Saya pertama kali mengenal dunia membaca ketika memasuki bangku kuliah. Sebelumnya, membaca buku sama sekali bukan kebiasaan saya. Membayangkan setumpuk tulisan tiga puluh halaman tanpa gambar saja sudah cukup membuat kepala pusing.
Perkenalan itu dimulai pada semester dua. Tanpa sengaja, saya ikut bergabung dengan sebuah organisasi ekstra kampus yang cukup populer saat itu. Di sana, saya mulai terseret arus: nongkrong bersama, menyeruput kopi, bercengkerama, dan membahas isu-isu sosial politik yang sedang panas.
Baca Juga: Manifesto Persahabatan
Namun, sebagai orang baru dengan pola pikir lama, saya hanya bisa terdiam. Saya tak paham apa-apa. Waktu itu saya berpikir, betapa keren mereka—punya wawasan luas, bisa meramu ide, bahkan berani mencaci maki pemerintah. Tapi seiring waktu saya sadar, berada di posisi itu ternyata tidaklah ringan.
Berat rasanya memahami realitas dengan setumpuk bacaan dan wawasan, sementara kondisi hidup sendiri serba pas-pasan. Ironis memang, tetapi jika beban itu dipikul bersama oleh mereka yang benar-benar mendamba perubahan, mungkin Kun Fayakun—perubahan bisa terjadi. Anehnya, meski banyak yang berteriak soal perubahan, gerakan konkret nyaris tak terlihat. Kenapa begitu? Entahlah, mungkin karena mereka lebih sibuk dengan problem pribadi ketimbang problem umat.
Buku-buku yang saya lahap, ditemani kopi dan sebatang rokok, kini menjadi setumpuk kenangan melankolis. Seperti piringan hitam dari tahun enam puluhan yang berputar di turn table tua—kadang menghadirkan lagu klasik nan indah, kadang hanya menjadi gema sunyi yang saya nikmati sendirian.
Saya masih ingat betul buku pertama yang saya baca: Anak-Anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko. Judul itu melekat kuat dalam ingatan saya. Sayang, Budiman kini justru menjual gelar itu demi kursi kekuasaan, duduk berdampingan dengan mereka yang dulu dianggap lawan.
Dari buku itu saya belajar, dulu orang-orang pendamba perubahan rela berkumpul, bergerilya, menyalakan gejolak agar perubahan merata. Mungkin zaman sudah berubah. Atau barangkali saya yang terlalu larut dalam nostalgia, mengenang masa lalu lewat buku-buku.
Meski begitu, saya tetap bersyukur. Saat ini saya masih bisa menikmati secangkir kopi dan selembar bacaan, sekadar melepaskan diri dari candu dopamin media sosial. Tulisan ini mungkin terasa konyol, mungkin tak layak dibaca siapa pun. Tapi lebih baik saya menuliskannya, daripada membiarkan semua kenangan ini menjadi limbah di hati dan pikiran.
Perubahan memang datang begitu cepat—kadang sampai melahap segalanya.








