Pasca berkontribusi di start-up raksasa Bukalapak, kini Rendhy Ardya Pradhita tertantang membidani start-up baru di bidang Point of Sales (POS). Meski teramat sibuk, tiap tahun Rendhy menyempatkan diri pulang ke Bojonegoro.
Saat mendengar kata Bukalapak, yang ada di pikiran kita tentu bukan hanya soal produk dan penjualan. Tapi juga sosok pemuda-pemuda hebat yang ada di balik start-up unicorn tersebut.
Nabs, tahu nggak kalau ada pemuda Bojonegoro di balik kreativitas Bukalapak. Bahkan, menjadi salah satu aktor yang berperan penting dalam pengelolaan SDM di e-commerce raksasa tersebut.
Kepada Jurnaba.co, pemuda yang amat rendah hati itu banyak berkisah tentang pengalamannya berkontribusi di Bukalapak, mengelola start-up, hingga hubungannya dengan kota kecil yang baginya amat berkesan: Bojonegoro.
Rendhy lahir di Jakarta, dengan kedua orang tua berasal dari Bojonegoro. Ibunya menghabiskan masa kecil di Desa Dengok, Kecamatan Padangan. Sementara ayahnya, tinggal di daerah sekitar alun-alun Bojonegoro.
Kedua orang tua Rendhy mengadu nasib dan merantau ke Ibukota. Serta membesarkan kedua anaknya — Rendhy dan kakak perempuannya — di Depok, kota yang berbatasan dengan sisi selatan Jakarta.
Rendhy lahir dan menjalani masa kecil hingga remaja di Depok. Dia sempat mengenyam pendidikan tinggi di UGM Jogjakarta. Sejak kecil, hampir tiap tahun Rendhy selalu menyempatkan diri pulang kampung ke Bojonegoro, ke rumah keluarga dari ibu yang kini beralamat di daerah Karang Pacar.
“Masih sempat menikmati Bravo yang dulu beralamat di Jalan Kartini, maupun melintasi jembatan Kaliketek yang harus bergantian jika ada kereta lewat.” Tutur Rendhy mengenang.
Selepas menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, tepatnya di jurusan Teknik Nuklir, Rendhy kembali ke Ibukota sebagai pencari kerja. Dia masih ingat, tempat kerja pertamanya dulu, sebagai Management Trainee (MT) di PT Puninar Jaya — sebuah perusahaan logistik.
Sebagai MT, dia bercerita jika sempat berpindah-pindah ke berbagai posisi hingga berakhir sebagai seorang Management Development, yang sehari-hari mengelola Corporate Planning dan Performance Review perusahaan.
Nabs, Rendhy sempat beberapa kali pindah kerja. Sebagian besar ke industri manufaktur. Namun, suatu ketika, salah seorang rekan kerjanya di Puninar, menawarinya untuk bergabung ke Bukalapak.
Kebetulan, saat itu rekan kerjanya tersebut baru resign dari Puninar dan Bukalapak memang sedang membangun team di sana. Akhirnya, dia pun mengajak Rendhy untuk bergabung ke Bukalapak pada 2015. Saat itu, Rendhy tercatat sebagai karyawan ke-114.
Di Bukalapak, Rendhy tak mengelola Corporate Planning sebagaimana role dia sebelumnya. Melainkan menjadi team Human Capital (HC) dengan role Organization & People Development.
Rendhy diamanahi mendesain struktur organisasi, job role, kompetensi, mengadakan assessment, pelatihan, dan sebagainya. Di luar itu, karena organisasinya masih sangat sederhana, seringkali dia diperbantukan mengelola fungsi-fungsi HC yang lain.
Dia berkisah bahwa pada suatu waktu, ketika Bukalapak semakin berkembang, ada area di team HC yang cukup terbengkalai, yakni di area Personnel, Payroll, HRIS & Administration. Rendhy pun berpindah tugas menjadi HC Services dan mengelola team yang berjumlah 5 orang, tepat setahun setelah dia bergabung di Bukalapak.
“Saya mulai merapikan seluruh database dan administrasi kekaryawanan, serta mengelola layanan ketenagakerjaan bagi para karyawan,” ucap pria 31 tahun tersebut.
Kian hari Bukalapak kian berkembang. Berawal dari 100-an karyawan, hingga menjadi 2000-an karyawan. Begitu pula peran Rendhy di Bukalapak: team HC Services yang tadinya hanya 5 orang, berkembang menjadi lebih dari belasan.
“Itu belum termasuk 20-an orang lainnya yang membantu mengurus administrasi setiap divisi, yang juga berada di team saya,” katanya.
Demikian juga dengan fungsi HC Services yang Rendhy pegang, telah bertransformasi menjadi Talent Experience. Disebut begitu, kata dia, karena peran Rendhy dan team adalah memberi pengalaman terbaik bagi seluruh karyawan Bukalapak dalam menjalani hari-harinya di perusahaan.
Setelah hampir 4.5 tahun berkarya bersama Bukalapak, pada 2019 ini, Rendhy memutuskan untuk mencoba tantangan dan pengalaman baru. Dia menerima tawaran dari para Co-Founder PT Moka Teknologi Indonesia (Moka) untuk membantu mengembangkan peran HR di sana.
Nabs, Moka merupakan sebuah start-up yang bergerak di bidang penyedia aplikasi Point of Sales (POS): aplikasi yang bisa kita jumpai saat berada di coffee shop atau restoran, ketika melakukan transaksi pembayaran di kasir.
“Saya meninggalkan Bukalapak dengan 2000-an karyawannya, juga team HC saya dengan lebih dari 30-an orang anggotanya,” imbuh dia.
Kini, Rendhy berperan sebagai General Manager of People di Moka dengan team yang beranggotakan lebih dari 20 orang untuk melayani seluruh aktivitas HR kepada lebih dari 800 karyawan, dengan jumlah yang masih akan terus bertambah setiap bulannya.
Dengan kesibukan sebagai awak start-up yang amat susah mencari waktu luang seperti itu, Rendhy masih meluangkan waktu untuk wawancara bersama Jurnaba.co secara sangat antusias dan menyenangkan.
Hebatnya lagi, dengan kesibukan sepadat kemacetan Ibukota, setiap tahun Rendhy selalu menyempatkan waktu untuk sambang ke kampung halaman di Bojonegoro.
Bahkan, yang membikin Rendhy merasa bangga adalah, kini, dia bisa turut serta mengajak istri dan ketiga anaknya untuk mengunjungi tempat di mana keluarganya dulu berasal.
“Semacam dari sebuah kota yang sederhana, mewariskan generasi yang dapat mewujudkan kontribusi nyata bagi negara.” Ucapnya penuh bangga.








