Bisa saja pekerjaan manusia yang akan datang dapat digantikan dengan mesin.
Nanti, puluhan tahun ke depan setelah sepenuhnya pekerjaan dan peran manusia tergantikan oleh teknologi beserta robot pabrikan. Masihkah manusia di masa depan punya kendali? setidaknya atas dirinya sendiri.
Jangankan satu dekade atau satu abad mendatang, hari ini saja. Sesederhana tugas mendasar bagi manusia untuk berpikir, sudah dimudahkan dengan adanya berbagai media yang sampai kita dibingungkan mau memilih yang mana. Mungkin Artificial Intelegence semacam chatGPT yang tiap hari makin memanjakan otak manusia jika tidak pandai menggunakan secara tepat guna.
Itu baru yang sederhana, belum lagi perkara besar yang mungkin hanya Elon Musk saja yang mengetahuinya, wqwq. Sebab, kalau masyarakat kita, kan cuma didaku untuk jadi konsumen belaka.
Ayolah mengaku saja, bekerja secara parsial yang tiap hari di lakukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan hidup yang fana, pun sementara, bukan?
Jangankan untuk mencipta hal-hal yang bersifat terbarukan. Wong untuk perasaan saja masih terjebak di fase nyaman menjalani hubungan. Walau, yang di maksudkan adalah hubungan tak berantah terjebak di angan. Alias, selesai di tengah jalan kalau kata orang, wqwq.
Pandangan orang-orang
Sebetulnya, kondisi demikian sudah di baca oleh Neil Postman. Ia berkemuka, kalau teknologi sudah menjadi kekuatan dominan dalam masyarakat modern, mempengaruhi segala pola. Mulai dari berpikir, berkomunikasi, berinteraksi atau menjalani kehidupan sehari-hari. Barangkali adalah bagian integral yang tak terpisahkan, malahan.
Juga diperparah kondisi, di mana teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat yang mempermudah kerja manusia, tetapi juga membentuk nilai-nilai hingga norma budaya, yang barangkali tingkat opiumnya sudah lebih dari psikotropika.
Pada gilirannya, manusia yang tak punya kendali atas teknologi akan terninabobokan oleh segala kemudahannya. Membuat kemalasan semakin menggurita, tingkat konsumtif tingkat dewa, dan nalar kritis-analitis hanyalah utopia belaka.
Yang bisa di lakukan adalah, memberikan batasan terhadap diri sendiri agar terhindar dari ketergantungan dari. Kalau kata teman ngopi saya, Sigmund Freud. Ia mengemukakan agar membentuk Self Defense Mechanism di alam bawah sadar manusia, agar seseorang mampu mengatasi ledakan yang berhubungan dengan kecemasan.
Mekanisme ini dapat digunakan untuk menyembunyikan atau menekan emosi yang tidak diinginkan. Walaupun tak jarang, kurang relevan untuk menghapus bayang-bayang kenangan yang pernah tercipta di sela usia yang penuh keterbatasan.








