Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pitutur Luhur Reksabumi: Kidung Leluhur untuk Menjaga Harmoni

Arif Dwi Setiawan by Arif Dwi Setiawan
05/11/2025
in JURNAKULTURA
Pitutur Luhur Reksabumi: Kidung Leluhur untuk Menjaga Harmoni

Ilustrasi: Pitutur Luhur Reksabumi

Pitutur Luhur Reksabumi, seruan para leluhur Jawa untuk menjaga harmoni bumi, melalui Kidung Ajeg Asri. 

Kidung Reksabumi adalah tembang Jawa yang sarat ajaran leluhur tentang menjaga bumi. Judulnya, Reksabumi Ajeg Asri, berarti menjaga bumi agar tetap kokoh dan indah. Bait-baitnya mengajak manusia hidup selaras dengan alam, bukan sekadar mengeksploitasi.

Leluhur Jawa melihat bumi sebagai Ibu Pertiwi yang harus dirawat dengan rasa kemanusiaan sejati (mamut rasa kamanungsan). Kidung ini mengingatkan konsep manunggaling manungsa lan alam: manusia bukan penguasa, tapi bagian dari alam.

Baca Juga: Wirid Wit, Tradisi Ekosufisme Kuno di Pulau Jawa 

Pesan ini relevan hari ini, saat kita menghadapi banjir, kekeringan, dan hilangnya hutan. Kidung bukan sekadar nyanyian, tapi panggilan hati untuk bertanggung jawab menjaga lingkungan bagi anak cucu.

Struktur kidung ini sederhana tapi kuat. Ada refrain yang diulang: Girigeni mawinga-winga (gunung sunyi sepi) dan Kuwanda awut mawut cècèr (hutan kusut tak terurus). Ini gambaran alam yang rusak karena ulah manusia.

Bait utama berbunyi: Reksabumi ajeg asri, Mindha among karsa sagotra, Ranéh amlas asih tumrap marta, Watek naléndra kang enut cbilasa. Artinya: jaga bumi tetap indah, lindungi semua makhluk dengan kasih, sayangi sesama manusia, dan jangan biarkan pemimpin bermain dengan nafsu.

Semua diakhiri doa: Mingkara Hyang Widi jagatnata, Janaloka datan badha ladhu karma — bersyukur pada Tuhan, karena semua perbuatan ada karmanya. Pengulangan ini seperti alarm: kerusakan alam adalah peringatan, bukan akhir.

Kidung ini juga mengkritik manusia yang serakah. Bait Murang tata tamah lan durjana dan Wanawasa jambul gundul menggambarkan orang yang melanggar aturan alam karena tamak, sehingga hutan gundul seperti burung jambul botak. Sujanma tan bisa pinilaya artinya: manusia baik tidak boleh pilih-pilih tanggung jawab — semua harus ikut menjaga.

Leluhur tahu, jika hutan hilang, gunung longsor, sungai kering, maka manusia sendiri yang menderita. Kritik ini ditujukan terutama pada pemimpin (watek naléndra) yang sering mengorbankan alam demi kepentingan pribadi. Pesan ini jelas: nafsu harus dikendalikan, atau bencana akan datang.

Inti ajarannya adalah kasih sayang menyeluruh. Mindha among karsa sagotra berarti lindungi semua makhluk seperti keluarga sendiri. Ranéh amlas asih tumrap marta artinya kasih sayang tulus pada sesama manusia.

Karena jika alam rusak, manusia juga terluka — banjir menenggelamkan kampung, polusi mencemari udara, kekeringan mengancam pangan. Leluhur mengajarkan tri hita karana versi Jawa: harmoni dengan Tuhan, manusia, dan alam. Ini selaras dengan filosofi hamemayu hayuning bawana — menjaga keindahan dunia. Doa kepada Hyang Widi mengingatkan: semua ada hukum karma. Perbuatan baik membawa berkah, perusakan alam membawa malapetaka.

Kidung Reksabumi relevan banget di zaman sekarang. Deforestasi di Kalimantan, banjir di Jawa, sampah plastik di sungai — semua ini seperti refrain kidung yang jadi kenyataan. Tapi ada harapan: kita bisa mulai dari hal kecil. Tanam pohon seperti tradisi ngrumiyat desa, kurangi plastik, ajarkan tembang ini ke anak-anak di sekolah.

Kidung ini juga selaras dengan kearifan lokal seperti di Baduy dan Kampung Naga yang masih menjaga hutan adat. Dengan melantunkan Reksabumi ajeg asri, kita berjanji: menjaga bumi adalah ibadah. Mari wujudkan gunung tak lagi sunyi, hutan tak lagi kusut. Semoga karma baik mengalir, dunia tetap harmonis.

Salamu rahayu sagung dumadi.

Tags: Makin Tahu IndonesiaPitutur Luhur Reksabumi
Previous Post

Sikap Warga Nahdiyyin Menghadapi Fenomena Gus-gusan

Next Post

Menikmati Makan Siang bersama Kiai Amerika Serikat

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: