Sumber tertua menyebut Wayang adalah Prasasti Sangsang (907 M). Sebuah prasasti yang diyakini bercererita tentang Bengawan di Blora – Bojonegoro.
Selama sepuluh abad lebih Wayang berkembang di Istana Raja-raja Jawa dan Bali sampai ke daerah pedesaan. Wayang juga telah menyebar ke pulau-pulau lain di Nusantara (Lombok, Madura, Sumatra dan Kalimantan) dimana berbagai gaya pertunjukan lokal dan musik pengiring telah berkembang. Walaupun wayang ini bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan gaya, namun ada dua jenis wayang yang umum digunakan: Wayang kayu tiga dimensi (Wayang Klitik/Krucil atau Golèk) dan Wayang datar (wayang kulit) yang diproyeksikan berada di depan layer, sementara sinar lampu meneranginya belakang. Kedua tipe ini dicirikan oleh kostum, fitur wajah, dan bagian tubuh yang di beri artikulasi. Dalang-dalang memanipulasi putaran lengan dengan menggunakan tongkat ramping yang ditempelkan pada wayang.

Penyanyi dan pemusik memainkan melodi yang rumit pada instrumen perunggu dan gendang; Gamelan. Di masa lalu, Dalang dianggap sebagai ahli sastra ulung yang menularkan nilai moral dan estetika melalui karya seninya. Kata-kata dan tindakan tokoh jenaka yang mewakili “orang biasa” telah menjadi sarana untuk mengkritik isu-isu sosial dan politik yang paling sensitif, dan diyakini bahwa peran khusus “yang jenaka” ini agaknya berkontribusi besar terhadap kelangsungan hidup kesenian Wayang selama berabad-abad. Cerita Wayang meminjam karakter dari mitos asli Jawa, epos India, dan cerita-cerita kepahlawanan dari cerita Persia. Sedangkan Dalang ulung diharapkan mampu menghafal banyak sekali detail cerita dan melafalkan bagian-bagian narasi kuno dan lagu-lagu puitis dengan cara yang penuh wibawa atau jenaka, juga kreatif.
Tanggal 7 November diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Wayang Nasional. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang juga dikenal sebagai kolektor wayang, menyampaikan bahwa koleksi pribadinya kini berjumlah sekitar 7.500 wayang dan beberapa koleksi kaset pewayangan, yang telah terdaftar dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Namun koleksai terbesar Wayang di dunia kini berada di Yale University, Amerika Serikat, hasil hibah dari kolektor asal Jerman brenama Walter Angst, yang memiliki lebih dari 13.130 kotak wayang.
Bukan Prasasti Mantyasih seperti dugaan banyak orang, tetapi sumber tertua yang jelas menerangkan tentang Wayang adalah prasasti Sangsang, yang bertanggal 4 Mei 904 Masehi, yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung. Kemungkinan wilayah yang disebut pada prasasti ini berada di Bengawan, antara lain Blora dan Bojonegoro. Jika Wayang sudah ditetapkan menjadi “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity” oleh UNESCO, tetapi mengapa sumber tertua itu, Prasasti Sangsang, justru masih tersimpan di Amsterdam, Belanda?








