Cinta untuk seorang pria bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Melainkan sesuatu yang harus dibayar dengan kemampuan dan napasnya sendiri.
Saya selalu menganggap stand up comedy sebagai ruang pelarian. Sebuah tempat di mana luka bisa ditertawakan, dan hidup yang membebani bisa dipelintir agar terasa sedikit lebih ringan. Di bawah cahaya panggung dan tawa yang bergemuruh, hidup seolah bisa dinegosiasikan. Ironisnya, justru dari ruang yang tampak paling terang itu saya menemukan kegelapan yang jauh lebih jujur daripada keseharian.
Saya menonton para komika kesayangan di Netflix; Ricky Gervais dengan sinisme dinginnya, Louis C.K. dengan pengakuan-pengakuan kelamnya, Chris Rock dengan kalimat-kalimat tajam yang tidak memberi ruang aman. Dan di antara semua tawa itu, sebongkah kalimat menggelinding jatuh dan tidak pernah benar-benar pergi:
“Only dogs, women and children can be loved unconditionally. Men are only loved when they can provide.” — saya tertawa saat mendengarnya. Tapi tawa itu memiliki ekor. Ia mengikuti saya pulang, duduk di kamar gelap, lalu berubah menjadi sesuatu yang menggigit dari belakang.
Baca Juga: Menjadi Pria dan Beban yang Tidak Sederhana
Setelah layar padam dan malam kembali sunyi, kalimat itu berputar seperti kutukan: bahwa cinta untuk seorang pria bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang harus dibayar, dengan kemampuan, harga diri, dan napasnya sendiri. Sejak itu, pertanyaan-pertanyaan sederhana mulai terdengar seperti palu godam:
Apa yang sudah saya sediakan? Apa yang sudah saya capai?
Pertanyaan yang tampak biasa, tapi menghantam tepat di bagian diri yang paling rapuh. Dan seperti banyak pria lain, saya melakukan hal yang sama: menelan semuanya, menunduk, lalu berjalan lagi. Hidup, pada akhirnya, jarang memberi waktu untuk berhenti dan menata diri. Dunia hanya peduli apakah kita masih bisa berfungsi.
Suatu hari, sebuah video Dea Anugrah berjudul Kiat Sukses Menjadi Pria Sejati membuat saya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia tidak berbicara tentang uang, bukan tentang otot, bukan tentang suara keras yang pura-pura berani. Ia menyebut lima hal, lima syarat yang terdengar sederhana, tapi sesungguhnya adalah lima lorong gelap yang harus dilalui seorang pria sendirian.
Pertama: menguasai sesuatu. Setiap pria butuh satu kemampuan yang benar-benar ia pegang, sekecil apa pun. Dunia tidak mendengarkan pria yang tak punya pegangan. Kemampuan adalah pisau yang harus diasah, bukan disimpan. Bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan. Dalam gelapnya hidup, kemampuan adalah cahaya kecil yang tidak bisa dicuri siapa pun.
Kedua: memiliki prinsip. Prinsip adalah kompas di hutan yang tak bertepi. Tanpanya, seorang pria mudah diputarbalik keadaan. Prinsip tidak lahir dari kalimat indah, melainkan dari keputusan buruk yang sudah dibayar lunas, dari kesalahan yang meninggalkan bekas. Pria tanpa prinsip bukan sedang hidup, dia hanya hanyut.
Ketiga: kapabilitas untuk melindungi. Melindungi bukan soal kekuatan, melainkan kesanggupan untuk berdiri ketika sesuatu perlu diamankan. Seperti atap yang tetap tegak meski kayunya retak. Kadang melindungi berarti menahan diri, mengatur emosi, atau menjadi tempat pulang yang tidak runtuh saat badai datang. Pria yang tak mampu melindungi, akan selalu merasa ada bagian dari dirinya yang hilang.
Keempat: kemampuan untuk berbelas kasih. Belas kasih bagi seorang pria seperti segelas air di ruangan gelap, sedikit, tapi menyelamatkan. Tanpanya, pria berubah menjadi besi dingin. Belas kasih adalah kemampuan melihat manusia lain bukan sebagai ancaman. Ia menjaga seseorang tetap lembut, bahkan ketika hidup memaksanya menjadi keras.
Kelima: selera humor. Humor adalah retakan kecil di dinding yang memungkinkan cahaya masuk. Ia tanda bahwa seorang pria belum sepenuhnya kalah oleh hidup. Humor bukan selalu tawa keras; kadang ia hanya kemampuan melihat absurditas hidup tanpa meledak karenanya. Pria yang masih bisa bercanda adalah pria yang masih punya ruang untuk bernapas.
Semua ini bukan daftar cek yang harus diselesaikan sebelum usia tertentu. Tidak ada usia yang tepat. Tidak ada upacara kelulusan. Menjadi pria adalah pekerjaan seumur hidup, pekerjaan yang jarang dipuji, tidak pernah dirayakan, dan sering kali tidak disaksikan siapa pun.
Karena itulah, tulisan ini hanya sebuah pledoi. Bukan untuk membantah dunia, sebab dunia tidak pernah benar-benar mendengarkan, melainkan untuk membela diri sendiri agar tidak sepenuhnya runtuh. Sebuah pembelaan yang tidak dibacakan di ruang sidang mana pun, tidak dicatat, dan tidak akan diberi putusan.
Ini adalah pembelaan bagi pria-pria yang tetap bangun meski tahu cinta datang dengan syarat, yang terus berjalan meski nilai dirinya selalu ditimbang dari apa yang bisa ia hasilkan. Pria-pria yang dipeluk hanya oleh tanggung jawab, dan dicintai sejauh mereka masih berguna.
Dunia mungkin tidak pernah mencintai mereka. Dunia mungkin hanya membutuhkan mereka. Dan barangkali, itulah vonisnya: menjadi pria berarti hidup dengan kesadaran itu, menerimanya tanpa tepuk tangan, dan tetap berdiri, bukan karena disaksikan, tetapi karena jika ia berhenti, tak ada siapa pun yang akan menggantikannya.








