Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Saat Intan Memasak Kerikil dan Daun Kering di Runaba

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
07/12/2019
in Cecurhatan

Saya seringkali berkunjung ke Runaba saat siang atau menjelang malam. Yang jelas, saat ruang kreatif itu sedang sepi penghuni. Kegiatan itu rutin saya lakukan. Sekadar memastikan, tempat itu tetap mempesona di mata saya.

Runaba, kadang menjadi “ruang endap” bagi saya. Tempat saya meniriskan banyak informasi. Memilah mana yang toxic dan mana yang patut dikonsumsi. Mungkin karena suasananya enak, atau karena saya punya kebetahan psikologis di sana.

Saat berada di Runaba, saya punya kebiasaan mengendapkan diri— duduk di teras sambil merokok dan menikmati kopi. Saya bisa berlama-lama duduk di sana sendirian: menyambut datangnya ingatan-ingatan, sekaligus merenungi prediksi masa depan yang silih berdatangan.

Saya memang agak pelupa dalam beberapa hal. Terutama lupa menaruh kunci motor atau korek api. Tapi, dalam ranah tertentu, saya bisa menjadi pengingat yang amat tajam. Entah ini berkah atau kutukan, saya tidak tahu.

Saya akan selalu ingat momen ketika kami semua berkumpul untuk masak Indomie goreng. Melawan lapar dengan cara yang amat sederhana tapi membahagiakan. Menulis puisi tentang hujan, dan membacakannya dengan malu-malu tapi penuh penghayatan.

Tanggal, hari, waktu, siapa mengenakan pakaian apa, siapa duduk di tempat mana, siapa membaca apa, bahkan saya masih ingat dengan jelas. Teman-teman yang seharusnya bergegas mencari hiburan, justru duduk taneg di kantor, menanti kebahagiaan bersama-sama.

Sore itu, teman-teman tampak dewasa. Mengabaikan kepentingan pribadi demi kebersamaan yang terlihat sederhana, tapi justru memiliki kemewahan yang tak berskala — kesederhanaan yang amat saya syukuri dan tentu saja, sangat sulit saya lupa.

Sepertinya, saya punya bakat menjadi pengingat dan pengapresiasi hal-hal kecil. Saya mudah sekali mengabaikan hal-hal tampak, yang diucap dengan volume besar. Tapi mudah mengabadikan perihal kecil, yang bahkan tak sempat diucap tenggorokan.

** **
Siang tadi, saat saya duduk santai di depan Runaba, ada momen unik yang saya alami. Dengan menggunakan sepeda gunung dan menenteng gitar, saya melihat Dito tiba-tiba menghampiri saya. Padahal kami tidak janjian. Kami juga telah lama tak bertemu.

“Heee Mas, ayo nyanyi-nyanyi,” katanya sambil tersenyum, bahkan sejak dari kejauhan.

Makplas, hati saya. Terkejut sekaligus merasa ada kelegaan yang aneh. Dito yang jarang bertemu, tiba-tiba tahu jika saya sedang berada di sana. Membawa gitar pula. Mungkin dia ingin menebus kealpaan: dulu, saat saya sering memintanya membawa gitar, dia sering tak mau bawa.

“Saya tahu hari ini sampean sedang ulang tahun,” Ucapnya sambil memarkir sepeda di teras Runaba,  “Jadi, saya tahu pasti ada di sini.” Dia menyunggingkan senyum lucu.

Saya kaget. Bahkan saya lupa jika saya sedang ulang tahun. Tapi saya ingat, suatu hari saya pernah iseng bercerita pada Dito bahwa saya punya tiga tanggal dan tahun lahir yang berbeda. Saya bilang kepadanya: saya lahir sebanyak 3 kali.

Karena Dito pengingat yang baik, dia memanfaatkan keisengan saya untuk membikin keisengan baru kepada saya. Tampaknya, Dito dan saya punya bakat mengingat dan mengapresiasi perihal kecil. Menyadari itu, kami pun tertawa terpingkal-pingkal.

Dito memainkan beberapa lagu kesukaan saya, sekaligus meminta saya menyanyikannya; First of May (Bee Gees), Jupiter (Dustbox), Time of Your Life (Green Day). Bahkan, lagu menye-menye tapi amat saya sukai seperti Damai Bersamamu (Chrisye) dan Bahasa Kalbu (Titi DJ) pun kami mainkan.

