Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menangkap dan Mengeksekusi Ide

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
06/01/2026
in Cecurhatan
Menangkap dan Mengeksekusi Ide

Menangkap Ide

Sebelum mulai menulis, apakah memang harus membaca teks seperti halnya buku, majalah, koran, dan semacamnya, agar lancar menulis? Sepengalaman saya menekuni dunia tulis menulis, dan mempelajari proses kreatif beberapa penulis prolifik Indonesia, usut punya usut, setiap penulis itu memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing.

Betapa banyak pengakuan penulis top tanah air yang menyampaikan bahwa ide-ide dalam menulis tidak hanya diperoleh dari buku, majalah, atau koran yang dibacanya. Melainkan pada realitas dan fenomena sosial yang diamati secara mendalam dan penuh kesungguhan.

Ya, saya pribadi tidak membantah akan hal itu yaitu bahwa ide-ide berserakan di mana-mana dan bisa dipetik oleh siapa saja yang bersedia. Hanya saja persoalannya kadang beragam gagasan yang melimpah itu tidak segera dipetik dan dieksekusi menjadi sebuah karya. Entah itu karya yang berbentuk opini, esai, cerpen, puisi, dan semacamnya.

Kadang kita terlalu asyik untuk mengumpulkan ide tanpa berupaya untuk lekas-lekas mewujudkan menjadi sebuah karya yang utuh. Ironinya lagi, ide yang sudah ada itu kerap kali tidak kita ikat cepat-cepat menuliskannya. Padahal, ide itu seperti belut: gesit, licin, dan gampang hilang.

Terkait hal itu, memang sudah semestinya, setiap penulis selalu siap sedia dengan “alat tempurnya” yakni bolpen dan buku. Atau kalau sekarang bisa lewat notes di smartphone. Hanya persoalannya, ketika membuka HP, pikiran kita gampang terdistraksi, terpecah, alias gagal fokus. Yang awalnya hendak mengumpulkan dan mencatat ide, tiba-tiba beralih membuka media sosial (medsos) seperti halnya TikTok, Instagram, Facebook, dan semacamnya.

Awalnya niatnya hanya sebentar. Tapi kenyatannya, sampai berjam-jam kita tenggelam di dalamnya. Perhatian kita benar-benar terganggu oleh kesenangan semu yang ditawarkan medsos. Lewat scrolling yang mulanya cuma iseng-iseng, lalu tiba-tiba merambah ke-mana-mana. Tak terasa waktu tersedot begitu saja. Niat mengumpulkan ide kandas di tengah jalan.

Terkait hal itu, saya cukup sering mengalaminya. Dan salah satu cara yang pernah saya gunakan adalah mematikan data. Kadang mengaktifkan mode pesawat. Kadang sengaja tidak pegang HP, dan menuliskan ide tersebut di laptop langsung. Intinya, saya berupaya seoptimal mungkin untuk menyingkirkan berbagai hal yang merusak konsenterasi saya dalam menulis. Apalagi pas ketika proses menulis itu berlangsung. Idealnya memang harus fokus sampai tulisan kita benar-benar tuntas.

Baiklah, kembali lagi terkait bagaimana menemukan dan mengeksekusi ide, tentu saja ini juga memiliki “seni” tersendiri. Semakin banyak “jam terbang” seseorang dalam memetik dan mengeksekusi ide, biasanya tidak mengalami kebuntuan tingkat akut seperti yang dialami oleh penulis-penulis yang barangkali jam terbangnya masih dikategorikan sedikit.

Hanya saja, terkait kebuntuan dalam menulis ini, mulai dari penulis kelas teri sampai kelas kakap, pasti pernah dan masih mengalami sampai sekarang. Mugkin yang membedakan keduanya adalah terletak pada bagaimana strategi, kiat, dan cara yang ditempuh untuk mengatasi writer’s block tersebut.

Persoalannya sekarang adalah kapan dan di mana kita akan menyerap ide? Dan kapan kita mengeksekusi ide tersebut menjadi sebuah tulisan utuh? Seperti yang saya kemukakan di atas tadi, ide tidak hanya terletak pada rentetan teks. Kita bisa menemukan ide dari mana saja. Tidak harus lewat menenggelamkan diri dalam lautan aksara. Sebab, membaca sendiri memiliki kandangun dan dimensi yang lebih luas daripada sekadar membaca buku, koran, e-paper, jurnal, dan sejenisnya.

Membaca, bisa mengandung pengertian membaca alam semesta dan membaca realitas sosial. Sehingga, kejadian di sekitar kita pun, yang mungkin dialami oleh sanak famili dan tetangga bisa menjadi sumber gagasan. Saya ambil contoh, kita mengamati ada keponakan kita yang umurnya masih 7 tahun begitu kecanduan video Youtube. Setiap hari, kita melihat keponakan tersebut main HP. Bahkan ketika hendak makan pun, harus ada HP di dekatnya.

Lantas dari fenomena tersebut. pikiran kita bertanya-tanya, kenapa orangtuanya membiarkan begitu saja? Apakah orangtuanya tidak memahami dampak menonton video, lebih-lebih video pendek, itu berdampak pada emosi dan psikologi sang buah hati? Apakah kedua orangtuanya tidak mengerti risiko memberikan HP secara berlebihan untuk tumbuh kembangnya anak?

Apakah fenomena dan persoalan ini juga terjadi pada anak-anak lainnya di seluruh penjuru negeri? Jangan-jangan ini menjadi ancaman nasional yang secara halus dan perlahan-lahan menghancurkan bangsa ini, sebab penerusnya tenggelam dalam kesenangan semu? Dan tentu saja masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa memetik gagasan demi gagasan semakin deras mengalir. Dari beberapa pertanyaan itu saja saja, kita sebenarnya bisa meramu sebuah tulisan mengenai dengan topik: Pengaruh Gadget terhadap Tumbuh Kembang dan Masa Depan Anak.

Setelah ditemukan benang merahnya, tuliskan drafnya lalu segera eksekusi menjadi sebuah karya. Tanpa ditunda-tunda lagi. Sebab, biasanya penyakit kita, terutama dalam hal ini adalah penulis itu biasanya ada dua yakni malas dan menunda. Dalihnya hendak menunggu waktu alias momentum yang tepat dan mood/kondisi yang enak untuk mengeksekusinya.

Padahal, waktu yang pas dan mood yang enak itu bukan ditunggu sebenarnya. Hemat saya, keduanya itu, kitalah menciptakannya. Artinya, kalau pada dasarnya suka menunda dan malas, biasanya memang ada saja alasan untu kabur dari tugas dan tanggung jawab. Padahal, ide sudah siap digarap. Dampaknya, tulisan masih berupa ide dan konsep mentah.

Maka dari itu, untuk memungkasi catatan ini, agar sebuah ide segera bisa dieksekusi, perangilah dua penyakit tadi, yakni malas dan menunda. Meskipun ada saatnya pasti datang lagi, itu biasa saja. Intinya jangan sampai mau kalah atau berkompromi dengan keduanya. Apalagi, waktu terus berputar. Cepat atau lambat, kita pun akan menua.

Apakah kita akan menungggu sampai rambut beruban dan tangan-tangan sudah loyo baru mau menulis? Jadi, tangkaplah ide-ide itu dari mana saja dan segera tuliskan menjadi sebuah karya. Mari bergergas. Teruntuk penulis dan calon penulis, genre apa pun, dan dari mana pun, mari angkat pena, saatnya berkarya!! Tunggu apa lagi! Kita terbarkan kebermanfaatan untuk sebanyak-banyak orang.

 

Tags: Memulai MenulisMenangkap IdeTips Jurnaba
Previous Post

Dampak Deforestasi: Memahami Isu Hukum dan Solusi Berkelanjutan di Aceh dan Sumatra

Next Post

Anetos: Menjahit Kualitas, Memperkuat Identitas

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: