Ada kejadian menarik dari tetangga penulis, perihal kehidupan anak-anak mereka di waktu malam. Khususnya dalam waktu belajar.
Saben malam, yang dilakukan mereka adalah bermain dengan teman-temannya. Jeritan, keriangan, dialog antar mereka, serta bumbu tangis “sesekali” terjadi akibat pertengkaran, kentara terdengar oleh penulis.
Bila telah selesai bermain –oleh karena malam, mereka kemudian pulang untuk istirahat alias tidur bersama keluarganya masing-masing. Sebab, paginya, mereka akan bersekolah.
Rutinitas bermainnya anak-anak sebagaimana atas, seolah-olah wajar. Apalagi pada usia mereka, masa bermain adalah hal yang disukai. Sehingga sebagaian orang tua, membiarkan saja tanpa ada aktivitas yang berhubungan dengan belajar. Padahal, anak tersebut juga telah memiliki rutinitas wajib bersekolah.
Dalam hal bermain, oke, orang tua mempersilahkan anaknya melakukan saben hari. Hanya saja dalam hal belajar, bagi penulis, ada yang luput dari orang tua untuk memberi penekanan kepada mereka. Yakni, manajeman pembiasaan anak belajar setiap hari (penjadwalan) sebelum mereka beranjak istirahat.
Sebab menurut Prof. Abuddin Nata (2010: 175-176) dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam”, bila usia 2-12 tahun atau fase kanak-kanak (al-tifl), mereka sudah mulai dapat dibina, dilatih, dibimbing, serta diberi pelajaran dan pendidikan yang disesuaikan dengan bakat, minat, serta kemampuannya.
Jika demikian, bila aktivitas belajar tidak dibiasakan sejak dini, kelak ketika dewasa, tentu kita –sebagai orang tua, akan dibuat repot untuk sekadar menyuruh anak belajar.
Bahkan yang tragis, paradigma belajar “hanya” ketika menjadi siswa atau bersekolah, menjadi mengemuka. Alhasil, pasca purna bangku sekolah, belajar menjadi sepi, bahkan tidak terlihat di lingkungan informal bernama keluarga.
Internet
Selain lesunya aktivitas belajar di lingkungan informal, terdapat tantangan keterhubungan anak terhadap internet. Andri Priyatna (2012:2) dalam buku “Parenting di Dunia Digital” mengatakan, bila dalam sehari anak bisa menghabiskan 6-8 jam tenggelam berselancar internet. Hal itu terjadi, bila mereka luput dari pantauan orang tua.
Bahkan, oleh sebab keluputan orang tua dalam melakukan pembatasan anak terhadap internet, banyak pula yang menggunakan gadget untuk kebutuhan berselancar secara simultan.
Contoh, voice note kepada anggota keluarga yang lagi bekerja, sambil main game. Konsekuensi yang bisa timbul dari kondisi tersebut, salah satunya adalah prilaku agresif yang berpotensi mengarah pada destruktif; di samping, hal lain rendahnya performansi anak di sekolah.
Berkaca dari fenomena tersebut, kiranya menjadi urgen (penting) mengapa menjadwalkan kegiatan belajar untuk anak perlu dilakukan.
Pertama, pembiasaan belajar. Belajar, bila tidak terbiasa akan susah dan berat dilakukan. Dengan membiasakan anak belajar setiap hari sebelum tidur barang 1 jam saja, tentu perilaku yang awalnya kurang terbiasa kemudian membiasa tersebut akanlah tumbuh. Sehingga, bila tidak belajar, diri akan menjadi aneh.
Hanya saja, bila melihat fakta kekinian, yang jamak, melihat orang belajar itu seperti “aneh” dari kebanyakan orang yang tidak doyan belajar.
Kedua, punya korelasi ketika dewasa. Masih menyambung dengan alasan pertama, bila pembiasaan menjadwal belajar sejak dini anak, akan melahirkan pola belajar yang kontinu kelak hingga mereka dewasa.
Mari kita angen-angen, berapa dari kita –sebagai orang dewasa yang hingga kini masih gemar membaca!
Jika ada, tentu itu hasil dari kebiasaan sebelumnya yang dibangun. Hal ini sebagaimana kata mutiara Arab, “bila belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu”.
Artinya, bekas-bekas pembiasaan belajar berbentuk ukiran yang membekas di batu –sebagaimana mutiara Arab di atas, menjadi karakter kekinian. Sehingga, meski sudah purna dari jenjang pendidikan formal, belajar akan secara otomatis dijadwalkan setiap hari.
Ketiga, membentuk ekosistem belajar. Lingkungan atau ekosistem belajar kudu diciptakan. Dari mana itu dibentuk? Jawabannya, tentu dari lingkungan keluarga (informal).
Coba kita bayangkan bersama-sama, bila masing-masing dari keluarga melakukan kontrol kepada masing-masing anggota keluarga, berwujud jadwal rutin belajar.
Tentu, masing-masing keluarga akan memiliki ikhtiar mengentaskan diri dari “kebodohan” pengetahuan. Ini artinya, update keilmuan senantiasa menjadi prioritas keluarga, selain pekerjaan, dan kebutuhan dasar lainnya.
So, menjadi jelas berdasar uraian di atas, bila nilai penting mengajak anak belajar sejak dini, adalah agar kebiasaan belajar mereka berkarakter atau melahirkan watak pembelajar hingga dewasa.
Bila sudah berkarakter, ada atau tidak pekerjaan rumah (PR), belajar akan tetap dilakukan. Diperintah atau tidak, belajar akan menjadi kebutuhan harian untuk ringan dijalankan.
*Penulis adalah Pegiat Literasi, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri, serta kader Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama dari Kecamatan Balen.








