Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mengenal Albaicin, Distrik Islam di kota Granada Andalusia

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
10/03/2025
in Cecurhatan
Mengenal Albaicin, Distrik Islam di kota Granada Andalusia

Albaicin, Granada Andalusia

Di Albaicin, tiga agama merajut simfoni yang langka: masjid, gereja, dan sinagog saling berbagi langit.

“Albaicin memang menggenggam rindu!” Gumam saya pelan, sekitar dua bulan lalu. Saat itu, jemari saya sedang menelusuri album foto-foto lawas: potret kluyuran saya bersama sebuah keluarga dari Bandung ke Granada, Andalusia. Di layar laptop, distrik tua itu terpampang. Rumah-rumah putih berundak seperti tangga menuju langit, jalan berbatu yang berkelok bak pita usang, dan siluet Alhambra di kejauhan—megah, namun menyimpan luka.

Ketika itu, beberapa tahun silam, kami menyusuri Albaicin, sebuah distrik di seberang Sungai Darro yang menjadi saksi bisu kejayaan dan keperihan. “Oh, Alhambra benar-benar tampak bagaikan mahkota yang terkulai,” gumam saya kala itu, sementara matahari siang menyapu dinding Istana Alhambra di seberang sungai dengan cahaya tembaga. Namun, Albaicin bukan sekadar latar foto. Ia adalah kitab yang halamannya belum usai ditulis.

Kini, untuk mengenal lebih dekat Albaicin, mari kita menuju kota Granada, Andalusia. Di tepi Sungai Darro, di bawah bayang-bayang Istana Alhambra yang tegak megah, ada sebuah distrik yang mengukir sejarah dengan darah, air mata, dan madu. Albaicin: itulah nama yang terlahir dari lidah Arab al-bâ’itsîn: “kota para pendamba”. Di sini, setiap batu jalanan adalah halaman dari kitab yang tak selesai ditulis.

Albaicin, atmosfer Islam Eropa

Sejarah Albaicin dimulai pada abad ke-8 M, ketika Dinasti Umawiyah menjadikan Granada sebagai mutiara Andalusia. Di lereng bukit ini, tiga agama merajut simfoni yang langka: masjid, gereja, dan sinagog saling berbagi langit.

Pasar-pasarnya ramai oleh para pedagang Yahudi dari Cordoba, para sufi dari Maroko yang mengajarkan zikir, dan para rahib Kristen yang mempelajari filsafat Ibn Rusyd. Di Plaza San Nicolas, para astronom Muslim mengukur garis edar bintang. Sementara di Casa del Chapiz, para penyair Yahudi menulis syair cinta dalam bahasa Aljamiado—aksara Arab yang mengalirkan kata-kata Spanyol.

Namun, tahun 1492 mengubah segalanya. Granada jatuh. Isabella dan Ferdinand menancapkan kuasanya di Granada. Kaum Muslim dan Yahudi dipaksa memilih: berganti agama, pergi, atau mati. Masjid Agung Albaicin dirobohkan. Mihrab-mihrab indah dijadikan tembok gudang anggur.

Selepas penaklukan Spanyol tersebut, Albaicin menjadi tempat tinggal bagi orang-orang kaya dan terkenal Granada. Banyak bangunan dan istana yang dibangun pada masa ini masih dapat dilihat hingga kini. Lantas, selama beberapa abad berikutnya, Albaicin mengalami berbagai perubahan dan peristiwa penting.

Kemudian, pada abad ke-19, distrik ini mengalami ledakan populasi. Ini karena banyak orang dari seluruh Spanyol yang pindah ke Granada untuk bekerja di industri tekstil yang berkembang pesat. Namun, pada awal abad ke-20, distrik ini mengalami kemunduran yang signifikan. Ini karena banyak orang yang pindah ke kawasan yang lebih modern dan ramai seperti Gran Via.

Lantas, pada tahun-tahun 1980-an, Albaicin mengalami kebangkitan kembali. Kali ini, sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya yang penting di Granada. Pada saat itu, distrik ini mulai direvitalisasi oleh pemerintah setempat dan masyarakat lokal yang ingin melestarikan khazanah kultural mereka.

Sejak itu, Albaicin menjadi salah satu distrik paling menarik dan ikonik di Granada. Dengan jalan-jalan berbatu dan berkelok, bangunan-bangunan bersejarah, dan pemandangan indah Alhambra, Albaicin menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang mengunjungi Granada. Lantas, pada 1984, Albaicin bersama dengan Alhambra, kawasan bersejarah yang terletak di seberangnya, diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Oleh karena itu, kini, tak aneh jika ketika berada di Albaicin, kita dapat merasakan aura sejarah yang begitu kental. Banyak bangunan bersejarah yang masih dapat dilihat. Misalnya, Gereja San Nicolas, sebuah gereja abad ke-16 yang memiliki pemandangan terbaik ke arah Alhambra. Ada juga beberapa rumah tradisional yang masih dipertahankan hingga kini, seperti Casa del Chapiz, sebuah rumah abad ke-16 yang kini menjadi Pusat Studi Arab.

Selain itu, Albaicin juga merupakan tempat yang hidup dan sarat dengan kehidupan sosial. Banyak bar dan restoran di kawasan ini yang menyajikan makanan dan minuman tradisional Spanyol, seperti tapas dan sangria. Jalan-jalannya sempit, licin oleh zaman. Termasuk Calle Calderería Nueva, lorong legendaris yang dijuluki Jalan Arab. Di situ, banyak toko-toko suvenir yang menjual keramik biru zellige, lampu gantung tembaga, dan tajine.

Meski demikian, apa yang terjadi?

“Di sini, Islam tak pernah benar-benar pergi,” ucap seorang pemilik kafe tua. “Ia bersembunyi dalam selubung arsitektur dan lagu. Malah, juga di rasa almond yang dicampur madu.” Memang, di Plaza San Nicolas, siluet Alhambra terlihat tegak sangat indah. Namun, Albaicin punya rahasia lain: Masjid Alcaiceria.

Dibangun abad ke-14 M, masjid ini selamat dari penghancuran. Mihrab-nya masih utuh. Sedangkan kaligrafi emasnya pudar dimakan usia. “Ini salah satu masjid tertua di Eropa,” ujar seorang warga lokal. “Lihatlah atapnya: kayu cedar dari Maroko. Orang-orang Kristen dulu menyembunyikannya, agar tak dihancurkan penguasa.”

Kini, Albaicin telah bangkit kembali dari tidur lamanya. Utamanya, di bulan Ramadhan seperti saat ini. Kini, di malam hari, lampu-lampu kertas berbentuk bulan sabit menggantung di jendela rumah-rumah warga Muslim Maroko dan Suriah. Lorong-lorong gelap berpendar oleh cahaya lentera tembaga. Di Plaza Larga, puluhan keluarga berbuka puasa dengan harira (sup khas Maghrib) dan datiles con jamón (kurma dengan daging).

Namun, puncaknya adalah La Carrera de las Antorchas (Lomba Obor), tradisi yang diwarisi dari kaum Morisco (kaum Muslim yang dipaksa berganti agama). Sejak abad ke-16, merekalah yang menyembunyikan syahadat mereka itu dalam ritual ini. Dan, kini, setiap Ramadhan, ribuan orang berbaris membawa obor dari Plaza Nueva hingga ke Mirador de San Nicolas. Api yang menari-nari itu membentuk sungai emas di kegelapan, membayang ke dinding Alhambra.

Arak-arakan ini dimulai pada pagi hari ketika orang-orang berkumpul di jalan-jalan Albaicin untuk mengumandangkan azan dan menyalakan obor. Sejak subuh, warga berbaris membawa obor. Cahayanya membentuk sungai api di jalanan. “Ini tradisi abad ke-15,” jelas seorang seniman flamenco. “Dulu, orang-orang Morisco melakukannya diam-diam. Kini, arak-arakan ini menjadi simbol kebanggaan. Arak-arakan ini berakhir dengan makan sahur bersama di pusat kota.”

Albaicin memang tak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia hidup dalam desau angin yang membelai pohon delima, dalam gerimis yang membasahi dinding putih rumah-rumah Moor, dan dalam langkah kaki anak-anak kecil yang berlari melewati bekas reruntuhan masjid. Di sini, setiap batu adalah puisi. Setiap sudut adalah doa. Dan ketika obor-obor padam, fajar menyingsing dengan membawa kabar: sejarah mungkin terluka, tapi ia tak pernah mati.

Albaicin hingga kini tetap gagah berdiri. Bagai mihrab raksasa yang memeluk Granada. Dengan damai, dengan cinta. Ini seperti kata pepatah Arab yang terukir di sebuah dinding tua dekat Sungai Darro, “Bumi ini adalah warisan untuk mereka yang menjaga nyalanya.”

Albaicin adalah nyala itu!

Tags: Albaicin GranadaCatatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaSeri Zakemsalam Jurnaba
Previous Post

Kenalkan Sejarah Bojonegoro, Komunitas SoBojonegoro Gelar Trip History Padangan Heritage

Next Post

Sejarah Pembangunan Jembatan Bengawan Cepu - Padangan Awal Abad 20 M

BERITA MENARIK LAINNYA

Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: