Shultonul Aulia Syekh Abdul Qodir Jaelani pernah diberi pertanyaan seorang pemabuk. Sebuah pertanyaan yang membuat beliau menangis tersungkur.
Syahdan, Syekh Abdul Qadir Jailani bersama santri-santrinya berpapasan seorang pemabuk yang sedang teler berat. Walau, kondisi mabuk berat, si pemabuk itu memberikan 3 pertanyaan pada Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
“Ya Syekh, apakah Allah SWT mampu mengubah pemabuk sepertiku menjadi ahli ta’at?
“Iya, mampu.”
“Apakah Allah SWT mampu mengubah ahli ma’siat sepertiku menjadi ahli ta’at setingkat dirimu?”
“Sangat mampu.”
“Apakah Allah SWT mampu mengubah dirimu menjadi ahli maksiat sepertiku?”
Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani langsung tersungkur dan menangis. Lalu, beliau bersujud pada Allah SWT.
Murid-murid Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan dan bertanya, “ada apa wahai Syekh?”
“Betul sekali pemabuk ini. Kapan saja Allah SWT mampu mengubah nasib seseorang, termasuk diriku. Siapa yang menjamin diriku bernasib baik meninggal dengan husnul khatimah,” ucap Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Sekelas Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang sangat masyhur kewaliannya saja begitu khawatir dengan dirinya dan tak pernah bangga dengan maqam kewaliannya, apalagi kita yang belum apa-apa. Tak ada alasan untuk berbangga diri dengan amal. Sebab, yang paling utama adalah fadhol dan rohmat Allah SWT.








