Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menghidupkan Spirit Pengabdian Kaum Muda

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
17/07/2025
in Cecurhatan
Menghidupkan Spirit Pengabdian Kaum Muda

Young People (Unsplash)

Gelora jiwa pemuda yang berkobar-kobar untuk mengabdikan diri sepenuhnya untuk Ibu Pertiwi menjadi suatu hal yang ditunggu-tunggu. Bukan sebatas ungkapan verbal mencintai Indonesia dengan segala keragaman dan keunikannya. Lebih dari itu, membuktikan dengan tindakan nyata, meskipun kecil dan sederhana, tapi terasa dampaknya.

Apalagi, kita tahu bahwa negeri ini tidak kekurangan pemuda-pemuda yang pintar dan cerdas. Negeri ini tidak mengalami defisit sarjana. Artinya, kita memiliki modal manusia yang cukup untuk membangun negeri ini. SDM yang nantinya bisa menjadi pemecah beragam persoalan yang terjadi.

Hanya saja, sayang seribu sayang, sebagian pemuda kita justru seoilah kehilangan jati diri dan arah. Bahkan, seakan terombang-ambing dalam arus hidupnya sendiri yang penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian. Bingung mau melakukan apa. Tidak tahun hendak ke mana. Ragu-ragu untuk menjadi apa. Ini menjadi persoalan bersama.

Yakni bagaimana membangun spirit perjuangan kaum muda untuk benar-benar mendharmabaktikan dirinya untuk kemajuan bangsa. Bukan sekadar berpikir dan bertindak bagaimana untuk mendapatkan karir yang menterang. Hanya dirinya saja yang dipikirkan. Padahal, tugas dan tanggung jawabnya sebagai penerus estafet kepepimpinan bangsa di berbagai bidang begitu besar.

Sebab, kalau boleh jujur, kita tidak ingin mentalitas dan karakter pemuda kita hancur sebab dirinya sendiri atau faktor eksternal. Siapa lagi yang kita harapkan jika pemuda di negeri ini bersikap apatis.
Apa guna gelar yang berderet-deret jika dipergunakan hanya untuk menumpuk harta dan mengejar status sosial. Apa guna intelektualitas jika tidak digunakan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Semua ilmu dan pengetahuan yang kita kejar dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi akan menjadi kurang bermanfaat jika tidak diamalkan untuk kepentingan umat. Bukankah, ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah? Terkait hal itu, diperlukan kesadaran dan kepekaaan kaum muda untuk sungguh-sungguh mengabdikan diri sepenuhnya untuk kemaslahatan bangsa.

Sebab, sekali lagi, bangsa ini membutuhkan pemuda yang berjiwa nasionalis dan kesatria. Pemuda yang berani bersuara lantang melihat terjadinya kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Pemuda yang bersedia membela kaum terpinggirkan. Ilmunya digunakan untuk menerangi masyarakat. Ilmunya dimanfaatkan untuk menegakkan nilai-nilai keadilan.

Baginya, idealisme yang diimiliki tidak bisa ditawar-tawar, apalagi digadaikan hanya untuk kepentingan sesaat. Jiwa dan raganya siap dikorbankan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih adil dan makmur..

Namun, ironinya, jika kita menilisik potret sebagian pemuda hari ini, maka kita akan geleng-geleng sekaligus mengelus dada. Betapa sebagian pemuda kita hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Seolah tidak memiliki beban bagaimana membangun bangsa. Seolah tidak ada pikiran bagaimana nasib bangsa ke depannya. Dianggapnya, Indonesia ini sudah diurus oleh generasi tua. Padahal, sebentar lagi, generasi mudalah yang akan menggantikannya. Sehingga dibutuhkan kesiapan yang benar-benar matang. Baik dari segi ilmu, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, networking, penguasaan teknologi digtal, dan semacamnya. Ya, pemuda hari ini dituntut untuk lebih peka dan adaptif melihat kondisi zaman.
Sehingga, dalam menerima estafet kepemimpinan nantinya tidak kelimpungan. Namun, yang patut digarisbawahi adalah untuk mengabdikan diri, tidak harus menunggu duduk di struktural jabatan tertentu, atau menjadi sosok yang berpengaruh di tengah publik.

Tidak, bukan seperti itu yang diharapkan. Pemuda hari ini, bisa memulainya dengan langkah-langkah kecil dan sederhana untuk mempersembahkan pikiran, waktu, tenaga, dan bahkan jiwanya untuk masyarakat. Dengan segenap kemampuan yang dimiliki, mereka bisa mulai memangun masyarakat. Sebab, saya rasa, pemuda di negeri ini memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa yang bisa diberdayakan.

Hanya saja tinggal menunggu kesediaan mereka. Seperti halnya, mahasiswa pertanian, tidak harus menunggu lulus untuk membagikan ilmu yang dimiliki. Dia bisa mulai menyelami denyut nadi kehidupan petani di desanya sendiri lalu mulai membagikan ilmu yang dimiliki kepada beberapa petani yang dijumpainya. Tentu saja, ada teknik dan starateginya agar ilmu yang dia miliki bisa diterima. Contohnya, lewat ngobrol-ngobrol santai di warung kopi. Sebab, dalam proses berbagi ilmu, tidak harus melalui kajian dan diskusi ilmiah.

Dalam hal ini, mahasiswa pertanian tersebut dituntut mampu membaca latar belakang audiens. Tidak hanya itu, dia bisa juga berkontribusi pada desanya dengan menginisiasi sebuah gerakan yang bertujuan untuk menigkatkan produktivitas hasil panen dengan keterlibatan aktif kaum muda. Gerakan tersebut juga bisa juga bertujuan untuk menopang ketahanan pangan di desa. Sehingga, ide dan terobosan kaum muda bisa diwujudkan lewat aksi kongkret.
Selain itu, masih banyak hal yang bisa diperbuat oleh kaum muda untuk bangsa dan negara ini.

Seperti halnya dengan mengirimkan opini dan esai yang kritis dan konstruktif ke media massa. Hal tersebut juga menjadi langkah nyata membangun masyarakat lewat jalur jurnalistik. Sehingga, pemuda tersebut bisa mengambil peran dalam mengeduksi dan mencerahkan publik lewat gagasannya.

Ringkas kata, saya selaku penulis, berharap agar pemuda-pemuda kita terpanggil jiwanya untuk terus menerus berjuang demi bangsa dan negara ini. Berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, judi online, narkoba, dan semacamnya. Spirit perjuangan dan pengabdian pemuda harus senantiasa hidup. Sebab, kaum muda adalah harapan bangsa hari ini dan di kemudian hari. Sebab, lewat kaum mudalah, bangsa ini nantinya bisa bergerak perlahan menjadi bangsa yang besar, maju, dan disegani oleh dunia internasional.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Tags: Cecurhatan JurnabaIsu Kepemudaan
Previous Post

Bupati Bojonegoro Luncurkan Program Kolaboratif Pengembangan Potensi Olahraga

Next Post

MPJ Sektor Bojonegoro Gelar Multaqo Kolaborasi Bersama Ademos Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026

Anyar Nabs

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: