Namun saya pikir, ketimbang terlalu menghayati kesedihan yang tengah mendera diri saya, lebih baik merancang ulang pekan-pekan ini agar sedikit membahagiakan.
Akhir pekan selalu menjadi momentum yang saya sukai di dunia ini. Di waktu itu saya bisa lepas dari jeratan pekerjaan yang menumpuk, juga bisa mengisi kembali tenaga yang terkuras habis setelah selama lima hari penuh bercengkrama dengan deadline.
Biasanya, pada hari aktif sebelumnya, saya telah merencanakan agenda penting untuk mengisi aktivitas itu. Antara lain menonton film, berlibur, berdiam diri di kamar, atau mengasah kembali kemampuan mengarang.
Saya sama sekali tak memasukkan daftar agenda sedih di sana. Meski begitu, sejurus dengan itu pula, kesedihan tak pernah absen menemani pekan-pekan saya itu.
Pada Minggu ini misalnya. Saya telah merencanakan agenda membaca buku sebanyak-banyaknya, menonton film, atau melatih ketahanan dalam melamun. Dan sebelum itu bisa terealisasi, senyatanya perasaan sedih terlebih dahulu menyapa dengan hikmat.
Ialah kejadian konstelasi politik yang beberapa hari ini mewarnai lingkaran percakapan kita. Presiden terpilih di negara kita, Joko Widodo mengumumkan deretan para pembantunya.
Banyak yang terkejut atas pemilihan itu, misalnya Prabowo Subianto, sang kompetitor di Pilihan Presiden lalu justru dipilih sebagai Menteri Pertahanan dan sosok Susi Pudjiastuti justru tak terdaftar dalam jajaran pejabat di kabinet.
Padahal, saya kira Susi telah menunjukan hasil kerja yang tak bisa dianggap sepele: menenggelamkan kapal-kapal asing dan memengaruhi banyak orang untuk makan ikan dan menjadikan reputasi maritim kita menanjak pesat. Orang-orang di jagat media sosial, bahkan melabelinya sebagai ratu pantai selatan.
Tapi, biar bagaimanapun itu adalah hak prerogatif presiden. Sejauh ini kita hanya bisa melihat dan memeriksa sekaligus mengawal kinerja para pembantu presiden tadi.
Hanya saja, soal Susi Pudjiastuti memaksa saya benar-benar sedih pekan ini. Saya teringat kejadian yang terjadi tahun 2014 lalu.
Waktu itu, pada suatu sore menjelang gelap, sekelompok mahasiswa baru berjejer rapi di serambi masjid. Kami duduk melingkar dan mendiskusikan tulisan saya soal Susi. Saya memberi judul tulisan tersebut “Niat Suci Susi”.
Awalnya tak ada yang istimewa. Hanya ketika memasuki bagian isi, saya pikir saya perlu meminta maaf pada Susi Pudjiastuti.
Saya menyebut perempuan pemilik Susi Air itu dengan nada yang negatif. Hal demikian antara lain akibat ia yang merokok di sekitar istana, tidak sesuai dengan lazimnya menteri yang lulusan moncer perguruan tinggi, dan memiliki tato di kakinya.
Saat itu, saya merasa ia adalah orang yang salah dan tak layak menjadi menteri. “Bagaimana bisa negara ini dipimpin orang yang model begitu?” kata saya dalam hati.
Teman-teman yang hadir tampak tidak puas dengan tulisan saya. Seorang teman bahkan mengkritik secara pedas tulisan itu, dan meminta saya menghentikan asumsi berlebihan pada orang yang berbeda.
Setelah sekian lama, akhirnya saya menyadari juga. Justru di akhir kepemimpinannya, Susi adalah orang yang paling saya rindukan kiprahnya. Ia telah membuktikan banyak hal, dan saya perlu berterima kasih atas usaha spektakuler itu.
Dan kini, justru setelah ia tak menjadi menteri lagi, kesedihan saya menanjak berlipat-lipat. Saya tak mengerti situasi ini. Namun, saya merasa periode kali ini terlihat muram (ah semoga saja itu tidak benar).
Bayangkan, orang-orang dengan napak tilas bermasalah dilibatkan, dan hanya sedikit sekali representasi perempuan di kalangan profesional yang turut menjadi pejabat pemerintah.
Namun, yang lebih berbahaya dari itu adalah bersatunya oligarki dan meredupnya nyala api integritas. Dan itu, yang menjadikan pekan saya kali ini terasa sedih.
***
Saya tidak mengerti dengan situasi pekan ini. Namun saya pikir, ketimbang terlalu menghayati kesedihan yang tengah mendera diri saya, lebih baik merancang ulang pekan-pekan ini agar sedikit membahagiakan.
Adakah saran dari Anda untuk menjalani pekan ini?*








