Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Riang Gembira dengan Hari Kiamat

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
10/01/2020
in Cecurhatan
Riang Gembira dengan Hari Kiamat

Hari menjelang petang, tetapi saya harus terlibat percakapan agak serius dengan Laras Olivia, seorang jurnalis kampus di Riau, mengenai daftar-daftar kengerian yang terjadi awal tahun 2020.

Pemicunya adalah komentar Laras mengenai sebuah kasus besar yang tengah hangat belakangan ini: Reynhard Sinaga, seorang mahasiswa asal Indonesia di Inggris yang melakukan pemerkosaan dengan jumlah korban terbesar di Inggris.

Reynhard diputus bersalah dan harus mendekam di penjara sepanjang usia.

Saking berdampaknya kasus itu, Laras berujar tentang betapa beratnya orang-orang dengan marga Sinaga. Soalnya, mau tidak mau, publik bisa saja mengasosiasikan tindakan Reynhard Sinaga yang keji tersebut pada setiap orang yang bernama Sinaga.

Saya membalas komentar dia dan menanyakan: apakah hal serupa juga akan terjadi dengan orang-orang Indonesa? Sebab, Renyhard adalah orang Indonesia, dan potensi yang sama juga bisa terjadi pada latar belakang seseorang.

Diskusi itu tak menemukan kesimpulan konkret dan justru perbincangan kami, pada akhirnya, menjurus pada kengerian-kengerian lainnya. Iran tengah bersitegang dengan Amerika Serikat, akibat Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Qassim Sulaimani, terbunuh.

Negara Paman Sam itu mengaku bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Dan Iran, meresponnya dengan sebuah ancaman perang terbuka. Banyak pihak memprediksi World War (WW) 3 akan terjadi.

Tetapi apakah cuma itu? Oh tentu tidak. Kengerian lainnya datang dari bencana banjir di Jakarta dan beberapa tempat lainnya. Banjir itu terjadi justru di saat orang-orang baru saja berpesta menyambut tahun 2020. Kata teman saya di sana, banjir tahun ini menjadi yang terparah. Dan ia hanya berharap kejadian tersebut lekas pulih.

Sementara di tempat lain, Australia, ratusan hewan mati akibat kebakaran. Saya tak sampai hati melihat koala, hewan pemalu itu, hingga memberanikan diri mendekat ke kerumunan manusia, untuk meminta berteguk-teguk air putih.

Sedangkan tak jauh dari situ; rusa, kucing, dan hewan lainnya terpanggang habis. Oh kengerian macam apa ini?

Akhirnya, saya menyudahi pembahasan itu dengan peryataan realistis saja: lalu apa yang bisa kita buat? Sedangkan selama ini saya hanya bisa menyebarkan berita soal itu di media sosial. Lalu dia bilang tidak apa-apa, karena memang itu yang kita bisa.

**

6 Januari 2020. Raka Ibrahim, seorang penulis muda yang menyebut dirinya sebagai panitia hari kiamat, menulis esai ciamik di Asumsi.co. Isinya tentang kemungkinan kiamat terjadi dalam waktu dekat, dan kita sebagai manusia, tak perlu takut menghadapinya.

Ia sendiri justru merasa lega. Sebab dengan menyadari kemungkinan kiamat itu, ia bisa jujur dan mengungkapkan beban di dada. Serta bersikap lebih positif dan gembira. Toh dengan mengerti demikian, apa lagi yang perlu kita tahan?

Raka mungkin benar, dan ya, itu adalah sikap paling masuk akal yang sejauh ini saya pahami. Toh, apa gunanya lagi menahan sesuatu dan terus berpura-pura?

Jika begitu, saya juga perlu bersikap terbuka atas berbagai hal. Saya perlu berterus terang pada Anda sekalian bahwa saya seringkali merasa takut jika tulisan yang saya tulis di sini jelek. Dan hal itu mengakibatkan saya jarang menulis lagi.

Namun karena kiamat akan terjadi sebentar lagi, saya merasa tak punya cara lain selain tetap menulis apa saja yang hinggap di kepala. Mungkin sekali dua kali akan menyiksa Anda, tapi percayalah, saya akan menulis sejujur yang saya bisa.

Saya berharap Anda juga memiliki sikap yang sama. Sebab, tentu saja, waktu kita amat terbatas. Terlalu mubadzir jika kita terus-terusan khawatir. Dan terlalu rugi, jika di masa yang amat sebentar ini, kita bersedih hati.

Fenomena kengerian di mana-mana terang saja membuat hati saya hancur. Namun, saya memilih menuliskannya di sini dan membaginya bersama Anda, ketimbang khawatir dengan buruknya tulisan itu nantinya.

Saya ingin Anda tahu bahwa saya tak takut lagi menulis jelek. Dan di ruang ini, saya ingin keberanian seperti itu lahir juga dalam diri Anda. (*)

Tags: Banjir JakartakiamatReynhard Sinaga
Previous Post

Isu Perang Dunia 3 dan Peradaban di Indonesia

Next Post

Bandara Ngloram dan Melihat Pesawat dari Jarak Dekat

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: