Sampai kita lalu tak sepenuhnya tahu siapa yang paling berhak menjadi Qurban. Karena aku telah mengalir menjadi bagian darahmu (Zis Al-Hakim, 2021)
Ketika musim hari raya Idul Adha seperti sekarang, menggiring ingatan saya terhadap sikap bapak. Tentang peringatan kerasnya terhadap saya—ketika saya Ikut-ikutan berebut torpedo kambing bersama teman-teman.
“Gak ilok” (tidak pantas), katanya. Kedua bola matanya tampak melotot. Sudah lazim bagi anak-anak di kampung saya, saat penyembelihan hewan qurban tiba—mereka saling berebut torpedo kambing. Kata mereka enak ketika dipanggang, agak kenyal sedikit. Apalagi dibuat tongseng dan diberi bumbu kecap, rasanya cukup untuk menggugah selera makan.
Namun ada juga diantara mereka yang memang sengaja disuruh orang tuanya berebut torpedo kambing. ‘Konon’ untuk menambah vitalitas dan stamina pria. Yang jelas, gara-gara peringatan keras tersebut, saya sama sekali tidak pernah lagi ikutan berebut, apalagi memasak dan memakannya.
Memang, dalam Madzhab Syafi’i dan Maliki tidak ada larangan memakan torpedo kambing—sekadar makruh. Sementara Madzhab Hanafi justru mengharamkannya.
Seperti yang dikatakan Ibnu Abidin, “Sesuatu yang haram dimakan dari bagian tubuh hewan yang boleh dimakan ada tujuh. Yaitu darah yang mengalir, alat kelamin, dua testis, kemaluan kambing betina, ghuddah, kandung bkemih, dan kandung empedu”.
Pendapat ini mengacu kepada hadits yang diriwayatkan oleh Mujahid yang teksnya mirip dengan ucapan Ibnu Abidin, “Rasulullah tidak menyukai kelamin kambing, dua testis, kemaluan kambing (betina), ghuddah, kandung empedu, kandung kencing, dan darah.” Dalam Majmu’ Syarah Muhadzab, Imam Nawawi menilai hadits tersebut lemah.
Sementara Syaikh Yusuf An-Nabhani dalam Syamail Ar-Rasul juga menyebutkan hadits yang sama dan tidak menghukumi haram—hanya makruh. Lebih unik lagi adalah Imam Al-Ghazali yang notabene bermadzhab Syafi’i—dalam Ihya Ulumiddin secara tidak langsung ia cenderung terhadap pendapat madzhab Hanafi.
Jika menilik khazanah Jawa, mengkonsumsi torpedo menjadi wewaler, semacam larangan tak tertulis—namun dipatuhi. Orang Jawa telah menganut falsafah Lingga-Yoni, sebuah ajaran yang bersumber dari tradisi Hindhu sekte Tantrayana. Di mana salah satu doktrinnya adalah menganggap suci dan sakral akan kelamin sebagai manifestasi energi alam semesta, maskulin dan feminim.
Kekuatan abadi yang bersumber dari adikrodati Dewa Siwa dan Bethari Durga. Semacam Yin Yang dalam Taoisme. Hingga sekarang, jejak-jejak ajaran tersebut masih dapat kita saksikan di beberapa candi bercorak Siwais yang tersebar di Jawa—terutama Candi Ceto dan Candi Sukuh di Karanganyar. Sehingga mengkonsumsi torpedo bukan hanya tabu bagi penganut Hindhu, namun telah melanggar kesucian.
Ketika Jawa mengalami proses Islamisasi, ajaran Lingga Yoni tidak serta merta hilang. Para Wali masih mempertahankan—memberinya sentuhan dengan nilai tasawuf Islam. Dapat dibuktikan dengan adanya “wejangan pambukane tata mahligai betal muqodas” dalam tradisi mistisisme Jawa. Sebuah ajaran tentang sakralitas kelamin sebagai manifestasi kesucian ilahi. Karenanya harus dijaga dengan hukum syariat.
Dalam Wirid Hidayat Jati, R. Ng Ranggawarsita mengatakan—anggota dewan Walisongo yang mengajarkan wejangan tersebut adalah Sunan Bonang—kemudian diteruskan oleh Sunan Padusan. Adapun teks wejangan tersebut berbunyi,
“Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-mukaddas iku, omah ênggoning pasucèningsun, jumênêng ana ing kontholing Adam, kang ana ing sajroning konthol iku pringsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutfah, iya iku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikêm, sajroning manikêm iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan Jati, jumênêng nukat gaib tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing ‘alam Akhadiyat, ‘alam Wahdat”
Sejatinya Aku (Allah) berkuasa di didalam mahligai Betal mukhadas, itulah tempat paling suci berdiamnya Aku, berada pada buah zakar Nabi Adam, didalamnya terdapat pringsilan, antara pringsilan dan nutfah adalah air mani, didalamnya terdapat madi, didalamnya terdapat wadi, didalamnya wadi terdapat manikem, didalam manikem adalah rasa, didalam rasa itu Aku, tidak ada Pangeran selain Aku, Dzat yang meliputi keadaan yang sejati, berada pada sifat yang ghaib, akan turun menjadi paling awal, disitu berada di alam hidup, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, menjadi manusia yang sempurna yaitu memiliki sifat-sifat yang telah Ku gariskan.
Lebih lanjut Ranggawarsita menjelaskan, salah satu pantangan bagi yang telah menerima transmisi wejangan Betal Muqodas adalah memakan torpedo binatang. Jika dilanggar, wejangan tersebut tidak akan berarti apa-apa— berlalu begitu saja. Namun seiring berjalannya waktu, larangan tersebut tidak hanya berlaku bagi para sufi Jawa, akan tetapi manusia Jawa secara keseluruhan.
Saya pernah mendengar dari Gus Maksum (KH. Abdullah Maksum Jauhari) pendiri pencak silat Pagar nusa— bahwa beliau melarang segenap santrinya mengkonsumsi semua jenis torpedo, termasuk kambing.
Menurut guru besar Pagar Nusa tersebut, hal itu berakibat mudah mengalami kelupaan atau dalam bahasa lain—pikun. Lebih-lebih bagi siswa atau santri yang sedang menempuh proses belajar, agar sukses dalam meraih ilmu hal itu menjadi sesuatu yang mutlak harus dihindari.
Kata Gus Maksum, nasihat ini ia peroleh langsung dari kakeknya—KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Karenanya, hingga sekarang—segenap dzurriyah dan santri Lirboyo masih memegang teguh nasihat tersebut.
Pada akhirnya, memang tidak ada larangan mengkonsumsi torpedo dalam agama, sebatas etika profetik seorang muslim. Namun dalam beragama bukanlah melulu soal halal-haram atau benar dan salah. Tidak.
Namun melingkupi semua aspek kehidupan, baik dan buruk, indah dan tak indah, pantas dan tidak, disitulah etika dan estetika menjadi penyempurna—menjadi muslim yang kaffah. Bukankah Nabi Muhammad memang diutus ke dunia dengan misi menyempurnakan akhlak?
Biar asap qurban Habil tidak berbelok.
Naik ke awan menembusi resia langit.
Sebab akulah si miskin, ampuni celakaku
Betapa gila aku rindukan satu alamat perhentian (Remy Silado)








