Tugas seorang surveyor layaknya pengembara yang haus akan informasi. Seekor semut menceritakan kisahnya saat menjadi surveyor yang kurang beruntung. Sial memang, itu yang ia sedihkan hingga binatang itu berkeluh kesah dan menulis tulisan ini.
Survey yang semut lakukan berkait sosial politik dan kemasyarakatan. Yang mana, hasilnya untuk kemajuan kerajaan serangga. Namun, semut merasa bingung akan tanggung jawabnya. Progres yang harusnya ia selesaikan itu, gagal karena keliru dalam mengerjakan.
Semut menyadari semua survey yang ia kerjakan bisa gagal karena ada sejumlah faktor yang tak bisa dijelaskan. Berhubung faktornya masih dipinjam Pak Tani untuk membajak sawah, semut tak bisa menganalisa kegagalannya deh.
Sebenarnya, faktor utama kegagalan si semut adalah salah memilih rekan untuk mensurvey. Kenapa ia malah memilih rayap (isoptera) sebagai teman survey. Padahal ia kan jenis serangga yang mambu-mambu reptil. Lha wong kayu aja dimakan.
Dampaknya, semut disuruh berbohong untuk mengisi beberapa kuisioner. Saat semut diminta berbohong, semut merasa canggung. Namun karena paksaan agar segera menyelesaikan survey, semut samikna waatokna dan ikut sekalian berbohong. Miris memang nasib si semut ini.
Saat penilitian door to door di rumah rakyat serangga, misalnya. Sebetulnya semut pengen belajar berdiplomasi dengan mereka. Eh boro-boro mau bilang selamat pagi pak atau ibu, baru ngucap kulanuwun pada pintu saja sudah diserobot spesies rayap dengan nada jawa halus nan sok karismatik pada responden.
“Apalah daya saya yang hanya bisa menggunakan bahasa semut, diam dan tak terdengar” ucap si semut.
Akhirnya, perhatian rakyat kerajaan serangga yang dijadikan responden pun diborong habis oleh si rayap. Lantas, semut pun tak bisa berkata-kata, hanya bisa menyapa para responden yang justru dengan polos menatap kasihan pada semut.
Setelah semua sesi wawancara dan pengisian kuisioner selesai, semut dan rayap pun mengumpulkan datanya untuk proses pencairan dana yang sudah dijanjikan istana serangga kepada semut dan rayap sebelumnya.
Saat wawancara hasil survey, semut merasa terbebani atas kebohongan yang dibikin. Dan ia berkata jujur bahwa surveynya itu cheating atau ada beberapa kecurangan data. Alhasil, pencairan dana semut pun gagal.
Sedang rayap yang memang sudah berbakat melakukan kebohongan, dengan keyakinan seorang pahlawan pembela kebenaran, ia mampu memoles kebohongan data dengan sangat meyakinkan. Alhasil, pencairan dananya pun sukses.
Pesan moralnya: kalau bohong jangan tanggung-tanggung, harus kaffah. Harus yakin dan biasa-biasa saja, seperti tokoh rayap dalam kisah di atas. Semut yang tak biasa berbohong, gagal karena kebohongannya setengah-setengah.
Tapi semut bangga dengan kegagalannya. Sebab, itu menunjukkan bahwa ia tak berbakat berbuat curang dan tak berniat menjadi curang. Semut justru bangga dengan modal kejujuran alami yang ia miliki.
Dari kisah yang ia alami, semut menyimpulkan bahwa kebenaran ada dua macam. Kebenaran sesuai hasil materialistis dan kebenaran dialektis yang ditentukan seberapa cakap kemampuan beretorika.
Dan retorika baik jika digunakan demi kebaikan bersama, seperti halnya Soekarno yang selalu menggunakan rektorika untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan perlawanan terhadap penjajah.
Namun retorika yang digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan orang lain, tentu bukan sesuatu yang bagus. Seperti apa yang dilakukan rayap dalam kisah di atas, kemampuan retoris oportunis yang tak etis.
Perlu digarisbawahi, kebohongan layaknya batu yang mengganjal. Jika jarang bohong, tiap melakukan kebohongan akan terasa canggung dan tak taneg. Itu yang dirasakan si semut dalam kisah tentang kegiatan survey di atas. Dan semut bangga karena tak punya bakat bohong seperti yang dipunyai rayap.








