalan dengan cara aneh; jika lapar adalah takdir, dan mangga itu tumbuh atas kehendak Allah, maka mengambil mangga untuk mengatasi lapar bukankah bagian dari takdir?

Tanpa pikir panjang―cancut taliwondo―Husen segera mengambil sarung, lalu berjalan menuju pekarangan rumah Mbah Wahab. Langit semakin gelap, dan bulan setengah tertutup awan. Dengan hati-hati ia memanjat pohon mangga yang rindang itu. Satu demi satu buah mangga ia petik―dimasukkannya kedalam sarung yang telah ia ikat kedua ujungnya. Namun sejurus kemudian lamat-lamat terdengar suara dari bawah pohon,

“Hoi… sopo iku yo, bengi-bengi ngene penekan? Ayo ndang mudun!” (Hoi siapa itu, malam-malam begini malah manjat pohon? Ayo lekas turun!)

Husen terkejut. Ia kenal betul dengan suara itu. Suara Mbah Wahab Hasbullah. Husen pun perlahan turun, sambil tetap menenteng sarung yang penuh dengan mangga.

“Sopo sampean?” (siapa kamu), tanya Mbah Wahab.

“Kulo Santri Kiai” (saya santri kiai)

“Lapo bengi-bengi kok penekan?” (ngapain malam-malam begini kamu memanjat pohon)

“Niki wau ngunduh pencite Panjenengan” (ini tadi mengunduh mangga milik anda)

“Lho… ko kora omong aku, berarti sampean lak nyolong!?” (Lho… kok tidak izin aku dahulu, berarti kamu mencuri), lanjut Mbah Wahab.

Dengan raut muka yang lugu dan suara yang pasrah, Husen menjawab, “Ngapunten Kiai… kulo mundut pencit niki wau lak nggeh sebab takdire Allah, sami ugi Allah maringi lesu dhateng kulo” (Maaf Kiai… saya mengambil mangga in ikan juga takdirnya Allah, sebagaimana juga ketika Allah memberi rasa lapar kepada saya)

Mbah Wahab diam sejenak, lalu tersenyum tipis, “O ngunu to kang? yo wis nek ngunu tak ikhlasno” (O begitu ya mas? Ya sudah, saya ikhlaskan)

Perasaan Husen seketika lega. Namun belum sempat ia mengucapkan terimakasih, tiba-tiba Mbah Wahab melepas bangkiak di kaki kanannya. Dan… plak! plak! plak! plak! Dipukulinya Husen beberapa kali dengan bakiak.

“Aduh Kiai! Kenapa Kiai memukul saya?,” Husen meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

Dengan wajah nan tenang, Mbah Wahab berkata, “Ikhlasno yo kang, aku gepuki sampean iki yo takdire Gusti Allah” (Ikhlaskan ya mas, saya memukuli kamu ini juga takdirnya Allah)

Husen tercekat. Ia menunduk diam, mencoba merenungi perkataan Mbah Wahab. Rasa sakit di badannya masih terasa, tetapi hatinya menjadi lebih tenang. Perlahan gelembung kesadaran menyergapnya. Ia mengangguk, entah kepada siapa; kepada Mbah Wahab, diri sendiri, ataukah kepada Tuhan yang telah menulis semua peristiwa ini sebelum langit dan bumi diciptakan? Husen paham bahwa ia terlalu menyederhanakan arti takdir.

Malam itu, Husen tak hanya kenyang dengan buah mangga, tapi juga hikmah dan pelajaran tak ternilai. Ia menjadi santri yang lebih berhati-hati―lebih memahami bahwa takdir bukan alasan untuk bersikap fatalistik, tetapi panggilan untuk hidup yang benar. Kalimat “segala sesuatu adalah kehendak Allah” bukanlah argumen untuk membebaskan diri dari kesalahan, namun seruan untuk memahami grand skenario-Nya yang lebih besar, lebih luas, lebih kompleks.

Karena kehendak Allah adalah mutlak―selalu berjalan. Pun segala sesuatu berasal dari-Nya―tetapi Dia telah memberi akal, hati, dan pilihan. Alih-alih bebas, manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan―selalu ada konsekuensi atas semua tindakannya. Wallahu a’lam.

Tags: Cecurhatan JurnabaHumor dan Hikmah Santri
Previous Post

Dorong Transformasi Digital Pendidikan Dasar, Dosen Unugiri Beri Pelatihan Deep Learning dan AR

Next Post

Memuliakan Kekuatan Tulisan

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: