Makan siang kantor selalu punya ritme yang aneh. Di antara denting sendok mengikis piring dan desis es teh yang mencair, pembicaraan sering kali melompat drastis: dari yang receh—membahas kualitas sambal yang kurang pedas— hingga terpelanting ke ranah eksistensial. Hari itu, diskusinya bermula dari sebuah celetukan sederhana tentang homesickness.
Mengapa, ya, orang yang merantau, baik untuk kuliah maupun kerja di luar kota, begitu mudah dihinggapi penyakit psikis bernama rindu rumah ini? Mengapa pula perantau cenderung membentuk “ghetto” emosional: bergerombol sesama daerah asal, membentuk ikatan primordial yang rapat, dan seolah enggan menyeberang keluar dari zona nyaman tersebut?
Secara reflektif, ini bukan sekadar urusan manja atau gagal beradaptasi. Di tengah kondisi negara yang belum mampu menjamin kelayakan hidup secara merata, bergerombol adalah mekanisme bertahan hidup (survival mechanism). Komunitas daerah asal menjadi social safety informal. Saat sakit tak ada keluarga, saat dompet mengempis sebelum akhir bulan, teman sedaerah adalah bantalan pertama sebelum seseorang benar-benar jatuh bebas dalam kesengsaraan merantau.
Namun, obrolan meja makan tak berhenti di sana. Mencoba memberikan penghiburan eksistensial bagi para perantau yang sedang berjuang, saya melempar sebuah statistik sentimental: “Tapi bagaimanapun juga, kota ini, kota tempat kita berpijak atau daerah asal kita ini, dalah tempat di mana orang-orang besar pernah lahir.”
Sebuah romantisme klasik untuk memompa kebanggaan lokal. Namun, sebelum kalimat itu benar-benar mendarat dengan manis, seorang teman menyela dengan tajam, memotong romantisme itu tepat di urat lehernya.
“Sorry, takdekonstruksi pemikiranem,” katanya sambil menggeser piring. “Mari kita berpikir: seberapa besar sih pengaruh kota tempat tokoh itu lahir dalam proses hidupnya sampai dia berada di puncak karier? Jangan-jangan kita cuma over-klaim. Atau bahkan tidak ada dampaknya sama sekali; kota itu cuma kebetulan jadi lokasi geografis keluar dari rahim ibu.”
Dia lalu menyodorkan sebuah analogi yang menampar: Soekarno. Sang Proklamator sering dicitrakan dan diidentikkan dengan tempat kelahirannya (atau tempat yang diklaim sebagai tanah kelahirannya dalam narasi sejarah populer seperti Blitar atau Surabaya). Pertanyaannya: apakah ruang geografis masa kecil itu yang membentuk secara dominan gagasannya tentang marhaenisme, anti-imperialisme, dan geopolitik global? Ataukah interaksi pemikiran dan gerakannya justru ditempa habis-habisan saat dia berada di Bandung, Surabaya dalam naungan Tjokroaminoto, atau di ruang-ruang pengasingan?
Celetukan dekonstruktif itu membuat meja makan mendadak hening. Kita sering kali terjebak dalam romantic fallacy atau kebanggaan semu berbasis kewilayahan. Kita bangga karena berasal dari kota yang sama dengan seorang menteri, vokalis band papan atas, atau pahlawan nasional.
Padahal, kota tersebut mungkin hanya menyumbang udara pertama yang dihirup sang tokoh, sementara struktur sosial, pendidikan, dan ekosistem di sana justru tidak menyediakan ruang sama sekali bagi tumbuh kembang bakatnya. Sang tokoh menjadi “besar” justru karena dia berani keluar dan ditempa oleh dinamika di luar tanah kelahirannya.
Jebakan over-klaim ini membuat daerah sering kali meninabokukkan diri. Alih-alih memperbaiki fasilitas publik, iklim riset, atau menciptakan lapangan kerja yang layak agar lahir bakat-bakat baru, daerah lebih sibuk membuat patung atau mengeklaim narasi “Kota Para Tokoh”.
Diskusi makan siang itu akhirnya ditutup oleh dering jam kantor yang menandakan jam istirahat telah usai. Kami kembali ke meja kerja masing-masing; melanjutkan rutinitas mencari nafkah di tanah perantauan.
Mungkin benar, rindu kampung halaman adalah wujud rapuhnya kita di hadapan realitas hidup yang keras. Namun, mengaitkan kejayaan masa depan hanya pada romantisme “tempat lahir” adalah bentuk kepasrahan yang lain.
Kota kelahiran boleh jadi adalah tempat kita berangkat, tapi ruang dialektika, keberanian keluar dari kelompok bergerombol, dan benturan realitas di luar sanalah yang benar-benar menentukan seberapa jauh kita bisa melangkah.