Saat kami sedang genjrang-genjreng penuh kesederhanaan, perihal mengejutkan kembali datang. Intan, mahasiswi yang sering nulis di Jurnaba, tiba-tiba datang membawa kantung kresek berwarna hitam. Ia agak tergesa-gesa, tapi langsung kalem ketika melihat kami berdua.

“Ada alat buat masak nggak, Mas? Mau saya masakin sesuatu?” Ucapnya yang langsung membuat Dito dan saya kaget.

Saya belum terlalu kenal Intan. Saya hanya tahu dia sering nulis di Jurnaba, dan sempat mengedit tulisan yang dia kirim. Saya juga pernah beberapakali menemuinya saat mengikuti kelas Senin Mengeja (Senja) di Runaba — sebuah kelas menulis yang diampu Anin tiap Senin sore.

Selebihnya, saya tak terlalu mengenal Intan. Dito, bahkan baru pertamakali ini menemuinya. Dia sempat bertanya-tanya pada saya, bagaimana bisa seorang mahasiswi tiba-tiba datang lalu menawarkan sebuah masakan.

“Memang Intan mau masak apa?”

“Ini, Mas” ucapnya sambil membuka kantung keresek warna hitam di depan kami.

Mata saya terbelalak. Dito hampir lompat dari tempat duduknya. Kami berdua melihat kerikil berwarna kecoklatan dan daun kering yang sudah menghitam. Saya sempat membatin, semoga saya sedang tidak bermimpi. Dito agak kaget awalnya, tapi kami semua bisa segera menenangkan diri.

“Mas-mas tenang saja, aman kok. Ini bisa dimaem sambil nyanyi-nyanyi.” Ucapnya sambil tersenyum, “cukup sediakan alat memasak saja, ya” Imbuhnya.

Kami, Dito dan saya, tak berani banyak bertanya. Saya hanya menyadari satu hal. Saya sedang tidak bermimpi, itu saja. Buktinya, saat saya mendekatkan nyala api rokok di dekat lengan Dito, dia berteriak kaget.

Menyadari kompor elpiji sedang ada masalah, Dito pun bergerak cepat. Dia wira-wiri memperbaiki kompor demi agar Intan bisa segera memasak. Ini momen pertama saya mengetahui bahwa Dito punya bakat dandan kompor, sekaligus punya kesiapan mengarungi bahtera dapur kehidupan.

Sambil menunggu Intan memasak, Dito menyanyikan lagu-lagu yang asing di telinga saya. Dia main gitar sendiri, kadang nyanyi sendiri. Saya hanya mendengarkan saja. Sesekali, karena penasaran, saya bertanya tentang lagu-lagu yang dia mainkan itu.

“Yang tadi itu Fur Elise, Mas. Gak nganggo lirik. Yang barusan, pas aku nyanyi kui judule The Time They are a Changing, Dylan.” Ucapnya sambil tetap fokus melihat grip gitar.

Intan datang membawa masakan dengan aroma yang tak asing. Lalu, dengan keberanian seorang lelaki melamar perempuan idaman, Dito dan saya pun mencoba masakan yang dibuat Intan dari kerikil dan daun kering tersebut. Baru kali ini saya mendengar Dito mengucap basmallah secara keras.

“Lho, kok enak ya?” Kata Dito, ” mirip emmm… tapi aku rasanya pernah memakannya.” Sambil telap-telep menyantap masakan Intan.

“Sampean ini ada-ada aja to, Mas. Emange pernah maem masakan ini ya?”, jawab Intan pada Dito, “aku lo baru uji coba.” Imbuhnya sambil tertawa.

” Lho, iya, ta. Semoga perutku baik-baik saja. Memang tadi yang mirip kerikil sama daun kering iku opo sih, Ntan? Tanya Dito.

“Iku adonan daging sama nori customize, Mas. Gurung pernah ngerti to?” Jawabnya sambil mengumpulkan sampah plastik untuk dibuang ke tempat sampah.

Dito dan saya pun lega. Intan terlihat menyembuyikan tawa, seperti berhasil mengerjai kami berdua.

Adzan magrib berkumandang. Kami bertiga membersihkan tempat seperti semula. Sebelum turun hujan, kami memutuskan pulang. Saya bersyukur dan berdoa, semoga kian peka membaca kebahagiaan yang sederhana.

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Sekolah Kehidupan (bagian 2): Keseimbangan Laku Sosial dan Giat Kapital

Next Post

Festival Geopark Bojonegoro 2019 Hadir di Wonocolo

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: