Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) telah memasuki babak baru. Berbagai bentuk evaluasi sudah dilakukan semua pihak. Itu semua demi program ekonomi ini naik level lebih tinggi. Tepatnya, sedang memasuki perkembangan di tahap 2. Terutama bagi peningkatan ekonomi masyarakat Bojonegoro, wabil khusus di dalam ekosistem peternakan. Perbaikan paling krusial dilakukan dengan pembentukan ekosistem usaha desa.
Upaya level-up ini menjadi titik fokus Program Gayatri lanjutan yang digulirkan Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL). EMCL menggandeng Alas Institute sebagai pendamping masyarakat terdampak. Gayatri tidak berhenti pada pemberian ayam, kandang, beserta pakan kepada penerima manfaat. Namun, turut mendorong terbentuknya ekosistem peternakan yang baik dan berkelanjutan. Peternakan dengan sirkulasi ekonomi yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Marsam adalah salah satu penerima manfaat asal Kecamatan Gayam. Dia mengungkapkan rasa syukur atas program yang berjalan. Untuk itu, dia berusaha dengan kesungguhan hati menjadi peternak handal.
“Alhamdulillah kami masih dipercaya mendapatkan Gayatri. Kami akan bersungguh-sungguh menjalankannya dan menjadi peternak yang handal,” kata pria asal Desa Sudu kepada media pada Minggu (16/8/2026).
Selama pendampingan, Alas Institute menilai bahwa Marsam menjadi warga penerima manfaat yang sudah berhasil. Ayah dari tiga anak ini sukses menjadi peternak ayam Gayatri sejak 2025 kemarin. Dia sukses mengembangkan pendekatan yang kerap dia lakukan. Sebelumnya, Marsam memang sudah memelihara ayam sendiri. Kebiasaan itu membuat dia mampu menghasilkan telur ayam sebanyak 3 kilogram per hari. Dan hebatnya, itu berjalan secara konsisten.

Marsam mengakui bahwa keberhasilan usahanya tidak berdiri sendiri. Dia bersyukur adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang sudah membantunya. Terutama peran BUMDES dalam men-supply pakan. Selain itu, pihak desa juga membeli langsung ke peternak untuk dipasarkan. Ini merupakan ekosistem perdagangan dari hulu ke hilir dalam konteks masyarakat desa.
“Saya bersyukur karena BUMDES selama ini telah membantu men-supply pakan dan juga telur langsung dibeli,” imbuhnya dengan senyuman yang menggambarkan rasa bahagia.
Alas Institute telah melakukan asesmen kepada penerima program, yang mana sebelumnya berjumlah lebih dari 100 peternak Gayatri. Terutama pada program Gayatri Tahap 2. Dari observasi tersebut, Alas Institute berhasil menemukan beberapa data untuk dievaluasi. Dengan segera, evaluasi langsung dieksekusi. Pengembangan ekosistem peternakan hingga pemasaran menjadi fokus utama.
“Tahun ini kita akan fokus pada pengembangan ekosistem,” tutur Manager Program ALAS Institute, Khoirul Huda.
Huda menyampaikan bahwa bantuan tersebut bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas dan EMCL. Program ini menyasar lima desa. Antara lain Desa Sukoharjo dan Leran di Kecamatan Kalitidu, kemudian Desa Sudu, Bonorejo, dan Gayam di Kecamatan Gayam. Jumlah penerima manfaat program Gayatri dari lima desa tersebut sebanyak 50 orang.
Program Gayatri memberi dukungan dalam bentuk paket. Sebuah paket yang terdiri dari ayam petelur, kandang, serta pakan awal. Program memang dirancang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Khususnya berfokus pada produksi telur, kualitas hidup, sekaligus mendorong swadaya para peternak dan keberlanjutan usaha.

Perwakilan EMCL, Feni K. Indiharti, mengatakan pengembangan peternakan membutuhkan keterlibatan aktif dari penerima manfaat. Bahkan, sejak awal program dijalankan. Menurut Feni, dukungan program diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan. Namun, berkembang menjadi usaha yang bermanfaat dalam jangka panjang.
“Keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan dan komitmen bersama,” ucap Feni kepada media.
Feni menegaskan bahwa program ini bagian dari komitmen industri hulu migas. Terutama dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Dukungan nyata demi meningkatnya taraf hidup masyarakat. Khususnya wilayah di sekitar operasi migas seperti Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris.
Program ini juga bentuk apresiasi kepada masyarakat yang selalu mendukung EMCL. Sebuah gambaran simbiosis mutualisme. Hubungan baik ini berdampak pada operasi migas nasional bisa sukses seperti saat ini.
“Terima kasih untuk dukungan pemerintah dan masyarakat selama ini. Pemenuhan energi untuk negeri ini tidak akan terpenuhi tanpa dukungan Bapak Ibu sekalian,” ucapnya saat sosialiasi di Desa Sudu, Kamis (13/8/2026) lalu.
Sosialisasi yang digelar di Balai Desa Sudu melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, penerima manfaat, penanggung jawab program dari EMCL, serta Alas Institute. Kerja sama aktif antar pihak inilah yang mampu membangun ekosistem peternakan dengan baik.
Selain itu, kegiatan tersebut turut menjadi ruang untuk bertukar pandang. Setiap pihak menyampaikan dan menetapkan data hasil verifikasi lapangan calon penerima manfaat. Sinkronisasi dilakukan agar program dapat berjalan sesuai kondisi masyarakat. Juga, mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan di tingkat desa.








