Indonesia tidak seperti Timur Tengah. Di Indonesia, hubungan antara agama, budaya dan nasionalisme sudah “selesai”. Keduanya sejak lama harmonis. Jadi jika ada keinginan untuk meributkannya, itu hanya orang-orang baru yang masih amatiran.
Jika Rabu biasanya kuliah terpaut pada tembok, kursi, papan tulis serta buku-buku; Rabu kali ini agaknya berbeda. Tentu saja beda, ya kan tiap hari menawarkan perbedaan suasana hati? Ehm ~
Rabu (11/12) kemarin, seluruh civitas academika IAI dan UNU Sunan Giri Bojonegoro bersinergi gelar seminar nasional dikemas dalam tema “Islam Nusantara Solusi Radikalisme” dengan pembicara Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.
Acara berlangsung di gedung Serba Guna Bojonegoro tersebut, sesak dipenuhi pengunjung. Bagaimana tidak? Dua kampus dijadikan satu, je. Tentu bukan sedikit, Nabs. Banyak sekali, jangan dibayangkan ya. Hehe
Antusias pengunjung tetap membara di tengah hujan yang datang dengan tidak begitu damai, justru membawa ribut-ribut angin yang mencemaskan, mirip hatiku, Nabs. Cemas memikirkannya. Nya nya.. nyandang kangen ~
Suasana penuh guruh dan hujan setia membersamai. Sudah hujan, setia lagi, hmm mirip namaku, selalu setia kemanapun, di manapun, terutama pada pasangan dong, Nabs. Heeeeii Intan ngomong apa sih.
Angin menampar-nampar, menggoyang-goyang sebagian tubuh manusia yang berada di beranda gedung. Hujan mengguyur dengan cepat. Sekilas, semua tampak pontang-panting dengan sendirinya.
Di tengah hujan yang riuh, gelap lampu sebab mati.Terlihat empat mahasiswi berjalan bersama dengan berdempet-dempetan karena sesak. Saling desak-mendesak menghindari air hujan yang mengejar tubuhnya.
Anehnya, Nabs. Empat sekawan tersebut saling terpisah tanpa mereka sadar. Dua di pojok kiri, dua di pojok kanan. Tidak saling perhatian kiri dan kanan. Mereka pun sudah terpisah. Sialnya, yang terpisah adalah yang nulis tulisan ini, Nabs. Hehe
Setelah istiqomah duduk cantik menunggu kehadiran si pembicara, akhirnya lampu pun menyala. Tentu saja, saya sudah membayangkan substansi materi yang bakal dijelaskan Abah Aqil.
Benar dikata, benar dinyata.
Tokoh besar yang disebut-sebut pencetus dan pengusung Ide Islam Nusantara itu menyampaikan,
Islam Nusantara yang mengakomodasi antara islam dan budaya. Islamnya dari langit, nusantaranya dari bangsa.
Saya tahu, bagi orang-orang tertentu, tema Islam Nusantara memang agak sensitif, Nabs. Saat membaca tulisan ini, misalnya, matanya bisa tiba-tiba gatal atau tangannya pengen banting hapenya sendiri. Tapi biarin lah, kan hapenya sendiri.
Ohya, dari segala penjelasan Abah Aqil yang terkemas rapi, saya mengingat tajam meski tidak setajam pisau dapur bahwa: orang Indonesia tidak begitu menonjol secara individu, sedang-sedang saja, tapi sudah berhasil membangun kebersamaan.
Berbeda dengan di Timur Tengah, meski secara individu orangnya hebat-hebat, tetapi untuk membangun kebersamaan, mereka gagal. Ini artinya, Indonesia lebih berhasil membangun tatanan sosial politiknya dibanding Timur Tengah.
Intinya apa? Intinya, tidak semua-mua yang berbau Timur Tengah lebih keren dibanding Indonesia. Ada kalanya Indonesia jauh lebih keren dibanding Timur Tengah. Whatt? Iya, wabilkhusus soal ragamnya budaya.
Nabs, Abah Said Aqil Siradj ini lulusan S1 Universitas King Aziz jurusan Ushuluddin dan Dakwah, S2 Universitas Umm Al-Qura jurusan Perbandingan Agama dan S3 di universitas yang sama dengan jurusan Aqidah/Filsafat Islam.
Jadi, nggak heran jika Abah Aqil punya referensi dan pemahaman memadai soal Timur Tengah. Nggak kayak kita yang nggak punya pemahaman apa-apa, tapi sok-sokan paham saja.
Saya jadi tahu, alasan kenapa Abah Aqil sangat dibenci orang-orang ngonoan garis keras, sampai dikata-katain syiah kek, kafir kek, nganu kek. Sekarang saya tahu alasannya apa. Begini:
Sejauh ini, modal utama para ngonoan garis keras itu ya sikap sok tahu mereka terhadap kondisi Timur Tengah. Seolah-olah, mereka memonopoli bermacam referensi tentang Timur Tengah. Padahal, di saat yang sama, pemahaman Abah Aqil jauh lebih empiris daripada pemahaman mereka yang amat utopis itu. Wqwq
Nah, sadar jika pemahaman Abah Aqil jauh lebih dalam dan memadai, ya yang bisa ngonoan garis keras lakukan cuma ngata-ngatain dan ngejek dan membunuh karakter lewat internet aja. Emang berani ketemu dan berdiskusi? Wqwq ~
Menukil penjelasan Abah Aqil, di Indonesia, hubungan Islam dan Nasionalisme sudah selesai; harmonis dan amat kuat. Seimbang dalam berbudaya dan beragama. Sebab keduanya bergerak beriringan.
Berbeda dengan negara di Timur Tengah, Gejolak di Timur Tengah ini tidak terjadi dengan sendirinya tanpa rekayasa, pasti ada yang merencanakan, membikin ataupun mendesain.
Di Timur Tengah yang sangat rapuh, persatuan dan kesatuannya mudah sekali diadu, mudah sekali dibikin konflik; hanya masalah sepele bisa menjadi kasus nasional, bisa merobohkan penguasa, kekuasaan atau bahkan sistem pemerintahan.
Indonesia tidak seperti Timur Tengah. Di Indonesia, hubungan antara agama, budaya dan nasionalisme sudah “selesai”. Keduanya sejak lama harmonis. Jadi jika ada keinginan untuk meributkannya, itu hanya orang-orang baru yang masih amatiran.
Ohya, ngomong-ngomong nih, Nabs. Jika Indonesia saja sudah harmonis antara agama, budaya dan nasionalisme, kenapa aku kamu sama si dia kok masih belum harmonis ya? Eh








