“Oh, bukankah gelas ini dari seorang ‘pangsiunan’ pembalap mobil nasional!”
Demikian gumam saya. Sore ini. Ya, sore ini, sambil menikmati teh anget yang ditaburi gula aren rasa jahe oleh-oleh dari Bawean. Gelas berisi minuman sedap itu hadiah ipar seorang sahabat saya: seorang Ustadz asal Purwakarta, Jawa Barat dan kini telah 30 tahun lebih menetap di Seattle, Amerika Serikat. Ya, lebih dari 30 tahun.
Sahabat saya yang satu ini bernama lengkap Imam Mohammad Joban. Ia bukan saja terkenal sebagai seorang dai yang ulet di negara adikuasa itu saja. Namun, ia juga seorang Muslim Chaplin yang mendampingi para penghuni sederet penjara di sana. Lewat bimbingannya, banyak di antara mereka yang kemudian memeluk Islam.
“Ayo kita ketemuan dan makan bersama. Di Arcamanik, ya!” Tiba-tiba, pada pertengahan bulan Oktober yang lalu, sebuah pesan masuk ke hape saya. “Saya sedang ada di Bandung. Kita ketemuan di rumah ipar saya.”
Ternyata, pesan itu dari sahabat saya yang istrinya asal Semarang itu. Sama seperti istri saya. Benar saja, siang itu kami bertemu di sebuah rumah iparnya. Ternyata, iparnya seorang mantan pembalap mobil kondang. Di situ, saya dijamu dengan beragam masakan yang lezat. Utamanya masakan ala Timur Tengah. Mengikuti jejak langkah Imam Al-Syafii ketika menjadi tamu Imam Ahmad bin Hanbal, hidangan itu benar-benar saya nikmati dengan lahap. Sedap banget.
Sambil menikmati masakan lezat itu, entah kenapa benak saya melayang-layang. Ingat perjalanan panjang perjuangan sahabat saya asal Purwakarta itu.
Perjalanan hidupnya terentang panjang: dari Purwakarta kemudian menimba ilmu di Ciputat. Dari Ciputat kemudian merantau ke Mesir: masuk Universitas Al-Azhar Al-Syarif. Di Mesir, selain menjadi Ketua Persatuan Pelajar Indonesia, ia juga menjadi penerjemah dan penyiar di Radio Kairo. Ketika menjadi penyiar di Radio Kairo itulah ia menjadi saksi hidup penembakan atas diri Presiden Anwar Sadat, pada upacara parade militer perayaan kemenangan Perang 6 Oktober 1973.
Selepas merampungkan program s-2 di Mesir, ia kemudian bermaksud mengambil program s-3 di Universitas Chicago. Namun, garis hidupnya menentukan lain: ia diminta menjadi dai dan Muslim Chaplin, atau rohaniwan Muslim, di sederet penjara. Hingga kini.
“Hatur nuwun, Imam Mohammad Joban dan keluarga. Semoga jejak langkah pangersa senantiasa diridhai Allah Swt., amin. O ya, terima kasih hadiah gelas dan oleh-oleh dari Amriknya. Jazakumullah ahsanal jaza’, nggih. Salam takzim untuk keluarga di Seattle.”








