“Kyai. Mengapa panjenengan tidak memiliki gelar apapun?” Demikian tanya Ustadz Sidi Abdul Halim, Bawean.
Minggu lalu, seusai menikmati sarapan di rumah beliau yang indah di lingkungan Pondok Pesantren Hasan Jufri. Sejenak saya termenung menerima pertanyaan demikian. Menerima pertanyaan demikian, kemudian saya menjawab, “Saya takut kuwalat dengan ibu saya.”
Lo?
Pada akhir 1983, ketika saya masih menimba ilmu di Kairo, Mesir, saya menerima sepucuk surat dari ibu saya: seorang Ibu Nyai (istri seorang Kyai), putri seorang Kyai, dan cucu seorang Kyai. Dalam surat itu, Ibu saya memerintahkan saya (30 tahun dan masih jomblo) untuk pulang ke Indonesia, “Le, mulih! Lan aku ora ridha yen awakmu sekolah maneh sak lawase. Ibu ora ridha yen awakmu tetap kuliah. Ibumu.”
Betapa bingung saya menerima surat ibu demikian. Akhirnya, saya memutuskan: pulang ke Indonesia dan sejak itu saya tidak akan melanjutkan kuliah lagi. Sepanjang hidup saya. Saya memilih ridha seorang ibu ketimbang memburu gelar. Meski ketika menimba ilmu di program pascasarjana di Universitas Kairo, saya meraih nilai terbaik di antara teman-teman seangkatan yang mereka kini menjadi profesor di Mesir, Malaysia, dan Turki.
Saya faham, maksud Ibu saya: biar di antara lima anak laki-lakinya ada yang mengikuti jejak ayah, kakek, dan buyut ibu saya: menjadi kyai. Permintaan dan keinginan yang sangat berat bagi saya.
Sejak itu, setelah pulang ke Indonesia, saya sangat enggan kuliah lagi. Dan, kemudian saya fokus meniti dunia literasi dan kemudian mendirikan pesantren dan sekolah. Demi dapat meraih ridha ibu saya.
“Ustadz Sidi Abdul Halim, demikian ceritanya mengapa saya tidak memiliki gelar akademis: demi meraih ridha ibu saya!”








