Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pemburu Ilmu dari Gaza, Catatan Akhir 2025

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
30/12/2025
in Cecurhatan
Pemburu Ilmu dari Gaza, Catatan Akhir 2025

Ekosistem Pencari Ilmu

Langit Fustat, Mesir malam itu bagai kain beludru biru tua. Sementara Sungai Nil mengalir pelan, membawa bisikan zaman dalam riaknya yang berkilauan oleh cahaya rembulan. Di tepinya, seorang lelaki duduk bersila.

Jubahnya yang sederhana menyatu dengan bayangan pohon kurma. Ia bukan penjaga sungai. Ia adalah pemburu. Buruannya adalah sesuatu yang tak tampak oleh mata: ilmu.

Namanya Muhammad bin Idris. Namun, dunia memanggilnya Imam Al-Syafii. Sebelum menjadi pemburu ilmu kondang, ketika belia, ia adalah seorang bocah yatim di perkampungan Bani Hudzail, antara Makkah dan Thaif, yang tidur dengan Alquran di dada dan bangun dengan rasa haus ilmu yang membara.

Ibunya melihat cahaya itu di matanya: cahaya yang dapat redup oleh debu ketidaktahuan. Maka, dengan keberanian yang hanya dimiliki seorang ibu yang mencintai anaknya lebih dari nyawanya, ia membawa anaknya itu keluar dari Gaza, Palestina.

Mereka berjalan jauh menuju Makkah: berjalan kaki jauh, sekitar 1400 km, bukan menuju kemuliaan, namun menuju ruang bertanya. “Ilmu,” bisik Imam Al-Syafii kelak, “bukanlah apa yang simpan dalam peti ingatan. Ilmu adalah lentera yang kau nyalakan dalam ruang batin. Jika cahayanya tidak memandumu, itu hanyalah fatamorgana.”

Sosok yang satu ini tumbuh dengan satu jenis dorongan: dorongan untuk bertanya, bertanya, dan bertanya. Di Madinah, di hadapan Imam Malik bin Anas yang agung, suaranya yang merdu membacakan Kitab Al-Muwaththa’ membuat sang guru meneteskan air mata.

Kemudian, di penjara Yaman, karena fitnah politik, ketika orang lain meratapi nasib, ia justru bersyukur: dinding sel penjara memberinya kesunyian untuk menjinakkan ribuan syair Arab. “Burulah ilmu seperti elang memburu mangsanya,” pesannya. “Namun, ingat, elang tak pernah menelan bulat-bulat. Elang mencabik, memilih daging terbaik, dan meninggalkan sisanya.”

Di Baghdad, ia berdebat dengan murid-murid Imam Abu Hanifah Al-Nu’man. Bukan untuk mengalahkan, namun untuk memahami. Di Mesir, bumi terakhir yang ia tempati, ia berani membongkar pemikirannya sendiri dan membangunnya kembali. Inilah sikapnya: ingin tahu segalanya, namun tak pernah menganggap dirinya tahu segalanya.

Rumahnya di Fustat, Mesir, lebih mirip perpustakaam bobrok. Ruang kerjanya selalu sederhana. Kerap kali lusuh. Suatu hari, seorang murid mengeluh tentang susahnya hidup sebagai pencari ilmu. Sang Imam kemudian membawa muridnya ke tepi Sungai Nil, mengambil segenggam pasir, lalu membiarkannya terjepit di antara jemarinya.

“Lihatlah,” ucap Imam Al-Syafii, “pasir yang tergenggam erat di antara jemari ini akan tetap menjadi pasir. Sedangkan pasir yang rela dilepaskan dari jemari, akan diterbangkan angin dan mungkin saja sampai ke lautan dan menjadi mutiara!”

Sosok kondang itu hidup dalam kemiskinan. Bagi ia, kemiskinan bukanlah sebuah kehinaan, namun kemerdekaan dari kemewahan. “Ilmu memerlukan ruang kosong dalam jiwa,” ucapnya. “Jika jiwa penuh dengan beban emas, lantas di manakah ilmu akan tumbuh?”

Hidupnya hanya 54 musim. Namun, dalam rentang waktu pendek itu, ia menari dengan waktu dalam irama yang memukau. “Waktu adalah pedang yang sangat tajam,” ucapnya. “Jika kau tidak menebaskannya pada hal-hal yang bermakna, ia akan menebas lehermu sendiri!”

Selama lima tahun terakhir hidup sang Imam, ia membongkar, menyaring, dan membangun kembali pemikirannya. Sebuah revolusi diri yang memerlukan kesabaran seorang pertapa dan keberanian seorang pemberontak. “Ilmu yang tak pernah ditantang,” pesannya di akhir hayatnya, “adalah ilmu yang mati. Tantanglah apa yang kutinggalkan. Perbaiki. Semoga kalian menemukan yang lebih baik!”

Selamat Tahun Baru 2026. Semoga kita dapat mengisi tahun itu dengan hal-hal yang bermakna, seperti yang dilakukan Imam Al-Syafii, allahumma amin.

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Ringin Catur, Konsep Ekologis Kuno di Kota Bojonegoro

Next Post

Ekuilibrium Jurnaba dan Wekasan 2025

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: